Pages

Showing posts with label Bulu Mata. Show all posts
Showing posts with label Bulu Mata. Show all posts

Thursday, August 6, 2020

Purbalingga

Purbalingga: Ditinggal Merantau Ngangenin, Ditinggali Nggak Menghasilkan Apa-apa

FADLIR RAHMAN
6 AGUSTUS 2020

Menjadi bagian penduduk di sebuah kabupaten kecil dan tidak terkenal seperti Purbalingga, terkadang menyusahkan juga. Akibat logat ngapak kami, hal yang paling sering ditanyakan pertama (jika sedang di luar kota) adalah ini: “Njenengan logatnya ngapak, asli mana, Mas?”

Untuk menjawab pertanyaan itu memanglah mudah. Tapi seringkali jika dijawab dengan jujur akan menimbulkan pertanyaan lanjutan. Mau buktinya? Nih, kuberi tahu jika pertanyaan mudah itu saya jawab apa adanya.

“Aku asal Purbalingga, Mas. Lah njenengan, si?”

Harusnya pertanyaan itu selesai dengan, “Oooh, kalau aku asli sini aja.” tapi nyatanya tidak demikian.

“Loh Purbalinggga, kok ngapak? Kan Jawa Timur?”

Saya pun harus menjelaskan jika yang di Jawa Timur itu Probolinggo, kalau Purbalingga itu Jawa Tengah. Probolingo itu dekat laut, Purbalingga dekat gunung. Probolinggo didominasi huruf vokal “o”, Purbalingga dengan huruf vokal “a”. Jelas sekali, toh, perbedaannya?

Meskipun sekarang sudah banyak yang tahu, sih, berkat bupati kami yang korupsi kemudian berpose metal saat dipotret wartawan. Tahu kan?

Itulah mengapa saya malas kalau menjawab pertanyaan itu dengan jujur. Saya mending menjawab berasal dari Purwokerto saja. Orang akan langsung paham dan lanjut ke pertanyaan lainnya dalam basa-basi.

Dan saya yakin banyak orang Purbalingga yang mengalami hal demikian. Padahal orang Purbalingga tapi ngakunya Purwokerto.

Kota tetangga kami, Purwokerto, memang lebih terkenal. Salah satunya karena memiliki beberapa universitas. Dan yang paling ternama tentu Universitas Jenderal Soedirman.

Hal tersebut berakibat pada munculnya pusat perbelanjaan sekelas supermall dan mengundang banyak perhatian investor di berbagai bidang untuk melebarkan sayap waralabanya.

Adanya kampus, berefek juga pada bisnis lebih kecil yang menguntungkan penduduk setempat, seperti indekos, rumah makan, dan UMKM lain. Daya serap pasar dari mahasiswa/pendatang yang berasal dari daerah lain mendatangkan keuntungan sendiri. Apalagi pada produk khas lokal.

Kesulitan lain jadi warga Purbalingga yaitu meskipun sekarang sudah ada kampus juga di sini, namun tidak membawa pengaruh besar seperti di Purwokerto. Khususnya pada sektor ekonomi masyarakat, karena sekarang masih didominasi oleh buruh pabrik. Mulai dari pabrik rambut dan alis palsu hingga pabrik kayu lapis. Yang perusahaannya berjejer dan membuat Purbalingga menjadi salah satu kawasan industri di Jawa Tengah.

Meskipun sebagai kawasan industri yang terus berkembang, bukan berarti juga diikuti dengan perkembangan ekonomi seperti UMKM. Kecenderungan masyarakat yang memilih menjadi karyawan pabrik adalah  penyebabnya, di samping daya serap pasar yang kurang. Ya, daripada bikin usaha yang penghasilan belum jelas, mending di pabrik dapet gajian. Memang, sih, UMR kota ini mendekati dua juta rupiah terbilang cukup besar untuk skala hidup di sini.

Memilih menjadi karyawan pabrik mungkin hanya itulah pilihan paling logis yang bisa diakses. Pasalnya jika mau menjadi bagian dari suatu instansi/dinas daerah, kesempatannya begitu kecil. Hal ini saya kira ada kaitannya dengan privelese sosial.

Di daerah yang kecil ini, power yang besar hanya dimiliki segelintir orang yang biasa kami sebut “Penggede Purbalingga”. Power yang mampu melakukan praktik “masuk pakai orang dalem”.

Dan akses terhadap power tersebut, hanya bisa didapatkan oleh orang terdekat beliau-beliau. Sudah menjadi rahasia umum bahwa “masuk pakai orang dalem” sangat berlaku di sini.

Mungkin istilah yang tepat adalah krisis transparansi–untuk tidak menyebut nepotisme. Maka dari itu, kami ini kaum-kaum penginyongan yang lahir dari kelas sosial biasa, tidak bisa berbuat banyak.

Dari kesulitan identitas, ekonomi, hingga transparansi, bukan berarti kami tidak bisa bertahan hidup. Justru semakin tangguh, alih-alih cuma mengeluh. Daya juang pun semakin besar.

