Pages

Wednesday, November 2, 2011

Ribuan Karyawan Pt Dong Young Tress Mogok Kerja

Rabu, 02 November 2011 | 07:48 WIB

http://www.jogjatv.tv/berita/02/11/2011/ribuan-karyawan-pt-dong-young-tress-mogok-kerja


Bantul, www.jogjatv.tv- Ribuan karyawan PT Dong Young Tress di kawasan industri Nganyang, Sitimulyo, Piyungan,  Bantul, Rabu pagi(2/11), melakukan aksi demonstrasi di depan pabrik. Mereka menuntut adanya jaminan sosial tenaga kerja  dan kontrak kerja yang jelas dari perusahaan yang selama ini belum diberikan.

Ribuan buruh PT Dong Young Tress memulai aksinya pada pukul 07.00 WIB saat jam masuk kerja.  Mereka tidak masuk ke tempat kerja, dan memilih bergerombol di depan pabrik sembari melakukan aksi diam. Aksi ribuan buruh ini mendapat dukungan dari warga sekitar pabrik yang ikut melakukan aksi dengan memblokade pintu gerbang pabrik.

Polisi yang datang ke lokasi kemudian berupaya  untuk melakukan mediasi, dan melakukan pertemuan dengan perwakilan perusahaan, warga serta perwakilan buruh, namun belum mendapatkan titik temu. Perusahaan baru akan memberikan jawaban atas tuntutan pekerja pada hari Senin mendatang(7/11).

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul, Didik Warsito yang ikut melakukan upaya mediasi mengaku belum bisa megambil sikap. Disnakertrans baru akan melakukan pengumpulan data dan keluhan yang disampaikan pekerja dan warga sekitar, serta melakukan kroscek dengan pihak perusahaan. Bila memang ditemukan unsur pelanggaran Undang Undang Ketenaga Kerjaan, maka Disnakertrans berjanji akan memberikan sanksi tegas kepada manajeman   PT Dong Young Tress.

Aksi yang berlangsung hingga pukul 09.00 WIB tersebut, sempat membuat macet  Jalan Pleret-Piyungan.

Thursday, July 7, 2011

Ekspor Wig dan Bulu Mata Palsu Purbalingga Meningkat

7 July 2011

Sumber: http://kotaperwira.com/ekspor-wig-dan-bulu-mata-palsu-purbalingga-meningkat#ixzz3ItdDeKAN


Purbalingga – Ekspor wig alias rambut palsu dan bulu mata palsu buatan sejumlah perusahaan di Kabupaten Purbalingga selama semester pertama 2011 mengalami peningkatan lima persen, kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Purbalingga, Saryono.

“Perkembangannya sangat bagus, setiap perusahaan rata-rata mengalami peningkatan permintaan sekitar lima persen dibanding tahun sebelumnya,” kata dia, di Purbalingga, Kamis.

Dalam hal ini, dia mencontohkan pengiriman wig dan bulu mata palsu dari perusahaan miliknya, PT Tiga Putra Abadi Perkasa Purbalingga.

Menurut dia, ekspor selama semester pertama 2011 rata-rata mencapai 6.000 pasang.

“Jumlah tersebut imbang antara wig dengan bulu mata palsu. Sebelumnya di bawah 6.000 pasang,” katanya.

Hingga akhir 2011, kata dia, wig dan bulu mata palsu buatan Purbalingga diperkirakan masih memiliki pasar menjanjikan di negara-negara benua Amerika dan Eropa.

Disinggung mengenai kemungkinan adanya rencana membuka peluang pasar di negara-negara Asia dan Timur Tengah, dia mengatakan, hingga saat ini pasar bulu mata palsu dan wig Purbalingga masih terkonsentrasi di Amerika dan Eropa.

“Kami belum berencana membuka pasar di negara-negara Asia dan Timur Tengah,” kata dia menegaskan.

Seperti diketahui, Purbalingga merupakan sentra industri rambut palsu nomor dua di dunia setelah Guangzhou, China.

