Selasa, 12 Maret 2019 20:47
https://jateng.tribunnews.com/2019/03/12/karangbanjar-purbalingga-jadi-pusatnya-pengrajin-rambut-palsu-wig-sudah-mampu-tembus-pasar-ekspor?page=all.
TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Rambut palsu atau wig sudah menjadi bagian dari gaya hidup sebaguian masyarakat modern yang begitu memerhatikan mode.
Tetapi siapa sangka, produk yang dipakai masyarakat internasional untuk meningkatkan kepercayaan diri itu dibuat tangan-tangan terampil perempuan desa di Purbalingga.
Desa Karangbanjar Kecamatan Bojongsari Purbalingga bisa dikatakan gudangnya industri kerajinan wig.
Rambut palsu bahkan sudah menjadi ikon desa ini karena sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai pengrajin wig.
Industri ini bahkan sudah ada sejak puluh tahun silam. Beragam produk rambut palsu tersedia di desa ini, mulai pemrosesan bahan baku hingga produksi rambut palsu.
Industri rambut palsu ini juga jadi kebanggaan Kabupaten Purbalingga karena produknya yang sudah menembus mancanegara.
Kemajuan industri rambut palsu di Purbalingga, khususnya di Desa Karangbanjar ini bahkan dikagumi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat mengunjungi stan rambut palsu Desa Wisata Karangbanjar pada Musrenbangwil Expo Tahun 2019 Eks Karesidenan Banyumas, Selasa (12/3).
“Rambut palsu atau wig-wig ini ternyata sudah ekspor, ini adalah produk yang luar biasa bahkan ini juga home industry,” kata Ganjar.
Ganjar pun berharap, keberadaaan Bandara Jendral Besar Soedirman di Purbalingga nantinya bisa membuat industri rambut di Purbalingga semakin dikenal dan menciptakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar.
Para pelaku industri, khususnya dari Desa Karangbanjar pun bisa memanfaatkan keberadaan bandara itu untuk memperluas pemasaran produknya agar lebih mendunia.
Koordinator Pokdarwis Desa Karangbanjar, Basis mengatakan, produk rambut palsu memang menjadi unggulan masyarakat Desa Karangbanjar.
Kualitasnya diklaim tidak jauh berbeda dengan rambut palsu yang diproduksi oleh PT.
Menariknya, industri rambut Desa Karangbanjar ini berbentuk home industri sehingga bisa memberdayakan masyarakat desa setempat. Ini sekaligus menjadi kelebihan lantaran penyerapan tenaga kerja lokal menjadi lebih maksimal.
“Keunggulan kita kan di kewirausahaan kalau di tempat lain dilembagakan menjadi PT. Keunggulan kita di pemberdayaan masyarakatnya karena yang mengelola semua ini masyarakat desa,” jelas Basis.
Untuk proses pemasaran, para pelaku industri di desa ini tidak hanya secara offline, tetapi juga memanfatakan media online termasuk media sosial.
Tidak sulit menemukan pengrajin wig di desa ini karena di masing-masing dusun berada. Meski pelaku industri banyak, masing-masing memiliki ciri usaha yang membedakan dengan yang lain, semisal soal variasi produk.
"Jadi kalau sudah memproduksi wig berarti dia gak memproduksi hair clip, kalau dia produksi hair clip dia gak memproduksi aksesoris,” ujarnya.
Di sisi lain, para pelaku industri wig di desa ini masih terkedala ketersediaan dan penyerapan bahan baku. Karena bahan baku yang digunakan adalah rambut manusia, kendalanya adalah pengumpulannya.
Ia pun berharap Desa Karangbanjar yang berhasil mengembangkan industri wig bisa menularkan virus kewirausahaan ke masyarakat luas.
“Kendala-kendala itu semoga bisa teratasi dan bisa masuk pasar global,” katanya.(*)
No comments:
Post a Comment