Ada kedamaian tersendiri hidup di sini. Di daerah kecil ini, mendapatkan kenalan atau teman baru begitu mudah, apalagi bagi muda-mudinya. Tanpa terduga, pasti ada saja penghubungnya. Entah karena lingkar pertemanan lain, pekerjaan, bahkan lingkar alumni suatu sekolah mampu menyatukan.

Kami jarang kesepian. Gampangnya, tinggal keluar rumah, pasti nanti di jalan ketemu orang yang kita kenal. Wong di luar kota saja ketemunya orang Purbalingga. Neng ndi bae, maning-maning ketemune wonge dewek. Di mana pun lagi-lagi ketemunya orang sendiri.

Secara geografis, Purbalingga sebenarnya hampir seperti Yogyakarta. Jika di utara Yogya ada Gunung Merapi, di sini ada Gunung Slamet. Hal tersebut menyebabkan Purbalingga memiliki tempat wisata yang banyak dan beragam. Jadinya nggak perlu bingung saat merasa suntuk di rumah. Dengan udara sejuk pegunungan, membuat nongkrong semakin nyaman.

Selain kedamaian seperti itu, ada juga yang lainnya. Beberapa tahun lalu, Cak Nun pernah diundang untuk acara sinau bareng di Purbalingga. Beliau mengatakan yang kira-kira begini, “Kalian beruntung tinggal di sini, soalnya Purbalingga tidak dilalui jalur kapitalis nasional.”

Saya kurang begitu paham dengan jalur kapitalis nasional yang dimaksud beliau. Mungkin karena jika dilihat di peta atau google maps, kota ini memang tidak dilewati oleh jalur yang menghubungkan kota-kota besar. Jakarta-Semarang lewat pantura, Jakarta-Yogya lewat jalur selatan. Ada, sih, jalur provinsi, tapi itu pun jalur alternatif.  Keuntungan dari letak geografis seperti itu yang saya rasakan, paling tidak pernah mengalami macet, lah.

Sebenarnya ada juga keresahan namun sekaligus kemudahan yang dirasakan warga Purbalingga. Yaitu dari bisnis knalpot. Purbalingga memang dikenal dengan kota knalpot, karena banyak produsen knalpot di sini.

Keresahan dari hal tersebut adalah banyak kendaraan terutama sepeda motor yang knalpotnya diganti dengan knalpot buatan karena murah harganya. Bunyinya itu, loh, yang nggak ramah di telinga. Jika sedang nongkrong di angkringan  atau tempat lain di pinggir jalan, minimal 15 menit sekali pembicaraan harus terpotong untuk mempersilakan berisik knapot itu lewat dan menghilang.

Tapi hal tersebut sudah menjadi maklum. Pasalnya dari knalpot produk lokal juga, ekonomi masyarakat ikut terangkat. Selain sumber daya manusia teserap untuk pengrajin knalpot, ada juga yang terbantu dengan ikut menjadi reseller online produk ini. Bahkan produknya bukan hanya laku di pasar nasional, melainkan hingga mancanegara.

Hidup di mana pun memang tetap ada kesulitan dan kemudahan. Beberapa ada yang bertahan dengan segala konsekuensinya. Beberapa lagi memilih untuk merantau dengan harapan mendapat kualitas hidup yang lebih baik. Apapun pilihannya, Purbalingga adalah tempat kembali kami yang terbaik.

Kami sering berujar begini: Purbalingga, detinggal ngrantau ngangeni nek ditunggoni ora kasil apa-apa.


Sumber :
https://mojok.co/terminal/purbalingga-ditinggal-merantau-ngangenin-ditinggali-nggak-menghasilkan-apa-apa/

Friday, October 11, 2019

Kemendag soal Industri Bulu Mata Purbalingga PHK 600 Pekerja: Nanti, Saya Lihat Dulu

Jumat, 11 Oktober 2019 19:05

https://www.merdeka.com/uang/kemendag-soal-industri-bulu-mata-purbalingga-phk-600-pekerja-nanti-saya-lihat-dulu.html


Merdeka.com - Produsen bulu mata palsu asal Korea Selatan (Korsel) di Purbalingga menghadapi persaingan sengit dari China. Ekspor bulu mata palsu Purbalingga kian berkurang. Imbasnya pemutusan hubungan kerja (PHK) telah terjadi, di mana 600 pekerja salah satu pabrik kehilangan pekerjaannya.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Indrasari Wisnu Wardhana mengaku belum dapat berkomentar banyak.

"Nanti dulu. Saya lihat dulu dong. Industrinya apa kayak bagaimana," kata dia saat ditemui di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (11/10).

Dia mengatakan perlu melihat lebih jauh terkait berita tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan apa saja penyebab turunnya kinerja bisnis perusahaan. "Kan nggak bisa lihat kalah karena apa kan kalau saya nggak tahu industrinya bagaimana," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, produsen bulu mata palsu asal Korea Selatan (Korsel) di Purbalingga menghadapi persaingan sengit dari China. Ekspor bulu mata palsu Purbalingga kian berkurang. Imbasnya pemutusan hubungan kerja (PHK) telah terjadi, di mana 600 pekerja salah satu pabrik kehilangan pekerjaannya.