Di Kabupaten Purbalingga terdapat puluhan industri rambut palsu dalam skala besar maupun kecil dan 18 diantaranya merupakan penanaman modal asing (PMA) dengan investor dari China dan Korea Selatan.

Pada 2008-2009, ekspor rambut palsu dari Purbalingga sempat mengalami penurunan hingga 25 persen akibat pengaruh krisis finansial di Amerika Serikat.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Purbalingga, total nilai ekspor dari kabupaten ini ke Amerika Serikat dalam kondisi normal sekitar Rp3,841 miliar per bulan, berupa rambut palsu, bulu mata, dan manequin sebanyak 919.404 set.





Monday, June 20, 2011

4.000 Buruh Mogok, Tuntut Kesejahteraan

Senin, 20 Juni 2011 | 11:12 WIB

http://internasional.kompas.com/read/2011/06/20/11123612/4.000.Buruh.Mogok.Tuntut.Kesejahteraan


KULONPROGO, KOMPAS.com –

Sekitar 4.000 buruh PT Sung Chang Indonbesia (SCI) Kulonprogo, DI Yogyakarta melakukan aksi mogok kerja, Senin (20/6/2011). Mereka menggelar aksi demo menuntut perbaikan kesejahteraan atas nasib mereka.

Ribuan buruh pabrik yang memproduksi rambut palsu (wig) ini, pada awalnya hanya melakukan aksi di seputaran pabrik. Tidak ada satupun buruh yang masuk untuk bekerja. Mereka juga menggelar orasi menuntut managemen memenuhi tuntutan yang diajukan sebelumnya.

Setelah itu, para buruh melanjutkan aksinya dengan longmarchmenuju ke Kantor Dinsosnakertrans. Mereka lalu melakukan orasi di depan kantor hingga menyebabkan ruas jalan macet total.

Aksi buruh ini adalah aksi kedua mereka. Sebelumnya para buruh melakukan hal yang sama pada Kamis (16/6/2011). "Kita tidak ingin ditindas, kami butuh kesejahteraan," ujar Yanti salah satu buruh.

Aksi kali ini juga mendapatkan dukungan dari Federasi Serikat Buruh independen Yogyakarta. Di antara tuntutan buruh ini, adalah perbaikan gaji sesuai UMR, jam kerja diperhatikan, lembur harus dihitung, cuti dan tunjangan karyawan.

Wednesday, June 2, 2010

Ribuan Karyawan Bekerja di Ruang Pengap

02 Juni 2010

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/06/02/111453/Ribuan-Karyawan-
Bekerja-di-Ruang-Pengap


Kasus PT SCI

KULONPROGO-Kisruh antara Manajer PT Sung Chang Lee Hyun (SCI) dan Komisi IV DPRD Kulonprogo dan jajaran Dinsosnakertrans terus berlanjut. Dari hasil sidak bersama kemarin terungkap berbagai kasus dugaan pelanggaran hukum terkait ketenagakerjaan di PT SCI.

Beberapa buruh perempuan yang berstatus belum karyawan tetap mengakui, bekerja dalam keadaan terkekang. Selain fasilitas kesehatan yang kurang, juga harus bekerja di ruang pengap akibat ketidakseimbangan antara besar gedung dan jumlah pekerja. Apalagi ruang kerja mereka minim ventilasi. Imbasnya, dua karyawan perempuan pernah pingsan saat bekerja.

Mereka pingsan akibat bekerja sambil berdiri di ruang yang kurang sirkulasi udara segar. Hal semacam itu diterapkan pada ratusan karyawan baru lain yang berstatus magang.

Jaminan cuti hamil antara karyawan tetap dan tidak tetap terkuak di hadapan Manajer PT SCI Lee Hyun dan anggota Komisi IV. Karyawan tetap mendapat cuti hamil selama tiga bulan dan uang tunjangan, sedangkan karyawan tidak tetap tidak mendapat tunjangan. ”Kalau ada karyawan tidak tetap cuti hamil, saya tidak tahu. Kecuali dia bekerja kembali dan memberitahukan kepada perusahaan,” ujar Lee Hyun.

