Pages

Showing posts with label Pabrik. Show all posts
Showing posts with label Pabrik. Show all posts

Wednesday, July 7, 2021

Langgar PPKM Darurat dengan Pekerjakan Karyawan 100 Persen

Pabrik Rambut Palsu di Garut Ketahuan Langgar PPKM Darurat, Pekerjakan Karyawan 100 Persen

Kamis, 8 Juli 2021 21:09

Petugas melakukan sidak ke sebuah pabrik di Leles, Garut, dan menemukan pabrik tersebut melanggar aturan PPKM Darurat. 

Satgas Covid-19 Kabupaten Garut kembali menindak pabrik di kawasan industri Kecamatan Leles karena melanggar aturan protokol kesehatan setelah sebelumnya menyegel tiga pabrik dan dijatuhi denda hingga puluhan juta rupiah, Kamis (8/7/2021).

Pabrik tersebut adalah PT Hoga Reksa Garment dan sebuah pabrik rambut palsu. Kedua pabrik itu ketahuan memperkerjakan karyawannya hingga 90 persen di masa PPKM Darurat. Sidak kali ini dipimpin oleh Kapolres Garut, Dandim dan Kepala Kejaksaan Negeri Garut beserta jajarannya. 

"Dalam sidak kali ini kami menemukan dua perusahaan besar, jadi kami melakukan penindakan karena melebihi jumlah pegawai sesuai dengan peraturan PPKM Darurat, yang seharusnya 50 persen mereka tidak mematuhinya," ujar Kepala Kejaksaan Negeri Garut, Sugeng Hariadi saat diwawancarai Tribunjabar.id di lokasi.

Sugeng menjelaskan bahwa pihaknya akan menindak kembali pabrik-pabrik yang tidak mematuhi peraturan pemerintah di masa PPKM Darurat.

"Mereka akan disidangkan pada hari Selasa mendatang," ucapnya.

Menurutnya alasan pabrik tersebut masih memperkerjakan karyawannya karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah padahal surat-surat imbauan sudah disampaikan kepada para petinggi pabrik yang disampaikan langsung oleh Disperindag Kabupaten Garut.

Tidak hanya pabrik, Satgas Covid-19 juga menemukan restoran yang masih membuka layanan makan di tempat, bahkan restoran tersebut sengaja menempatkan konsumen di belakang tempat usaha untuk mengelabui petugas.

Sugeng menambahkan, Satgas Covid-19 melakukan penegakan hukum dengan tindak pidana ringan (tipiring) dengan pasal 21i ayat 2 huruf d Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat nomor 5 tahun 2021 perubahan peraturan Daerah nomor 13 tahun 2018 tentang Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat dengan ancaman denda maksimal 50 juta dan 3 bulan penjara.

Sebelumnya tiga pabrik besar di Garut divonis dengan denda puluhan juta rupiah karena melanggar aturan PPKM Darurat.

Ketiga PT tersebut adalah pabrik sepatu yakni PT Changshin Reksa Jaya dengan vonis denda Rp 20 juta subsider kurungan 1 bulan penjara.

Pabrik bulu mata lalsu yakni PT Daux International divonis dengan denda Rp 13,5 juta rupiah dan PT Danbi International dengan denda Rp 15 juta rupiah subsider 1 bulan kurungan.


Sumber :

https://jabar.tribunnews.com/2021/07/08/pabrik-rambut-palsu-di-garut-ketahuan-langgar-ppkm-darurat-pekerjakan-karyawan-100-persen.

Thursday, April 8, 2021

Kebakaran Pabrik Rambut Palsu PT Yuro Mustika Purbalingga

Jumat, 9 April 2021 17:39 WIB

Kebakaran terjadi di pabrik pembuat rambut palsu PT Yuro Mustika di Kelurahan Kalikabong, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (9/4/2021) dini hari.

Kebakaran pertama terlihat di salah satu ruang produksi oleh petugas keamanan pabrik.

Kapolsek Kalimanah AKP Setiadi mengatakan peristiwa kebakaran di pabrik tersebut terjadi sekira jam 00.10 WIB. Kebakaran pertama diketahui petugas keamanan pabrik yang melihat kepulan asap dan api di atap salah satu ruangan.

"Petugas keamanan pabrik kemudian menghubungi pemadam kebakaran dan pihak kepolisian," jelas kapolsek.

Kapolsek menjelaskan bahwa kebakaran akhirnya berhasil dipadamkan setelah tiga mobil pemadam kebakaran dibantu dua mobil penampungan air didatangkan. Api berhasil padam sekira jam 02.00 WIB.

"Tidak ada korban jiwa akibat kebakaran tersebut. Namun tiga ruangan mengalami kerusakan hangus terbakar," kata kapolsek.

Disampaikan bahwa penyebab kebakaran diduga akibat korsleting listrik diruangan produksi. Percikan api cepat membesar karena di lokasi tersebut banyak barang yang mudah terbakar.

"Untuk memastikan penyebab pasti kebakaran, akan dilakukan olah TKP pada hari ini bersama tim Inavis Polres Purbalingga," jelasnya.