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, mengatakan produksi bulu mata di China lebih banyak. Di mana, produktivitas tenaga kerja China 9 kali lebih tinggi dari Purbalingga.

Dampak tak terelakkan, di tengah situasi pasar yang melemah, perusahaan mau tidak mau harus mengurangi karyawan agar usahanya tetap berjalan. Hal ini disampaikan usai kunjungannya ke PT Indokores Sahabat, PT Hyup Sung, PT Sun Chang Indonesia, ketiganya merupakan perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) dari Korea Selatan. Serta satu perusahaan pabrik rambut Bintang Mas Triyasa (BMT) yang merupakan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri).

"Beberapa perusahaan PMA bahkan sudah mulai melirik usaha di luar negeri seperti Kamboja, dengan situasi yang kondusif dan upah serta produktivitas tenaga kerjanya lebih baik," ujarnya saat mengunjungi sejumlah pabrik rambut di Purbalingga, Kamis (10/10).

"Kami berharap semua pihak untuk ikut situasi agar lebih baik, dan permintaan kembali pulih. Jika ada permasalahan, diselesaikan dengan baik dan musyawarah sesuai ketentuan regulasi ketenagakerjaan," tambahnya.

Perusahaan Alami Stagnasi

Pemilik PT Indokores Sahabat, Hyung Don Kim, mengakui perusahaan tengah alami stagnasi kinerja. Jika pasaran lesu, dia memprediksi perusahaan hanya bisa bertahan 5-10 tahun. Kim menambahkan, kompetitor bulu mata palsu yang bersaing ketat dari Purbalingga yakni dari China.

"Dari sisi bahan baku, kami mengandalkan dari India dan China. Bahan baku rambut sintetis dari Indonesia kualitasnya kurang bagus, bahkan banyak dicampur bahan lain. Ada juga bahan baku rambut sintetis yang sambungan," kata Kim.

Sementara, pemilik PT Hyup Sung Indonesia, Song Hyung Keun mengakui, produksi bulu mata palsu di perusahaannya menurun tajam seiring dengan permintaan pasar yang menurun karena bersaing dengan China. Biasanya rata-rata produksi per bulan 1,3 juta buah, namun saat ini menurun hingga 30 persen.

Dari sisi harga, bulu mata palsu China juga lebih murah. Sedang sisi kualitas juga sudah menyerupai produk rambut Purbalingga yang dikerjakan secara manual.

"Mau tidak mau, kami harus mengurangi jumlah karyawan dari 1.900 orang menjadi 1.300 orang. Oleh karenanya, kami mengistilahkan, untuk menyelamatkan perusahaan harus memotong ekornya dulu, daripada badannya ikut termakan. Caranya dengan mengurangi karyawan dan meningkatkan produktivitas pekerja (bulu mata palsu) serta inovasi produk," kata Song.

Friday, March 22, 2019

Wig dan Bulu Mata Palsu Buatan Indonesia Laku di Italia

- 22 Maret 2019, 22:07 WIB


BOLOGNA,- (PR), Bulu mata palsu dan wig produk Indonesia menjadi primadona dalam pameran kosmetik Cosmoprof yang dilaksanakan di Bologna, Italia, 14-18 Maret 2019 lalu.

Atase Perdagangan KBRI Roma, Sumber Sinabutar kepada kontributor Pikiran Rakyat, Rieska Wulandari di Milan menjelaskan bahwa berdasarkan pengamatan selama beberapa kali mengikuti pameran Cosmoprof, stand Indonesia yang umumnya memamerkan produk bulu mata dan rambut palsu selalu ramai dikunjungi pengunjung. Pengunjung umumnya tertarik dengan bulu mata dan rambut palsu Indonesia karena terbuat dari rambut asli manusia.

Pengunjung menyampaikan kekagumannya terhadap kualitas produk bulu mata dan rambut palsu Indonesia, yang tidak dimiliki oleh pesaing dari negara lain. Produk buatan negara lain umumnya menggunakan bahan sintetis maupun bulu hewan. Pada pameran kali ini, Indonesia menghadirkan lima perusahaan bulu mata dan rambut palsu.

Sumber Sinabutar juga mengatakan, selama kegiatan pameran ini, lima perusahaan Indonesia yang ikut pameran Cosmoprof berhasil mencapai potensi penjualan sebesar USD 9.9775.000. Pencapaian tersebut menurutnya meningkat 19,12 % dibandingkan dengan pencapaian tahun 2018 yaitu sebesar USD 8.374.000.

