Selasa, 2 Oktober 2012 − 13:45 WIB
http://ekbis.sindonews.com/read/676288/34/wig-sci-diminati-pasar-luar-negeri-1349160312
Sindonews.com - Rambut palsu (wig) produksi PT Sung Chang Indonesia (SCI) Kulonprogo cukup dimiati pasar luar negeri. PT SCI, saat ini kewalahan memenuhi permintaan pasar. Pasca permasalahan internal dengan karyawan, SCI telah berbanah.
Vice President PT SCI, Chou Hyong Choe mengatakan konflik dengan karyawan beberapa waktu lalu, berdampak terhadap produksi rambut palsunya.
Saat itu banyak buruh yang mundur, dan hanya menyisakan sekitar 1.500 orang saja. Padahal wig buatan SCI banyak diminati pasar Eropa, Amerika dan Jepang.
“Permintaan banyak tetapi kita sulit memenuhinya,” jelas Chou di Kulonprogo, Selasa (2/10/2012).
Menurutnya, ketika memiliki buruh 2.500 orang, produksi wig dari SCI bisa mencapai 85 ribu piece per bulannya. Namun karena ada konflik produksi menurun dan hanya 25 ribu piece saja.
Kini perusahaan terus melakukan pendekatan dengan karyawan dan mampu meningkatkan produksinya. “Sekarang produksi kita sudah kembali ke angka 50 ribuan,” tuturnya.
Chou mengakui, permasalahan ketenagakerjaan telah menjadi elemen penting dalam produksi. Untuk itulah dia melakukan perbaikan terhadap managemen karyawan. Termasuk penambahan berbagai sarana, sistem pengupahan hingga komunikasi dengan buruh.
PT SCI sendiri, masih membuka kesempatan kerja bagi calon buruh. Mereka bisa mengikuti masa magang selama tiga bulan. Selebihnya akan dipehritungkan sebagai buruh, dengan melihat kemampuan dalam memproduksi wig.
“Komunikasi bipartite, kita maksimalkan dengan menyediakan ruangan khusus agar masalah buruh bisa kita dengar,” terangnya.
(gpr)
Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts
Tuesday, October 2, 2012
Pabrik Wig di Kulon Progo Kebanjiran Pesanan
Sel, 2 Okt 2012
https://id.berita.yahoo.com/pabrik-wig-di-kulon-progo-kebanjiran-pesanan-090006555--finance.html
TEMPO.CO, Kulon Progo - Produsen rambut palsu atau yang biasa disebut wig di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kewalahan melayani pesanan yang juga datang dari luar negeri. Pesanan yang cukup banyak ini tidak seimbang dengan jumlah karyawan sehingga pengerjaan pesanan agak tersendat.
Menurut Vice President PT Sung Chang Indonesia (SCI) Kulonprogo, Chou Hying Choe, wig buatan pabriknya banyak diminati oleh konsumen, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Wig produksi Kulon Progo ini banyak dipesan oleh negara negara besar, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa. Namun, dengan jumlah karyawan sebanyak 1.500 orang, perusahaan masih merasa kekurangan tenaga untuk mengerjakan pesanan.
"Permintaan wig sangat tinggi. Kami sampai kewalahan melayani. Idealnya ada 2.500 pekerja," kata Chou Hyong Choe pada Tempo, Selasa, 2 Oktober 2012.
Dia memperkirakan, dengan jumlah karyawan 2.500 orang, produksi wig setiap bulan bisa mencapai 85.000 buah. Saat ini dengan 1.500 pegawai, produksi wig per bulan baru 25.000 wig saja. »Saat ini sedang berbenah untuk menaikkan jumlah produksi,” kata Choe.
Untuk menaikkan jumlah produksi itu, perusahaan juga menambah fasilitas buat para pegawai, seperti sistem pengupahan, kesejahteraan, dan penambahan sarana lainnya. "Kami masih membutuhkan banyak tenaga kerja," kata dia.
Peluang kerja itu sebenarnya sangat tinggi bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain banyak dibutuhkan untuk membantu produksi, juga akan ada masa magang selama tiga bulan untuk menjadi tenaga yang terampil.
Menurut Kepala Desa Triharjo, Kecamatan Wates, Kulon Progo, Wadiyo, perusahaan-perusahaan wig di desanya itu turut membantu menyerap tenaga kerja. Dampaknya juga sangat positif. Ada banyak warung makan, rumah kos, dan lain-lain. "Masyarakat di sekitar pabrik sangat terbantu secara ekonomi," kata dia.
https://id.berita.yahoo.com/pabrik-wig-di-kulon-progo-kebanjiran-pesanan-090006555--finance.html
TEMPO.CO, Kulon Progo - Produsen rambut palsu atau yang biasa disebut wig di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kewalahan melayani pesanan yang juga datang dari luar negeri. Pesanan yang cukup banyak ini tidak seimbang dengan jumlah karyawan sehingga pengerjaan pesanan agak tersendat.
Menurut Vice President PT Sung Chang Indonesia (SCI) Kulonprogo, Chou Hying Choe, wig buatan pabriknya banyak diminati oleh konsumen, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Wig produksi Kulon Progo ini banyak dipesan oleh negara negara besar, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa. Namun, dengan jumlah karyawan sebanyak 1.500 orang, perusahaan masih merasa kekurangan tenaga untuk mengerjakan pesanan.