Kecurigaan lain dinyatakan Nur Eni Rahayu, anggota Komisi IV. Dia menjelaskan, Lee Hyun saat dipanggil ke Dewan beberapa waktu lalu mengatakan ada 15 karyawan tetap di PT SCI.

Namun orang Korea tersebut sekarang mengaku mempunyai 55 karyawan tetap dari 1.900 lebih buruh di pabrik wik itu.


Minta Maaf

Terkait kasus pengusiran anggota Komisi IV dan Pemkab Kulonprogo,  kemarin Presiden Direktur PT SCI Kim Young Youl meminta maaf kepada publik, khususnya masyarakat Wates. Melalui surat bernomor 456/SCI-INTS/YK/VII/2010 itu, dia menjelaskan permohonan maaf akan dilayangkan kepada Ketua Komisi IV, Kadinsosnakertrans, dan  wartawan media cetak.

Dalam konferensi pers di ruang tamu pabrik wik itu, Manajer PT SCI Lee Hyun membacakan isi surat itu.

”Setelah berintrospeksi, kami sebagai Presiden Direktor memohon maaf atas sikap manajer kami yang kurang sopan saat menanggapi sidak DPRD Kulonprogo,” ucap Lee Hyun.

Soal evaluasi menyeluruh sekaligus menanggapi pemanggilan Dewan lagi, Lee Hyun mengaku siap untuk dipanggil kembali oleh Dewan. Sementara itu, Kabag Personalia Agung Nugroho menambahkan,  akan segera membuat organisasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Cabang Kulonprogo. Pemilihan ketua secara voting kepada seluruh karyawan PT SCI akan digelar dalam bulan Juni ini. (yud-66)

Tuesday, February 24, 2009

Industri Rambut Palsu Lakukan Efisiensi

24/02/2009

https://tekno.kompas.com/read/2009/02/24/03373531/industri.rambut.palsu.lakukan.efisiensi.


PURBALINGGA,RABU-Krisis keuangan global mulai berdampak terhadap industri rambut palsu atau wig dan bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Hingga saat ini sebagian besar industri ini belum mendapat kontrak baru ekspor dari pembeli di luar negeri.

Padahal, bulan Maret ini sebagian besar kontrak lama sudah berakhir. Mereka pun mulai berancang-ancang mengambil langkah efisiensi.

”Sekarang masa yang sangat prihatin bagi kami. Belum ada industri yang mendapat kontrak baru, padahal Maret ini kontrak sudah selesai,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Purbalingga Saryono, Senin (23/2) di Purbalingga.

Di Purbalingga terdapat 18 industri wig dan bulu mata palsu yang sebagian besar berstatus penanaman modal asing. Belasan industri tersebut mempekerjakan sekitar 25.000 karyawan. Selain itu, juga terdapat sekitar 250 industri yang sama untuk skala menengah, kecil, dan rumah tangga di daerah ini.

Secara total, jumlah tenaga kerja yang diserap subsektor industri wig dan bulu mata palsu sebanyak 60.000 orang. Menurut Saryono, kondisi yang paling memprihatinkan dialami oleh industri wig. Pasalnya, selain belum ada kontrak baru, permintaan pasar untuk produk ini terus menurun.

”Wig itu bukan produk habis pakai. Dalam kondisi krisis seperti sekarang, konsumen membatasi pembelian dan memanfaatkan wig yang lama. Berbeda dengan produk bulu mata yang habis pakai. Jadi, permintaan cenderung tetap,” papar dia.

AS tujuan utama ekspor Bila tak ada kontrak baru dari pembeli di luar negeri, hal tersebut akan membuat industri wig dan bulu mata palsu di Purbalingga dalam kesulitan besar. Sebab, tujuan utama penjualan produk mereka selama ini adalah luar negeri, terutama Amerika Serikat.