Kapolsek menambahkan untuk kerugian material akibat kebakaran tersebut belum bisa diketahui secara pasti. Karena masih dalam proses pendataan pihak perusahaan.


Sumber:

https://jateng.tribunnews.com/2021/04/09/kebakaran-pabrik-rambut-palsu-pt-yuro-mustika-purbalingga.

Thursday, August 6, 2020

Purbalingga

Purbalingga: Ditinggal Merantau Ngangenin, Ditinggali Nggak Menghasilkan Apa-apa

FADLIR RAHMAN
6 AGUSTUS 2020

Menjadi bagian penduduk di sebuah kabupaten kecil dan tidak terkenal seperti Purbalingga, terkadang menyusahkan juga. Akibat logat ngapak kami, hal yang paling sering ditanyakan pertama (jika sedang di luar kota) adalah ini: “Njenengan logatnya ngapak, asli mana, Mas?”

Untuk menjawab pertanyaan itu memanglah mudah. Tapi seringkali jika dijawab dengan jujur akan menimbulkan pertanyaan lanjutan. Mau buktinya? Nih, kuberi tahu jika pertanyaan mudah itu saya jawab apa adanya.

“Aku asal Purbalingga, Mas. Lah njenengan, si?”

Harusnya pertanyaan itu selesai dengan, “Oooh, kalau aku asli sini aja.” tapi nyatanya tidak demikian.

“Loh Purbalinggga, kok ngapak? Kan Jawa Timur?”

Saya pun harus menjelaskan jika yang di Jawa Timur itu Probolinggo, kalau Purbalingga itu Jawa Tengah. Probolingo itu dekat laut, Purbalingga dekat gunung. Probolinggo didominasi huruf vokal “o”, Purbalingga dengan huruf vokal “a”. Jelas sekali, toh, perbedaannya?

Meskipun sekarang sudah banyak yang tahu, sih, berkat bupati kami yang korupsi kemudian berpose metal saat dipotret wartawan. Tahu kan?

Itulah mengapa saya malas kalau menjawab pertanyaan itu dengan jujur. Saya mending menjawab berasal dari Purwokerto saja. Orang akan langsung paham dan lanjut ke pertanyaan lainnya dalam basa-basi.

Dan saya yakin banyak orang Purbalingga yang mengalami hal demikian. Padahal orang Purbalingga tapi ngakunya Purwokerto.

Kota tetangga kami, Purwokerto, memang lebih terkenal. Salah satunya karena memiliki beberapa universitas. Dan yang paling ternama tentu Universitas Jenderal Soedirman.

Hal tersebut berakibat pada munculnya pusat perbelanjaan sekelas supermall dan mengundang banyak perhatian investor di berbagai bidang untuk melebarkan sayap waralabanya.

Adanya kampus, berefek juga pada bisnis lebih kecil yang menguntungkan penduduk setempat, seperti indekos, rumah makan, dan UMKM lain. Daya serap pasar dari mahasiswa/pendatang yang berasal dari daerah lain mendatangkan keuntungan sendiri. Apalagi pada produk khas lokal.

Kesulitan lain jadi warga Purbalingga yaitu meskipun sekarang sudah ada kampus juga di sini, namun tidak membawa pengaruh besar seperti di Purwokerto. Khususnya pada sektor ekonomi masyarakat, karena sekarang masih didominasi oleh buruh pabrik. Mulai dari pabrik rambut dan alis palsu hingga pabrik kayu lapis. Yang perusahaannya berjejer dan membuat Purbalingga menjadi salah satu kawasan industri di Jawa Tengah.

Meskipun sebagai kawasan industri yang terus berkembang, bukan berarti juga diikuti dengan perkembangan ekonomi seperti UMKM. Kecenderungan masyarakat yang memilih menjadi karyawan pabrik adalah  penyebabnya, di samping daya serap pasar yang kurang. Ya, daripada bikin usaha yang penghasilan belum jelas, mending di pabrik dapet gajian. Memang, sih, UMR kota ini mendekati dua juta rupiah terbilang cukup besar untuk skala hidup di sini.

Memilih menjadi karyawan pabrik mungkin hanya itulah pilihan paling logis yang bisa diakses. Pasalnya jika mau menjadi bagian dari suatu instansi/dinas daerah, kesempatannya begitu kecil. Hal ini saya kira ada kaitannya dengan privelese sosial.

Di daerah yang kecil ini, power yang besar hanya dimiliki segelintir orang yang biasa kami sebut “Penggede Purbalingga”. Power yang mampu melakukan praktik “masuk pakai orang dalem”.

Dan akses terhadap power tersebut, hanya bisa didapatkan oleh orang terdekat beliau-beliau. Sudah menjadi rahasia umum bahwa “masuk pakai orang dalem” sangat berlaku di sini.

Mungkin istilah yang tepat adalah krisis transparansi–untuk tidak menyebut nepotisme. Maka dari itu, kami ini kaum-kaum penginyongan yang lahir dari kelas sosial biasa, tidak bisa berbuat banyak.

Dari kesulitan identitas, ekonomi, hingga transparansi, bukan berarti kami tidak bisa bertahan hidup. Justru semakin tangguh, alih-alih cuma mengeluh. Daya juang pun semakin besar.