"Permintaan wig sangat tinggi. Kami sampai kewalahan melayani. Idealnya ada 2.500 pekerja," kata Chou Hyong Choe pada Tempo, Selasa, 2 Oktober 2012.
Dia memperkirakan, dengan jumlah karyawan 2.500 orang, produksi wig setiap bulan bisa mencapai 85.000 buah. Saat ini dengan 1.500 pegawai, produksi wig per bulan baru 25.000 wig saja. »Saat ini sedang berbenah untuk menaikkan jumlah produksi,” kata Choe.
Untuk menaikkan jumlah produksi itu, perusahaan juga menambah fasilitas buat para pegawai, seperti sistem pengupahan, kesejahteraan, dan penambahan sarana lainnya. "Kami masih membutuhkan banyak tenaga kerja," kata dia.
Peluang kerja itu sebenarnya sangat tinggi bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain banyak dibutuhkan untuk membantu produksi, juga akan ada masa magang selama tiga bulan untuk menjadi tenaga yang terampil.
Menurut Kepala Desa Triharjo, Kecamatan Wates, Kulon Progo, Wadiyo, perusahaan-perusahaan wig di desanya itu turut membantu menyerap tenaga kerja. Dampaknya juga sangat positif. Ada banyak warung makan, rumah kos, dan lain-lain. "Masyarakat di sekitar pabrik sangat terbantu secara ekonomi," kata dia.
Wednesday, November 2, 2011
Unjuk Rasa Warga dan Karyawan Pabrik Wig di Piyungan
RABU, NOVEMBER 02, 2011
HTTP://WWW.BANTULONLINE.COM/2011/11/UNJUK-RASA-WARGA-DAN-KARYAWAN-PABRIK.HTML
"Saiki prei, Sesuk mlebu..!!" teriak salah seorang karyawan yang berada diantara ratusan karyawan lainnya dari pabrik pembuat rambut palsu (wig) PT Dong Young Trees Indonesia di Piyungan, Bantul. Rabu (2/11) bersama warga sekitar mereka melakukan aksi demo sekaligus mogok kerja dengan memblokade jalan masuk perusahaan.
Awalnya aksi demonstrasi ini adalah aksi warga sekitar. Namun karena jalan masuk pabrik ditutup maka karyawan yang tidak bisa masuk lalu ikut melakukan demonstrasi dan aksi mogok kerja. Meskipun misi karyawan berbeda dengan warga yang melakukan aksi demo lebih dulu, mereka membaur jadi satu.
Warga menuntut kontribusi perusahaan terhadap lingkungan sekitar pabrik, baik dalam bentuk pembangunan maupun karyawan. Warga meminta agar karyawan pabrik lebih diprioritaskan dari warga sekitar. Karyawan menuntut upah yang diterima sesuai Upah Minimum Regional (UMR). mereka juga meminta perusahaan memberlakukan surat kontrak yang jelas.
Keputusan manajemen perusahaan secara semena-mena memecat dan memotong gaji pekerja secara sepihak menjadi pemicu utama aksi mogok kerja karyawan pabrik ini. Dari pengakuan salah seorang pekerja hanya digaji Rp350.000 di awal masa kerja.dan gaji Rp750.000 setelah masa satu tahun. Selain itu kebijakan perusahaan yang memberlakukan potongan gaji Rp100.000 bagi pekerja yang bolos kerja juga dikeluhkan. Aksi unjuk rasa membuat arus lalu lintas jalan raya Piyungan–Pleret. tersendat.
HTTP://WWW.BANTULONLINE.COM/2011/11/UNJUK-RASA-WARGA-DAN-KARYAWAN-PABRIK.HTML
"Saiki prei, Sesuk mlebu..!!" teriak salah seorang karyawan yang berada diantara ratusan karyawan lainnya dari pabrik pembuat rambut palsu (wig) PT Dong Young Trees Indonesia di Piyungan, Bantul. Rabu (2/11) bersama warga sekitar mereka melakukan aksi demo sekaligus mogok kerja dengan memblokade jalan masuk perusahaan.
Awalnya aksi demonstrasi ini adalah aksi warga sekitar. Namun karena jalan masuk pabrik ditutup maka karyawan yang tidak bisa masuk lalu ikut melakukan demonstrasi dan aksi mogok kerja. Meskipun misi karyawan berbeda dengan warga yang melakukan aksi demo lebih dulu, mereka membaur jadi satu.
Warga menuntut kontribusi perusahaan terhadap lingkungan sekitar pabrik, baik dalam bentuk pembangunan maupun karyawan. Warga meminta agar karyawan pabrik lebih diprioritaskan dari warga sekitar. Karyawan menuntut upah yang diterima sesuai Upah Minimum Regional (UMR). mereka juga meminta perusahaan memberlakukan surat kontrak yang jelas.
Keputusan manajemen perusahaan secara semena-mena memecat dan memotong gaji pekerja secara sepihak menjadi pemicu utama aksi mogok kerja karyawan pabrik ini. Dari pengakuan salah seorang pekerja hanya digaji Rp350.000 di awal masa kerja.dan gaji Rp750.000 setelah masa satu tahun. Selain itu kebijakan perusahaan yang memberlakukan potongan gaji Rp100.000 bagi pekerja yang bolos kerja juga dikeluhkan. Aksi unjuk rasa membuat arus lalu lintas jalan raya Piyungan–Pleret. tersendat.
Subscribe to:
Posts (Atom)