Saryono mengatakan, sampai saat ini belum ada rencana pemutusan hubungan kerja besar- besaran di industri wig dan bulu mata palsu di Purbalingga ini. Namun, dia memastikan langkah efisiensi mau tidak mau tetap harus diambil untuk menyelamatkan perusahaan.

”Meskipun ada efisiensi, kami tetap berharap tak ada PHK atau merumahkan karyawan. Kami akan mencari jalan lain,” kata Saryono. Cari peluang lain Kepala Bagian Perekonomian Pemerintah Kabupaten Purbalingga Mukodam mengatakan, untuk mengatasi masalah pasar ekspor di tengah krisis finansial global saat ini, industri wig dan bulu mata palsu di Purbalingga harus dapat mencari peluang ekspor di kawasan lain selain Amerika Serikat.

Selama ini, sebagian besar ekspor ditujukan ke Negeri Paman Sam yang kini mengalami dampak terparah akibat krisis. ”Pasar di kawasan lain, seperti Jepang, Korea Selatan, China, atau negara-negara Timur Tengah perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujarnya.


Thursday, January 29, 2009

Industri Rambut Palsu di Purbalingga Kritis

29/01/2009

https://travel.kompas.com/read/2009/01/29/19464521/industri.rambut.palsu.di.purbalingga.kritis.


Bulan Maret nanti sebagian besar industri rambut dan bulu mata palsu di Purbalingga, Jawa Tengah, diperkirakan akan memasuki masa kritis. Pasalnya, kontrak dengan pembeli di luar negeri selesai pada bulan tersebut, sementara kontrak baru belum ada kejelasan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Purbalingga, Saryono, Kamis (29/1), mengungkapkan, habisnya masa kontrak pada bulan Maret tersebut menimbulkan kekhawatiran pelaku usaha rambut dan bulu mata palsu di Purbalingga.

Sebab, kondisi perekonomian global saat ini masih sulit, terutama di Amerika dan Eropa sehingga sulit mendapatkan pembeli baru. Padahal, dua kawasan itu adalah tujuan utama ekspor wig dan bulu mata palsu dari Purbalingga. "Kami tidak tahu apakah setelah kontrak selesai bulan Maret nanti akan ada perpanjangan lagi. Saat ini Amerika Serikat masih krisis," ujar Saryono.

Saat ini yang bisa dilakukan perusahaan-perusahaan rambut di Purbalingga adalah melobi pembeli dari luar negeri agar bersedia melanjutkan kontrak. Namun, hal tersebut diperkirakan sulit di tengah situasi global seperti sekarang ini. Industri yang paling terkena dampak dari selesainya kontrak adalah industri wig.

Sebab, produk wig adalah barang yang tak habis pakai. Di tengah situasi sulit seperti ini, konsumen biasanya cenderung berhemat dengan mengurangi pembelian wig baru. Hal itu berbeda dengan produk bulu mata palsu yang sekali pakai.

Di Purbalingga terdapat 18 perusahaan wig dan bulu mata palsu berskala besar. Umumnya mereka adalah perusahaan penanaman modal asing (PMA). Mereka memperkerjakan sekitar 28.000 orang. Di samping perusahaan PMA, di Purbalingga juga terdapat lebig dari 200 perusahaan wig dan bulu mata palsu skala menengah dan rumah tangga.

Secara total, industri wig dan bulu mata palsu di Purbalingga mampu menyerap sekitar 50.000 tenaga kerja. Saryono mengatakan, hingga saat ini belum ada tanda-tanda pemutusan hubungan kerja (PHK) menjelang masa selesainya kontrak ekspor di industri wig dan bulu mata palsu di Purbalingga.

"Semoga tidak sampai ada PHK," tandas dia. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Purbalingga Bambang Dwi mengatakan, industri rambut dan bulu mata palsu merupakan industri yang paling besar di Purbalingga. Hampir semuanya berorientasi ekspor.