Ada kedamaian tersendiri hidup di sini. Di daerah kecil ini, mendapatkan kenalan atau teman baru begitu mudah, apalagi bagi muda-mudinya. Tanpa terduga, pasti ada saja penghubungnya. Entah karena lingkar pertemanan lain, pekerjaan, bahkan lingkar alumni suatu sekolah mampu menyatukan.

Kami jarang kesepian. Gampangnya, tinggal keluar rumah, pasti nanti di jalan ketemu orang yang kita kenal. Wong di luar kota saja ketemunya orang Purbalingga. Neng ndi bae, maning-maning ketemune wonge dewek. Di mana pun lagi-lagi ketemunya orang sendiri.

Secara geografis, Purbalingga sebenarnya hampir seperti Yogyakarta. Jika di utara Yogya ada Gunung Merapi, di sini ada Gunung Slamet. Hal tersebut menyebabkan Purbalingga memiliki tempat wisata yang banyak dan beragam. Jadinya nggak perlu bingung saat merasa suntuk di rumah. Dengan udara sejuk pegunungan, membuat nongkrong semakin nyaman.

Selain kedamaian seperti itu, ada juga yang lainnya. Beberapa tahun lalu, Cak Nun pernah diundang untuk acara sinau bareng di Purbalingga. Beliau mengatakan yang kira-kira begini, “Kalian beruntung tinggal di sini, soalnya Purbalingga tidak dilalui jalur kapitalis nasional.”

Saya kurang begitu paham dengan jalur kapitalis nasional yang dimaksud beliau. Mungkin karena jika dilihat di peta atau google maps, kota ini memang tidak dilewati oleh jalur yang menghubungkan kota-kota besar. Jakarta-Semarang lewat pantura, Jakarta-Yogya lewat jalur selatan. Ada, sih, jalur provinsi, tapi itu pun jalur alternatif.  Keuntungan dari letak geografis seperti itu yang saya rasakan, paling tidak pernah mengalami macet, lah.

Sebenarnya ada juga keresahan namun sekaligus kemudahan yang dirasakan warga Purbalingga. Yaitu dari bisnis knalpot. Purbalingga memang dikenal dengan kota knalpot, karena banyak produsen knalpot di sini.

Keresahan dari hal tersebut adalah banyak kendaraan terutama sepeda motor yang knalpotnya diganti dengan knalpot buatan karena murah harganya. Bunyinya itu, loh, yang nggak ramah di telinga. Jika sedang nongkrong di angkringan  atau tempat lain di pinggir jalan, minimal 15 menit sekali pembicaraan harus terpotong untuk mempersilakan berisik knapot itu lewat dan menghilang.

Tapi hal tersebut sudah menjadi maklum. Pasalnya dari knalpot produk lokal juga, ekonomi masyarakat ikut terangkat. Selain sumber daya manusia teserap untuk pengrajin knalpot, ada juga yang terbantu dengan ikut menjadi reseller online produk ini. Bahkan produknya bukan hanya laku di pasar nasional, melainkan hingga mancanegara.

Hidup di mana pun memang tetap ada kesulitan dan kemudahan. Beberapa ada yang bertahan dengan segala konsekuensinya. Beberapa lagi memilih untuk merantau dengan harapan mendapat kualitas hidup yang lebih baik. Apapun pilihannya, Purbalingga adalah tempat kembali kami yang terbaik.

Kami sering berujar begini: Purbalingga, detinggal ngrantau ngangeni nek ditunggoni ora kasil apa-apa.


Sumber :
https://mojok.co/terminal/purbalingga-ditinggal-merantau-ngangenin-ditinggali-nggak-menghasilkan-apa-apa/

Thursday, July 9, 2020

Orderan Sudah Mulai Masuk, Sektor Industri di Purbalingga Mulai Bangkit

Radar Banyumas
KAMIS, 9 JULI 2020

Pekerja sedang membuat pekerjaan rambut palsu. Aditya/Radar Banyumas Meski tertatih, sektor industri di Kabupaten Purbalingga mulai bangkit setelah dihantam pandemi covid-19. Sejumlah perusahaan mulai menjalankan produksinya kembali.

Meski belum 100 persen. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Purbalingga Rocky Djundjungan mengakui, saat awal masa pandemi Covid-19, sejumlah perusahaan sempat menurun produksinya.

Hal itu, disebabkan oleh mandeknya sejumlah order dari buyer di luar negeri. “Hal itu, disebabkan sejumlah negara memberlakukan lockdown. Sehingga, kami tak bisa mengekspor hasil produksi kami,” katanya, Rabu (8/7).

Namun, hal itu sudah tak lagi terjadi pada saat ini. Sehingga, sejumlah perusahaan sudah mulai kembali normal dalam produksi. “Orderan sudah mulai masuk. Kami juga sudah bisa mengirimkan hasil produksi kami ke luar negeri. Meski, belum kembali seperti semula. Karena masih ada sejumlah negara yang memberlakukan lockdown,” jelasnya.

Mulai pulihnya produksi tersebut, berimbas terhadap karyawan yang sebelumnya dirumahkan maupun harus di-PHK. “Sejumlah perusahaan sudah memanggil kembali karyawan yang dirumahkan.