Dijelaskan juga bahwa peningkatan pencapaian tersebut tidak terlepas dari kehadiran Indonesia yang secara terus menerus pada pameran Cosmoprof ini. Kehadiran Indonesia yang secara terus menerus ini telah membantu para peserta Indonesia untuk bertemu kembali dengan calon pembeli yang hadir pada tahun sebelumnya. Pertemuan lanjutan ini akan menghasilkan pengakuan terhadap bonafiditas perusahaan Indonesia tersebut dan akan menghasilkan potensi transaksi pembelian


Sumber :
https://www.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-01308750/wig-dan-bulu-mata-palsu-buatan-indonesia-laku-di-italia

Thursday, March 21, 2019

Bulu Mata dan Rambut Palsu Buatan Indonesia Laris Manis di Italia

21 Mar 2019, 14:20 WIB

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3922547/bulu-mata-dan-rambut-palsu-buatan-indonesia-laris-manis-di-italia


Liputan6.com, Jakarta - Bulu mata palsu dan wig produksi Indonesia menjadi primadona pada Pameran Produk Kosmetik dan Kecantikan Cosmoprof yang diadakan di Kota Bologna, Italia, dari 14-18 Maret lalu.

Pengunjung pameran dengan antusias dan menyampaikan kekagumannya terhadap kualitas produk bulu mata dan rambut palsu produksi Purbalingga, Jawa Tengah. Duta Besar di Roma, Esti Andayani yang turut hadir dalam pameran ini menyampaikan bahwa partisipasi Indonesia dalam Cosmoprof adalah dalam upaya memperluas akses pasar UKM dalam rangka pengembangan usaha dan penetrasi pasar global.

Dalam pertemuannya dengan President of Bologna Fiere, Gianpiero Calzolari, dia mengharapkan pameran seperti ini dapat diselenggarakan di Indonesia karena Indonesia memiliki nilai strategis dengan daya tarik potensi pasar yang besar, serta daya beli masyarakat kelas menengah yang kuat khususnya untuk produk kecantikan.

KBRI Roma dan ITPC Milan mendukung partisipasi lima perusahaan bulu mata dan rambut palsu Indonesia yaitu PT Bio Takara, CV Mitra Jaya Mandiri, PT Stellaris International, CV Indobeauty Cemerlang dan Shim Internasional.

Menurut Atase Perdagangan KBRI Roma, dikutip Antara, selama empat hari kegiatan pameran, tercatat potensi penjualan senilai USD 9,97 juta atau Rp 140 miliar (Kurs USD 1 = Rp 14.115), angka ini meningkat sebesar 19,12 persen dibandingkan dengan pencapaian 2018 senilai USD 8,37 juta atau Rp 118,1 miliar.

Pencapaian tersebut tidak terlepas dari kehadiran dan partisipasi Indonesia secara konsisten dalam pameran Cosmoprof untuk memelihara komunikasi dan hubungan bisnis dengan para buyers dari tahun ke tahun. Kesinambungan ini juga menghasilkan pengakuan terhadap bonafiditas perusahaan Indonesia dan potensi transaksi pembelian yang cukup besar.

Kebangkrutan. Ini yang membuka jalan Okvina Nur Alvita menggeluti bisnis bulu mata. Tepatnya pada Maret 2017, ibu rumah tangga ini memberanikan diri memulai bisnis bulu mata bersama sang suami usai mengalami gulung tikar dari usaha sebelumnya.

Kebiasaan Vina berdandan juga ikut menjadi pemberi ide bisnis bagi dirinya dan suami. "Suamiku pernah melihat ada mbak-mbak di Jakarta pernah kerja jadi perajin bulu mata dan dia banyak tanya soal bulu mata dan aku juga suka make up. Dia melihat jika wanita hanya memakai bulu mata satu sampai 3 kali dibuang. Kemudian make up artis kalau pakai bulu mata berlapis-lapis. Lalu kami melihat ada peluang kami nekat jualan," jelas dia kepada Liputan6.com.

Saat itu, Vina mengaku berjualan bulu mata hanya untuk menyambung hidup. Perlahan, dia mulai menjual bulu mata melalui akun media sosial dan marketplace salah satunya Shopee.

Lama kelamaan, jualan Vina mulai laris. Dia pun memutuskan untuk menggarap secara serius bisnis bulu mata dengan memproduksinya sendiri. Ini dimulai pada Akhir 2017.

Nama Meisa Bulu Mata menjadi pilihan produknya. Tak ada makna dari nama produk ini, namun kata inilah yang spontan terlontar keluar saat anaknya bicara.

"Lama-kelamaan, penjualan kita bagus dan kita akhirnya serius menggarap Meisha bulu mata dengan model macam-macam dari 8 model kini menjadi 60 model," tutur dia.

Meisa bulu mata dijajakan seharga Rp 12 ribu sampai Rp 29 ribu per piece. Agar produknya kian diminati, wanita lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini pun terus memperbaiki kualitas produk dan kemasan.

Selama ini, Meisa bulu mata dikerjakan para perajin yang berada di Jawa Tengah. Vina mempercayakan pengerjaan produk pada 2 perajin besar dengan jumlah pekerja mencapai puluhan orang.

"Saya mendesain sendiri, dan aku terus memperhatikan pembuatannya dengan menerima sample beberapa kali sampai aku oke baru memproduksi secara banyak," tambah dia.

Meisa bulu mata dibuat dari dua bahan baku yakni rambut manusia asli dan rambut sintetis. "Produk paling laku adalah yang seharga Rp 14 ribu," kata dia.