Namun, sebagian besar kegiatan ekspornya masih tergantung kepada perusahaan dagang di luar Purbalingga, terutama usaha skala kecil dan menengah. "Ke depan kami ingin industri di Purbalingga mampu menjual dan memasarkan sendiri produknya dengan pembeli di luar negeri. Inilah pentingnya ada trading house," ungkap dia.

Sunday, July 13, 2008

Purbalingga Sentra Rambut Palsu Kedua di Dunia Kompas.com -

13/07/2008

https://news.kompas.com/read/2008/07/13/19244448/purbalingga.sentra.rambut.palsu.kedua.di.dunia.


Kabupaten Purbalingga mulai tahun 2008 ini memantapkan diri sebagai sentra pembuatan rambut dan bulu mata palsu kedua di dunia, setelah Gwangju, Korea Selatan. Purbalingga kini memiliki 18 industri pembuatan rambut dan bulu palsu yang semuanya berasal dari modal asing, dan telah menyerap 30.000 tenaga kerja.

Keyakinan itu, menurut Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko, muncul saat dirinya sepekan lalu diundang oleh para pengusaha Korea Selatan mengunjungi sejumlah industri pembuatan rambut palsu di Korea Selatan.

"Dari hasil kunjungan itu, saya meyakini industri rambut palsu Purbalingga merupakan industri ramput palsu nomor satu di Indonesia, sekaligus sebagai yang ke dua di dunia setelah Gwangju," katanya, Sabtu (12/7).

Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Purbalingga menarik minat para pemodal asing dari industri rambut palsu itu, menurutnya, bisa dijadikan citra tersendiri bagi Purbalingga yang selama ini dikenal hanya sebagai salah satu kota kecil di Jawa Tengah.

"Image atau citra sebagai kota rambut palsu, paling tidak akan menjadi ikon tersendiri bagi kota kecil seperti Purbalingga ini," lanjutnya. Dari sisi pendapatan, Bupati Purbalingga mengakui, keberadaan 18 penanam modal asing itu nyaris tak memberikan kontribusi apa pun bagi Purbalingga, selain hanya pajak bumi bangunan.

Selebihnya untuk pajak ekspor dari setiap produk yang diekspor ke luar negeri, lebih dinikmati oleh pemerintah pusat. Namun 18 PMA itu, katanya, dapat memberikan jalan keluar dari kemelut pengangguran yang dialami Purbalingga selama ini. Karena itu kami tetap mendukung penanaman modal asing yang dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

"Contohnya seperti sekarang ini, sudah 30.000 orang terserap dalam industri pembuatan rambut palsu ini," katanya. Kepala Bagian Humas Pemkab Purbalingga Djoko Triwinarso mengatakan, selain 18 PMA asal Korea Selatan yang bergerak di bidang usaha pembuatan rambut palsu, Purbalingga juga memiliki satu PMA lagi asal Jepang yang bergerak di bidang usaha pembuatan peralatan makan dari kayu.

Dari 19 PMA tersebut, lanjutnya, telah meningkatkan nilai investasi asing di Purbalingga selama tahun 2007 kemarin, yakni naik hingga Rp 39 miliar atau naik sekitar 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selama tahun 2002 hingga 2007 saja, Pemkab Purbalingga menyetujui tujuh proyek PMA dengan nilai 6.830 juta dollar AS, dan kini dapat menyerap tenaga kerja hingga 3.726 orang.

Bersamaan dengan itu, Purbalingga juga mer ealisasikan tujuh proyek PMA lainnya senilai 7.725 juta dollar AS dan telah menyerap tenaga kerja sebanyak 3.433 orang. "Hampir dari setiap proyek asing itu, rata-rata dapat menyerap 575 orang tenaga kerja. Jumlah itu jauh di atas rata-rata penyerapan tenaga kerja di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, maupun DKI Jakarta," katanya menjelaskan.