Meski, ada juga perusahaan yang masih belum, karena ordernya belum pulih seperti semula,” imbuhnya. Bahkan, menurutnya ada satu perusahaah yang saat awal masa pandemi nyaris tutup, karena tak dapat order, sudah kembali beroperasi lagi.

“PT Midas sempat mem-PHK seluruh karyawannya, karena sudah tak bisa produksi akibat tak ada order masuk. Namun, sekarang sudah merekrut karyawan lagi dan kembali beroperasi, karena order dari buyer sudah masuk,” tambahnya.

Pihaknya mengaku senang dengan membaiknya iklim usaha di Kabupaten Purbalingga. “Hal ini, bisa ikut menggerakkan perekonomian di Kabupaten Purbalingga yang sempat tersendat saat awal masa pandemi,” lanjutnya.

Terkait persiapan menyongsong New Normal, pihaknya sudah menyusun sejumlah protokol kesehatan yang harus dilakukan oleh seluruh perusahaan di Purbalingga. “Salah satunya adalah mengecek suhu tubuh karyawan yang masuk. Karyawan juga harus menggunakan masker dan cuci tangan sebelum masuk dan keluar ruangan,” tambahnya.

Dijelaskan olehnya, di perusahaan yang dipimpin olehnya, yakni PT Boyang Industrial juga sudah dilakukan rapid test massal, beberapa waktu lalu. Rapid test massal tersebut difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga.


Sumber: https://radarbanyumas.co.id/orderan-sudah-mulai-masuk-sektor-industri-di-purbalingga-mulai-bangkit/
Copyright © Radarbanyumas.co.id

Monday, May 4, 2020

PT Boyang Industrial Tak Perpanjang Kontrak 1.122 Pekerjanya

4 Mei 2020, 14:42 WIB

Dampak dari Pendemi Covid-19, salah satunyanya adalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada para pekerja, hal tersebut tentunya saja menjadi perhatian khusus pemerintah.

Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Purbalingga Tukimin menyebutkan, ada 1.122 pekerja yang tidak diperpanjang kontrak kerjanya di PT Boyang Industrial, sedangkan 52 pekerja sudah dirumahkan oleh perusahaan Jhon Toys Indonesia.

PT Boyang Industrial merupakan perusahaan besar di Indonesia, yang memproduksi rambut palsu atau wig, dan mengekspornya ke berbagai negara, salah satunya Amerika.

Namun pemberlakuan lockdown di Amerika saat ini, telah mempengaruhi kapasitas produksi perusahaan tersebut, dan mengakibatkan adanya pengurangan jumlah karyawan, dengan tidak memperpanjang kontrak sebagian pekerjanya.

Oleh sebab itu, Disnaker Purbalingga memberikan perhatian khusus kepada para pekerja yang mengalami PHK untuk lebih diprioritaskan dalam mendapatkan program kartu Prakerja.

"Ada kebijakan bagi pekerja yang mengalami PHK, mereka mendapatkan prioritas pada program Prakerja. Data-data sudah kami daftarkan ke Menaker,"ujar Tukimin, Senin (4/5).

Baca Juga: Pendaftaran Program Kartu Prakerja Dibuka, Simak Caranya !

Pihak Disnaker Purbalingga, lanjutnya, masih terkadala dalam mendapatkan informasi terkait berapa jumlah pendaftar program Prakerja yang sudah terverifikasi.

"Lewat Disnaker provinsi, kami meminta untuk dapat mengakses berapa yang sudah terverifikasi di pusat," tandasnya.

Menurutnya, jumlah pekerja yang mengalami PHK di Purbalingga masih pada batas wajar, hanya 3 persen dari jumlah tenaga kerja yang ada.


Sumber :
https://lensapurbalingga.pikiran-rakyat.com/info-purbalingga/pr-21376357/pt-boyang-industrial-tak-perpanjang-kontrak-1122-pekerjanya?page=2

Monday, April 20, 2020

Terdampak Corona, 9 Perusahaan di Purbalingga PHK 1.300 Pekerja

Senin, 20 April 2020 - 12:30 WIB

Sembilan perusahaan di Kabupaten Purbalingga melaporkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan pekerjanya akibat pandemi virus corona jenis baru, Covid-19.

Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja Purbalingga, total pekerja yang di-PHK mencapai 1.300 orang. Ribuan pekerja tersebut berasal dari sembilan perusahaan seperti perusahaan mainan dan pabrik kayu. Namun, pekerja yang paling banyak di-PHK yakni dari pabrik rambut palsu dan bulu mata palsu.

Sejak pendemi corona, jumlah ekspor produk bulu mata dan rambut palsu ke luar negeri menurun drastis. Perusahaan menyiasati dengan mengurangi produksi dan mengurangi jumlah pekerja.

Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Purbalingga Tukimin berharap jumlah karyawan yang terimbah Covid-19 tidak bertambah.

"Semoga tidak berimbas lebih banyak. Harapannya yang dirumahkan ini bisa dipekerjakan kembali kalau sudah stabil," ujar Tukimin, Senin (20/4/2020).