Kini Vina mampu menjual puluhan ribu pieces bulu mata per bulannya. Dengan pelanggan berasal dari Sabang hingga Merauke. Bahkan, dia juga kerap menerima pesanan dari pembeli mancanegara seperti Singapura dan Australia.

Adapun pembelian terbesar masih didominasi melalui marketplace, salah satunya melalui Shopee. Tak heran, Vina pun menjadi salah satu penjual atau seller pilihan Shopee.

Meski menerima banyak pemesanan dari berbagai wilayah, penjualan terbanyak berasal dari dua pulau yakni Sulawesi dan Kalimantan. "Pembeli yang pesan banyak make up artis, toko atau perorangan," ungkap dia.

Vina bersama keluarga kini tinggal di Bali. Kota ini pula yang dijadikan sebagai kantor pusat berbisnis Meisa Bulu Mata.

Dia pun menambahkan kata "False Lashes From Bali" pada produk Meisa Bulu Mata. Ini bukan tanpa maksud. Tapi sesuai dengan mimpinya yang ingin menjadikan produknya dikenal dunia.

"Aku tambahkan False Lashes from Bali. Meski produksi tidak di Bali tapi ide, create, desain semua di Bali. Aku ingin orang kenali bulu mata Indonesia," jelas wanita 32 tahun ini.

Satu hal menarik dari cara Vina menarik konsumen adalah, dia selalu menyelipkan tulisan tangan dari dirinya langsung. Ini menjadi bukti perhatian dirinya kepada pembeli.

"Isi surat kecil itu pertama aku tulis nama customer, kemudian ucapan terima kasih ya sudah berbelanja di Meisa bulu mata semoga kakak suka dengan bulu mata kami dan ditunggu pesanan berikutnya," kata Vina menjelaskan isi surat kecilnya.

Kini, Vina bisa meraup omzet dalam jumlah besar mencapai ratusan juta rupiah per bulan. Dia berharap bisa membuka cabang di daerah lain, seperti di Jakarta.

Tak berhenti pada bisnis bulu mata, wanita kelahiran Jember ini tengah mencoba untuk memasuki bisnis produk kecantikan lain yakni produk lipstik.

"Aku sedang mengembangkan ekspansi ke bisnis lipstik karena itu makanan kedua perempuan walau sudah punya warna yang sama tapi mereka sering memiliki yang lainnya," dia menandaskan.

Dia pun berharap produk lipstik miliknya yang bernama VLS Bali bisa sukses seperti Meisha Bulu Mata.

Tuesday, March 12, 2019

Karangbanjar Purbalingga Jadi Pusatnya Pengrajin Rambut Palsu Wig, Sudah Mampu Tembus Pasar Ekspor

Selasa, 12 Maret 2019 20:47

https://jateng.tribunnews.com/2019/03/12/karangbanjar-purbalingga-jadi-pusatnya-pengrajin-rambut-palsu-wig-sudah-mampu-tembus-pasar-ekspor?page=all.


TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Rambut palsu atau wig sudah menjadi bagian dari gaya hidup sebaguian masyarakat modern yang begitu memerhatikan mode.

Tetapi siapa sangka, produk yang dipakai masyarakat internasional untuk meningkatkan kepercayaan diri itu dibuat tangan-tangan terampil perempuan desa di Purbalingga.

Desa Karangbanjar Kecamatan Bojongsari Purbalingga bisa dikatakan gudangnya industri kerajinan wig.

Rambut palsu bahkan sudah menjadi ikon desa ini karena sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai pengrajin wig.

Industri ini bahkan sudah ada sejak puluh tahun silam. Beragam produk rambut palsu tersedia di desa ini, mulai pemrosesan bahan baku hingga produksi rambut palsu.

Industri rambut palsu ini juga jadi kebanggaan Kabupaten Purbalingga karena produknya yang sudah menembus mancanegara.

Kemajuan industri rambut palsu di Purbalingga, khususnya di Desa Karangbanjar ini bahkan dikagumi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat mengunjungi stan rambut palsu Desa Wisata Karangbanjar pada Musrenbangwil Expo Tahun 2019 Eks Karesidenan Banyumas, Selasa (12/3).

“Rambut palsu atau wig-wig ini ternyata sudah ekspor, ini adalah produk yang luar biasa bahkan ini juga home industry,” kata Ganjar.

Ganjar pun berharap, keberadaaan Bandara Jendral Besar Soedirman di Purbalingga nantinya bisa membuat industri rambut di Purbalingga semakin dikenal dan menciptakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar.

Para pelaku industri, khususnya dari Desa Karangbanjar pun bisa memanfaatkan keberadaan bandara itu untuk memperluas pemasaran produknya agar lebih mendunia.

Koordinator Pokdarwis Desa Karangbanjar, Basis mengatakan, produk rambut palsu memang menjadi unggulan masyarakat Desa Karangbanjar.

Kualitasnya diklaim tidak jauh berbeda dengan rambut palsu yang diproduksi oleh PT.

Menariknya, industri rambut Desa Karangbanjar ini berbentuk home industri sehingga bisa memberdayakan masyarakat desa setempat. Ini sekaligus menjadi kelebihan lantaran penyerapan tenaga kerja lokal menjadi lebih maksimal.

“Keunggulan kita kan di kewirausahaan kalau di tempat lain dilembagakan menjadi PT. Keunggulan kita di pemberdayaan masyarakatnya karena yang mengelola semua ini masyarakat desa,” jelas Basis.

Untuk proses pemasaran, para pelaku industri di desa ini tidak hanya secara offline, tetapi juga memanfatakan media online termasuk media sosial.

Tidak sulit menemukan pengrajin wig di desa ini karena di masing-masing dusun berada. Meski pelaku industri banyak, masing-masing memiliki ciri usaha yang membedakan dengan yang lain, semisal soal variasi produk.

"Jadi kalau sudah memproduksi wig berarti dia gak memproduksi hair clip, kalau dia produksi hair clip dia gak memproduksi aksesoris,” ujarnya.

Di sisi lain, para pelaku industri wig di desa ini masih terkedala ketersediaan dan penyerapan bahan baku. Karena bahan baku yang digunakan adalah rambut manusia, kendalanya adalah pengumpulannya.

Ia pun berharap Desa Karangbanjar yang berhasil mengembangkan industri wig bisa menularkan virus kewirausahaan ke masyarakat luas.

“Kendala-kendala itu semoga bisa teratasi dan bisa masuk pasar global,” katanya.(*)

Monday, August 25, 2014

Siswa Memilih "Ngidep"

25 Agustus 2014

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2014/08/25/271297/10/Siswa-Memilih-Ngidep


Purbalingga diidentikkan sebagai kabupaten penghasil rambut dan bulu mata palsu kelas dunia. Keberadaan industri tersebut secara tidak langsung memberi kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan industri padat karya, tenaga kerja yang terserap cukup besar. Bahkan  perusahaan juga menyokong  investasi industri di Indonesia.

Berdasarkan penelitian Lem¬baga Penelitian, Pengem¬bangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH), sejumlah perusahaan itu di Pur¬balingga menyumbang 56,1% total investasi industri secara nasional.
Ribuan lowongan kerja di perusahaan dan plasma tersebut dibuka tiap hari tanpa syarat ketat, tidak melihat usia ataupun ijazah. Tidak mengherankan, ngidep (bekerja membuat bulu mata palsu) menjadi ’’cita-cita’’ sebagian be¬sar penduduk muda di Purbalingga.

Di sisi lain lapangan kerja padat karya tersebut justru menjadi bumerang bagi dunia pendidikan. Pesatnya plasma industri rambut dan bulu mata palsu hingga pelosok desa terpencil, memengaruhi minat melanjutkan sekolah, baik lulusan SD/MI maupun SMP/MTs.

Gejala tersebut dirasakan cukup lama oleh pemkab. Tahun 2011, 6,55% lulusan SD/MI tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya, dan 42,5% untuk lulusan SMP/MTs (Pikiran Rakyat Online, 15 /7/11).
Ke mana mereka? Meskipun belum ada yang meneliti resmi, beberapa pengamat pendidikan beberapa waktu lalu menyinyalir selama ini banyak anak putus sekolah memilih  bekerja di plasma industri rambut dan bulu mata palsu. (http://www.tempo.com, 21 /9/12).

Realitas itu kembali terjadi akhir-akhir ini. Banyak sekolah di Purbalingga kekurangan murid baru dan kuota tak terisi 100% (SM, 18/7/13). Disinyalir, mereka yang tidak melanjutkan sekolah lebih memilih ngidep. Kondisi ini tentu membuat prihatin berbagai pihak.

Bahkan tidak hanya itu. Keberadaan plasma di pelosok juga memicu tingginya angka putus sekolah. Banyak siswa yang sudah duduk di SMP/MTs mengambil keputusan meninggalkan sekolah dan lebih memilih ngidep.

Keberadaan plasma industri rambut dan bulu mata akan menjadi  bom wak¬tu. Jika semakin banyak warga yang hanya lulus SD atau SMP  maka Pur¬balingga akan kekurangan tenaga ahli dan mutu SDM akan rendah. Mereka hanya bisa menjadi buruh bergaji kecil. Bisa dibayangkan, kondisi Purbalingga beberapa puluh tahun ke depan.

Perlu mencari solusi yang menguntungkan berbagai pihak. Upaya mendesak adalah memperbaiki persyaratan calon pekerja. Saat ini untuk menjadi pengidep di plasma rambut boleh dikatakan tanpa syarat. Mereka tak harus memiliki ijazah, telah mencapai usia tertentu, atau berpengalaman. Tidak heran banyak lulusan SD dan SMP yang tergolong usia anak dapat dengan mudah bekerja.

Pemkab perlu mengatur tentang syarat usia dan ijazah minimal. Din¬sosnakertrans perlu membuat kebijakan tentang pekerja di plasma dan menindak tegas andai memperkerjakan anak. Bertolak dari program Wajib Belajar 9 Tahun, seyogianya untuk bekerja di plasma minimal berijazah  SMP/sederajat. Lebih baik lagi jika mendukung program pendidikan universal hingga minimal SMA-/sederajat.