Tukimin juga menjelaskan, produksi pabrik produksi bulu mata palsu dan rambut palsu turun karena konsumen mereka di Amerika Serikat menghentikan penjualan. Kondisi AS yang juga terkena wabah Covid-19 menjadikan permintaan produk tersebut turun drastis.

"Ordernya berkurang. Ekonomi Amerika juga banyak yang berhenti, mungkin pelabuhan dan segala macamnya tidak lancar sehingga ekspor pun tidak lancar," ujarnya.

Dinas Tenaga Kerja Purbalingga mencatat saat ini sebanyak 50.000 warga bekerja di 40 perusahaan.


Sumber :
https://jateng.sindonews.com/read/4480/707/terdampak-corona-9-perusahaan-di-purbalingga-phk-1300-pekerja-1587359091

Wednesday, February 12, 2020

Perusahaan Jerman Berminat Borong Ribuan Wig Purbalingga

Rabu 12 Feb 2020 16:06 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA -- Perusahaan Jerman Rieswick und Partner GmbH berminat untuk membeli rambut palsu atau wig dari Purbalingga untuk bisnis jangka panjang. Hal itu disampaikan Senior Executive Business Development Jerman-Indonesian Chamber of Industry and Commerce (EKONID), Wuranto, saat bertemu Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, Rabu (12/2).

''Perusahaan Jerman ini ingin membeli langsung wig Indonesia dari produsennya di Purbalingga. Perusahaan ini membutuhkan sekitar 2500 sampai 10.000 pcs per tahun untuk dijual kembali di pasar Jerman,'' jelasnya.

Selama ini, kata Wuranto, perusahaan tersebut sudah membeli wig dari Indonesia melalui distributor di Jerman. Namun karena kebutuhannya besar, mereka membeli beli langsung dari suplayernya. Peran EKONID, menurut dia, menjembatani hubungan bisnis antara perusahaan Jerman dan Indonesia.

Dalam kunjungan ke Purbalingga, dia didampingi Max Rieswick dan Nils Rieswick selaku Geschaftsfuehrer dari perusahaan Rieswick und Partner GmbH. Max Rieswick dalam kesempatan itu, menyebutkan perusahaannya memilih produk rambut palsu Purbalingga karena rambut palsu produksi daerah ini sudah terkenal berkualitas.

''Sebelumnya kami sudah melakukan riset untuk menentukan produk mana yang akan kami pilih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jerman. Akhirnya, pilihan kami jatuh pada produk rambut palsu dari Purbalingga,'' katanya.

Bahkan mereka sudah membandingkannya dengan produk asal Purbalingga, dengan produk sejenis dari Cina maupun Filipina.

''Di Jerman kami lebih fokus menjualnya kembali di local market untuk membantu konsumen dalam pemulihan penampilan. Kami juga memiliki workshop yang melayani customize/memodifikasi wig sesuai dengan keinginan,'' kata Nils Rieswick.

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi mengatakan rambut palsu produk Purbalingga banyak diproduksi di Purbalingga. ''Selama ini, produk rambut palsu dari Purbalingga sudah banyak diekspor ke luar negeri. Produk rambut palsu Purbalingga sudah dikenal baik berbagai belahan dunia,'' katanya.


Sumber :
https://republika.co.id/berita/q5skfs368/daerah/jawa-tengah-diy/20/02/12/q5kzz8335-perusahaan-jerman-berminat-borong-ribuan-wig-purbalingga

Wednesday, December 4, 2019

Dinaker Purbalingga Merasa Kecolongan, Masalah PT NVI Makin Banyak

Dinaker Purbalingga Merasa Kecolongan, Masalah PT NVI Makin Banyak, Gunakan Tenaga Kerja Asing Tanpa Izin

4 Desember, 2019

Setelah diberitakan beroperasi tanpa izin yang lengkap, kejanggalan lain yang berkaitan dengan PT Nina Venus Indonusa kembali terkuak. Kali ini setelah Dinas Tenaga Kerja (Dinaker) Kabupaten Purbalingga merasa kecolongan dengan beroperasinya perusahaan tersebut.

Masalah yang dimaksud adalah penggunaan tenaga kerja asing (TKA) yang tidak disertai izin sesuai prosedur. Selain itu, PT NVI juga dinilai tidak menjalankan wajib lapor ke Dinaker.

Pegawai Dinas Tenaga Kerja Jateng, Bidang Pengawas Tenga Kerja, Angkat Lujeng membenarkan hal ini. Menurutnya, pihaknya melakukan klarifikasi, ternyata PT Nina Venus Indonusa ini belum melaksanakan wajib lapor ke Dinas Tenaga Kerja. Padahal hal itu menjadi bagian yang wajib dilakukan oleh perusahaan ketika sudah beroperasi.

“Setelah kita klarifikasi di sana (PT NVI, red), masalah perizinan ranahnya kantor perizinan dan DLH, yang ada keterkaitan dengan kami adalah terkait UU ketenagakerjaan. Ternyata PT Nina belum melaksanakan wajib lapor sebagaimana UU 7 tahuh 81, wajib lapor ke dinas kami, kalau tidak dilaksanakan dalam waktu satu minggu ini kami langsung tindaklanjuti Tipiring,” kata Angkat, Selasa (3/12).

Selain masalah wajib lapor, diketahui juga kesalahan lain yakni terkait dengan Keselamatan kesehatan kerja yang juga belum ada sama sekali. Di antaranya, penangkal petir, jenset, dan hal-hal yang menyangkut instalasi. “Padahal, sebelum dioperasionalkan harus diperiksa, diuji, oleh pengawas spesialis atau pihak ketiga, itu belum dilaksanakan,” ujarnya.

Dia menambahkan, pengakuan dari manajemen, pekerja di PT NVI memang belum didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, ternyata ada TKA yakni Mr Pak. Saat dilihat data dan berkas-berkasnya, diketahui izin kerja Mr Pak itu ada di Sukabumi bukan di Purbalingga.

“Setelah saya minta datanya, memang adanya pelanggaran bahwa Mr Pak izin kerjanya di kabupaten dan Kota Sukabumi, ternyata yang bersangkutan kerja di Purbalingga. Sudah saya tegur, kita tidak mentolelir, saudara Mr Pak harus keluar dari Purbalingga,”katanya.

Saat klarifikasi, Angkat mengaku dibawa ke ruangan oleh Mr Kim. Mr Kim meminta untuk dibantu dalam membereskan kekurangan dan memberikan toleransi. “Mr Kim juga sempat minta tolong, saya dibawa ke ruang, minta dibantu, saya jawab tidak bisa. Sementara Mr Pak tidak bisa kerja di wilayah Purbalingga. Jadi dari aspek tenaga kerja, memang PT Nina sama sekali belum memenuhi aturan,” kata Angkat.

“Kita beri waktu 14 hari (untuk melengkapi persyaratan, red), itu SOP, harus bisa memenuhi. Termasuk TKA, tapi kalau TKA saya jamin waktunya habis, harus keluar dari Purbalingga,” kata Angkat.

Kalau ternyata 14 hari tidak selesai, maka akan dikeluarkan surat teguran kedua, yang batas waktunya 7 hari. Tetapi jika perpanjangan tujuh hari tetap tidak selesai, maka akan meningkat kita pada penyelidikan dan penyidikan. “Kalau tujuh hari belum juga selesi, maka kita tingkatkan lidik dan sidik. Kalau tenaga asing langsung, kita terbitkan surat peringatan. Selama melengkapi ini Mr Pak ini tidka boleh ada di Purbalingga,” katanya.

Sebelumnya dikabarkan, sejumlah personel dari Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Purbalingga mendatangi PT Nina Venus Indonesia (NVI), Kamis lalu. Kedatangan mereka didasari laporan warga terkait beroperasinya pabrik rambut palsu di Desa Kalikabong, Kecamatan Kalimanah meski dokumen perizinannya belum lengkap.

Kasi Dikduk Satpol PP Purbalingga, Sugeng Riyadi membenarkan kabar ini. Menurutnya, saat mendatangi PT NVI, ia ditemui oleh Rina, HRD perusahaan tersebut.  “Ketemu dengan Rina selaku HRD, hasil penjelasannya, 70 persen proses perizinan sudah dilalui,” kata Sugeng.

Meski demikian, perusahaan tersebut belum mengantongi dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL UPL). Padahal dokumen ini menjadi hal sangat penting dimiliki oleh perusahaan, karena terkait dengan dampak lingkungan.(min)


Dikira Milik Perusahaan Lain

Berkaitan dengan persoalan tenaga kerja, Kasi Pengupahan Dinas Tenaga Kerja Purbalingga, Purwanto menjelaskan, gedung PT Nina sebelumnya merupakan gedung PT Yuro. Sedangkan karyawan yang saat ini bekerja di PT Nina juga merupakan pekerja di PT Yuro.

“Itu dulu direkrut oleh PT Yuro, karena Yuro yang merekrut jadi kita pedoman kita itu masih karyawannya Yuro. Terkait dengan statusnya,apakah kontrak atau gimana nanti kita klarifikasi,” katanya.

Terkait dengan masa peralihan, apakah bertepatan dengan habisnya kontrak pekerja atau tidak, pihkanya belum mengkonfirmasikannya. Jika para karyawan PT Nina sudah beralih dari karyawan PT Yuro, maka PT Nina wajib memberikan laporan berupa berita acara. Diketahui, untuk PT Yuro ada sekitar 500 karyawan. Sedangkan yang dipekerjakan di PT Nina sekitar separuhnya.

“Kalau sudah peralihan yang sudah jelas resmi, kita minta juga statusnya, kalau habis kontrak gimana, kalau belum habis kontrak gimana, tapi dilimpahakan itu gimana, jadi nanti kita minta semacam berita acara. Secara regulasi kalau ada peralihan ada berita acara pelimpahan, sementara ini belum ada komunikasi dengan Dinaker,” kata Purwanto.

Dia menambahkan, untuk kondisi bangunan PT Nina memang belum 100 persen siap. Dikabarkan PT Nina akan launching pada bulan Januari 2020. Oleh karena itu, Dinaker meminta dipersiapkan semuanya secara administrasi dan status karyawannnya.