Bagi usia sekolah yang sudah terlanjur bekerja di plasma perlu diberi kesempatan meningkatkan pendidikan. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka kelompok belajar paket B dan A di sekitar plasma. Sebagai pencegahan agar lulusan SD dan SMP memilih melanjutkan sekolah dan bukan ngidep, pemerintah dapat memberdayakan masyarakat ekonomi mampu untuk menjadi orang tua asuh.

Program Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) atau sejenisnya yang dapat membantu mereka dari kesulitan ekonomi untuk tetap sekolah dapat digiatkan kembali. Jika semua usaha itu terealisasi, niscaya Purba¬lingga akan terhindar dari keterpurukan SDM. (10)         

Monday, June 2, 2014

Bulu Mata Purbalingga Menyihir Dunia

Senin, 2 Juni 2014 | 15:18 WIB

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/06/02/1518008/Bulu.Mata.Purbalingga.Menyihir.Dunia


Proses pembuatan bulu mata di pabrik Best Lady, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Rabu (6/5/2014).

KOMPAS.com - Tak ada yang menyangkal lentik bulu mata bintang pop dunia seperti Madonna dan Katy Perry telah menyihir dunia. Begitu juga mata Olga Lydia dan gadis-gadis Cherrybelle. Kelentikan itu diproduksi di kota kecil Purbalingga, Jawa Tengah.

Bulu mata palsu, bagi presenter Olga Lydia, merupakan elemen penting penampilan. Tanpa bulu mata palsu, dia merasa ada sesuatu yang kurang. Olga mengenal bulu mata palsu sejak terjun ke dunia model. Bagi dia, bulu mata palsu membantu meminimalkan kekurangannya. ”Bulu mata saya, kan, kurang banyak, jadi harus dibantu dengan menggunakan bulu mata palsu,” ujarnya.

Meski begitu, tidak mudah menemukan bulu mata palsu yang sesuai dengan keinginannya. Beberapa syarat bulu mata yang pas bagi Olga adalah ringan, nyaman dipakai, dan dapat digunakan dalam setiap kesempatan, baik siang maupun malam.

”Kadang memakai bulu mata palsu bisa membuat mata merah. Apalagi kadang ada yang sampai harus didobel-dobel segala pakainya, jadinya berat. Akibatnya, mata menjadi merah,” kata Olga.

Bulu mata palsu yang seperti itu sangat dihindari oleh Olga. Sebab, meski memakai bulu mata palsu, dia ingin tetap dapat membaca buku dengan durasi yang cukup lama. ”Kalau bulu matanya berat, mau berlama-lama membaca jadi susah,” ujar Olga.

Begitu pula bagi presenter televisi Hilyani Hidranto, bulu mata merupakan elemen penting penampilan, terutama saat dia muncul di layar kaca. ”Bulu mata saya sudah cukup panjang, sih. Namun, jika untuk keperluan shooting, tetap perlu memakai bulu mata palsu. Jadi, kelihatannya lebih ngoook gitu. Maksudnya, lebih kelihatan di kamera,” ujar Pemenang Wajah Femina tahun 2007 ini seraya terkekeh.

Menghidupi rakyat

Bulu mata palsu menghidupi ribuan warga Purbalingga. Salah satunya adalah Khotik (36). Ini adalah pekerjaan yang rumit. Saat ditemui Kompas, Kothik sedang mencabut tiga helai rambut dari kumpulan potongan rambut yang terbungkus kertas. Ia lalu menekuk ketiga helai rambut itu dan memegangnya dengan tangan kiri. Dengan bantuan alat di tangan kanannya, rambut itu dipasang pada seutas benang yang ujung-ujungnya terikat dengan paku. Dengan gerakan sigap, ketiga helai rambut itu sudah terikat dalam satu simpul di benang tersebut.

Gerakan-gerakan ini ia ulangi sambil mengatur jarak antarsimpul. Dalam jarak 1 sentimeter (cm), ia harus memasang 30 simpul rambut di benang. Total ia harus memenuhi jarak 3,3 cm dengan simpul-simpul rambut sebagai cikal bakal bulu mata. Pekerjaan yang terkesan sederhana, tetapi sebenarnya tidak mudah dilakukan, terutama bagi pekerja baru.

Ini baru satu tahap. Ada lebih dari 10 tahapan untuk membuat sepasang bulu mata, mulai dari membersihkan rambut, menyortir, mewarnai, menautkan, memotong, melentikkan, membentuk, hingga mengepak. Sebagian besar dikerjakan oleh perempuan, baik di pabrik maupun rumah-rumah dalam konsep plasma yang tersebar di Purbalingga.

Siti (45), warga Desa Limbangan, Kecamatan Kutasari, kebagian pekerjaan menggunting bakal bulu mata. Simpul-simpul yang telah tersusun kemudian dibentuk dengan cara menggunting satu demi satu helai rambut. Misalnya, jika dalam satu simpul terdiri atas lima helai, Siti akan menggunting helai pertama
dan kelima seperempat helai teratas yang panjangnya 1 cm. Helai kedua dan kelima dipotong
separuhnya. Helai ketiga dibiarkan. Ada ratusan model dan bentuk dalam dunia bulu mata palsu.
Upah

Khotik, yang tinggal di Desa Pengadegan, Kecamatan Pengadegan, mendapat upah Rp 333 untuk setiap bulu mata yang dibuatnya, sementara Siti menerima upah Rp 285 per buah. Ini jika pekerjaan keduanya dianggap sempurna. Jika tidak, bulu mata harus diperbaiki atau mereka tidak dibayar.