“Rupanya tempatnya belum 100 persen isap artinya belum semuanya. Oleh karena itu kita pesen pada saatnya per kapan PT Nina ini pindah atau berstatus PT kita minta berita acara, stausnya apa kita minta, belum semuanya karyawan pindah, karena ini peralihan,” katan


Sumber :
https://satelitpost.com/beritautama/dinaker-purbalingga-merasa-kecolongan-masalah-pt-nvi-makin-banyak-gunakan-tenaga-kerja-asing-tanpa-izin

Tuesday, December 3, 2019

Belum Kantongi Izin, PT. Nina Venus Indonusa Pekerjakan TKA Dengan Izin Kerja Bermasalah

Desember 3, 2019

Disinyalir belum mengantongi izin PT. Nina Venus Indonusa, salah satu perusahaan yang bergerak dibidang rambut palsu ( Wig ) di Kelurahan Kalikabong, Kecamatan Kalimanah Purbalingga sudah beroperasi.

Satwasker wilayah Banyumas, saat sidak ke perusahaan tersebut ( 2/11 ) mendapatkan beberapa temuan pelanggaran. Lujeng, Satwasker Wilayah Banyumas menyampaikan ” Sesuai dengan aduan masyarakat, yang mengatasnamakan LSM Incident Java Independent (IJI), bahwa ada indikasi pelanggaran pada PT. Nina Venus Indonusa. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak Satpol PP, Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Purbalingga dan DPMPTSP Purbalingga”.

Luneng menerangkan, bahwa ada empat temuan pelanggaran saat sidak tersebut. Pertama, PT. Nina Venus Indonusa memang belum melaksanakan wajib lapor, sebagaimana UU nomor 7 tahun 1981. Kedua, terkait dengan K3 ( keamanan, kesehatan dan keslamatan kerja) juga belum ada sama sekali. Ketiga, informasi dari HRD yang di dampingi Mr. Kim ( owner) dan Mr. Park (TKA), bahwa 560 karyawan, belum diikutsertakan BPJS Ketenagakerjaan. Kemudian yang terakhir masalah adanya TKA ( Tenaga Kerja Asing ) atas nama Mr. Park. Setelah kita meminta datanya, memang ada pelanggaran, bahwa Mr. Park izin kerjanya itu di wilayah Kabupaten Sukabumi bukan Purbalingga. Sudah kita tegur dan kita tidak bisa mentolelir, harus keluar dari Purbalingga.

Terkait karyawan yang diduga adalah peralihan dari PT. Yuro Mustika, Kasi Pengupahan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Purbalingga, Purwanto mengatakan, ” Normatifnya dulu direkrut oleh Yuro, jadi karena Yuro yang merekrut, kita pedomannya itu masih karyawan Yuro. Yang kedua, ini memang ada peralihan, terkait dengan peralihan, apakah ini bertepatan dengan habis kontrak apa engga, pada saatnya nanti kita konfirmasi, karena nanti pada saat peralihan resmi, itu kan nanti kita minta juga statusnya “.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Purbalingga, Ato Susanto, saat di konfirmasi tentang izin PT. Nina Venus Indonusa melalui telepon seluler mengatakan, ” Dia kan mengurus lewat OSS, Tadi itu NIB sudah ada, tinggal beberapa komitmen belum terpenuhi semua. Itu otomatis, kalau komitmen itu terpenuhi, otomatis ijin usaha itu berlaku, jadi DPMPTSP itu tidak mengeluarkan izin, dia ngakses lewat OSS, setelah komitmen terpenuhi semua maka itu berlaku “.

Ketua APINDO Kabupaten Purbalingga, Rocky dalam kesempatannya ikut menanggapi, bahwa dirinya mendukung dengan adanya investor baru yang masuk di Purbalingga, akan tetapi aturan harus tetap di jalani.Dia menekankan pada satu hal, yaitu tentang ketersediaan tenaga kerja, masalahnya untuk area sekitar situ dalam radius 5 km sudah ada 5 Perusahaan dengan produksi sejenis.
Kasi Dikdak Satuan Polisi Pamong Praja ( Satpol PP) Kabupaten Purbalingga, Sugeng Riyadi memberikan konfirmasi melalui pesan singkat, ” pada prinsinya kita mendukung investasi, namun harus juga di penuhi persyaratannya. Hanya saja informasi yang saya dapat sedang dalam proses, sementara pengajuan ijin sekarang sudah memakai sistem OSS, jadi untk bisa mngetahui akses data itu hanya pihak pemohon, dan kami tekankan agar untuk secepatnya di selesaikan dengan ijin lingkungan salah stunya sebagai jembatan untuk permohonan ijin usaha”.

Prinsip, harus ditegakkannya aturan, LSM sebagai kontrol sosial mempunyai kewajiban mengingatkan pihak pihak yang terindikasi melanggar aturan, tentunya dengan ikut serta memberikan masukan pemikiran positif, kata Rasno, Ketua Umum LSM IJI.
Tugas Bangsa News mencoba meminta konfirmasi dari pihak PT. Nina Venus Indonusa, akan tetapi pihak Perusahaan melalui Satpam, Suwito menyampaikan, belum dapat dikonfirmasi karena masih banyak kesibukan.