Jika tingkat kesulitan lebih tinggi, pekerjaannya dihargai sedikit lebih mahal. Namun, bukan berarti keduanya lalu giat mengejar setoran. ”Kalau dulu bisa kerja sampai pukul 22.00, sekarang mblenger, empat jam juga sudah berhenti,” kata Khotik yang mulai membuat bulu mata sejak 18 tahun lalu.

Ada ribuan perempuan lain di Purbalingga yang menggerakkan roda usaha bulu mata, baik skala rumahan maupun pabrik. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Purbalingga mencatat, ada 33 industri bulu mata palsu di Purbalingga dengan 18 industri di antaranya adalah usaha penanaman modal asing. Ini ditambah ratusan plasma yang bekerja sama dengan industri besar. Tidak kurang 50.000 tenaga kerja lokal terserap ke sektor ini.

”Bicara bulu mata, hampir semua yang beredar di Amerika Serikat, Eropa, hingga Afrika berasal dari Purbalingga meski kemudian diberi merek oleh perusahaan rekanan di sana,” ujar Audrie Sukoco, Presiden Direktur PT Bintang Mas Triyasa (BMT), pabrik bulu mata di Kelurahan Mewek, Kecamatan Purbalingga.

Tidak heran jika produk bulu mata tiruan dari Purbalingga tidak hanya dipakai selebritas Indonesia, tetapi juga artis-artis Hollywood, mulai dari generasi Madonna hingga Katy Perry. Artis yang terakhir ini menggunakan produk Eyelure, varian produk PT Royal Korindah, perusahaan bulu mata tertua di Purbalingga.

Banyak produsen kecantikan dunia juga menggunakan produk yang dihasilkan tangan-tangan cekatan perempuan Purbalingga, di antaranya L’OrĂ©al, Shu Uemura, MAC, Kiss, Make Up For Ever, dan Maybelline. Industri bulu mata di Purbalingga disebut-sebut hanya kalah besar dari industri sejenis di Guangzhou, Tiongkok.

Namun, untuk bulu mata berbahan baku rambut manusia, menurut sepengetahuan pemilik pabrik bulu mata PT Shinhan Creatindo, Yuni Susanawati, produk jenis itu hanya dihasilkan oleh Indonesia. Tiongkok hanya memproduksi bulu mata tiruan sintetis. Demikian pula produsen lain seperti Vietnam.

Dalam sebulan, rata-rata

10 juta pasang bulu mata tiruan dari Purbalingga dikirim ke seluruh penjuru dunia, seperti tercatat pada 2010. Nilai ekspornya pada tahun itu mencapai Rp 851,01 miliar. Kebutuhan pasar luar negeri sangat besar karena penggunaan bulu mata di sana menjadi kebutuhan sehari-hari.

Sayangnya, di dalam negeri pasar bulu mata belum begitu berkembang. Ini salah satu alasan BMT membangun merek sendiri dan menggandeng sejumlah artis terkemuka sebagai duta produknya, seperti Olga Lidya, Syahrini, dan Cherrybelle. Mereka ingin mengedukasi masyarakat tentang penggunaan bulu mata. Meski demikian, pendapatan utama BMT masih berasal dari ekspor ke sejumlah negara yang mencapai satu juta pasang per bulan. Semuanya dalam kemasan tanpa merek. Hal itu dilakukan hampir semua perusahaan lain.
Industri

Industri bulu mata mulai muncul di Purbalingga dengan kehadiran PT Royal Korindah (dulu Royal Kenny) pada 1967. Sang pemilik usaha, Hyung Sang Lee, memindahkan usaha bulu mata dari negaranya, Korea Selatan (Korsel), karena semakin ketatnya persaingan dan sulitnya mencari tenaga terampil.

Kesuksesan Royal Korindah diikuti berdirinya pabrik-pabrik baru yang dimiliki pengusaha Korsel lainnya. Pendirian itu mengajak mitra yang di kemudian hari membuka usaha sendiri. Pada tahun 2000-an, perusahaan lokal mulai berdiri.

”Pada tahun 1970-an, Purbalingga sudah dikenal dengan kerajinan berbahan baku rambut, seperti rambut sanggul. Selain itu, orang di sini juga dikenal tekun, sabar, teliti, dan terampil,” kata Budi Wibowo (54), pengusaha bulu mata lokal.

Uniknya, meski bulu mata palsu Purbalingga telah mendunia, para perempuan pembuatnya belum tentu ikut memakainya. Bahkan, tidak sedikit yang tidak mengetahui wujud jadi bulu mata tiruan. ”Jangankan pakai bulu mata palsu, lihat jadinya saja belum pernah,” kata Khotik terkikik.