Sumber :
https://www.tugasbangsanews.com/2019/12/03/belum-kantongi-izin-pt-nina-venus-indonusa-pekerjakan-tka-dengan-izin-kerja-bermasalah/

Wednesday, November 27, 2019

Rambut Palsu Indonesia Terbukti Jempolan

RAMBUT PALSU
27 November 2019, 03:52 WIB

Bagi artis kelas dunia, memakai bulu mata palsu atau rambut palsu (wig) adalah lumrah. Untuk dua hal itu, tak jarang mereka memilih buatan Indonesia karena terbukti bermutu prima. Tak salah jika produksi rambut dan bulu mata palsu jadi komoditi andalan Indonesia untuk ekspor ke mancanegara.

Jika melihat artis tanah air atau mancanegara tampil di televisi, mereka sering berdandan sempurna untuk keperluan hiburan. Bila mereka memakai merek Diva’s Wig atau Fair Lady, artinya mereka memakai rambut atau bulu mata palsu buatan home industri dari Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, atau Sidoarjo, Jawa Timur, yang dikerjakan kaum ibu.

Komoditi penting Indonesia ini diawali pada tahun 1950-1951 saat seseorang bernama Tarmawi yang tinggal di Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga  (Jateng) mulai mengumpulkan potongan rambut untuk dibuat sanggul. Sanggul buatan Tarmawi ini ternyata laris manis saat hajatan pengantin.

Dalam satahun dia tidak saja memenuhi permintaan konsumen dari Purbalingga tapi juga dari kota-kota lain di Jawa Tengah sampai Jakarta. Tarmawi tidak hanya membuat sanggul untuk pengantin tapi juga sanggul Jawa tekuk , sanggul modern sampai sanggul cepol. Juga rambut sambung dan rambut palsu sampai jenggot palsu. Keterampilan itu kemudian menular ke beberapa orang di Desa Karangbanjar dan para perajin itu mulai membentuk home industri.

Karena banyak permintaan dan bahan baku terbatas, pada tahun 1963-an di Desa Karangbanjar sempat ada pasar rambut , yaitu semacam pasar tradisional yang  menawarkan rambut sisa potong atau sisa sisiran rambut. Penyedia bahan baku datang dari berbagai daerah di luar Purbalingga dan pengrajin sanggul membelinya. Pasar rambut itu kini sudah tidak ada.

Kini bahan baku sebagian disediakan oleh pemasok lama, sebagian lagi harus dicari oleh para pengepul rambut asal Karangbanjar. Uniknya pengepul rambut ini sebagian berprofesi sebagai petani, sehingga jika musim tanam atau panen tiba, mereka tidak bisa mengumpulkan bahan baku rambut. Kini, bahan baku tidak hanya berupa potongan rambut asli namun juga bahan sintetis yang didatangkan dari Korea Selatan, Jepang dan China.

Bisnis yang berkembang pesat sejak 1950 ini mengalami masa suram pada era 1970-an. Tahun itu memang beberapa negara juga mulai membuat rambut palsu diantaranya India, Bangladesh, Senegal, dan Filipina. Karenanya, produk asal Indonesia harus bersaing ketat.

Tapi kondisi itu tak terlalu lama. Tahun 1980 pasar dunia kembali mencari produk Indonesia karena rambut palsu asal India tidak memuaskan mereka. Inggris misalnya. Konsumen Inggris menilai kualitas rambut palsu Indonesia sangat baik karena halus. Pasar dunia pun kembali mencari produk Indonesia karena kualitasnya memang jempolan dan seleranya mengikuti tren dunia.

Pada era itu, ekspor rambut palsu mulai diandalkan dan dalam belasan tahun, beberapa pabrik berdiri di Purbalingga dan Sidoarjo. Pabrik di Sidoarjo dengan cepat memenuhi selera konsumen rambut palsu dan bulu mata palsu di AS dan Afrika dengan merek Diva’s Wig yang digemari dunia itu.

Di Purbalingga, komoditi ini menarik perhatian beberapa investor dan mereka mulai menginvestasikan uangnya dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA). Kini ada sekitar 28 PMA di Purbalingga (sebagian besar dari Korea Selatan), selain puluhan home industri yang masih beroperasi. Bisnis ini menyerap sekitar 55 ribu tenaga kerja.

Salah Satu Andalan Ekspor

Jika di Sidoarjo semua pengelolaan bahan dan pengerjaan rambut palsu dikerjakan oleh pabrik, maka di Purbalingga sebagian pengerjaannya diserahkan ke perajin seperti pengumpulan dan klasifikasi bahan baku, pembersihan dan pengerjaan awal. Sedangkan pengerjaan lanjutan seperti penentuan model, pembuatan gelombang (ikal atau lurus) dan pewarnaan dikerjakan di pabrik.

Begitu juga pada bulu mata, dimulai oleh perajin seperti menempelkan rambut pada seutas benang. Perajin yang bermitra dengan pabrik dan mengerjakan sebagian pekerjaan awal disebut perajin plasma. Di pabrik, tidak semuanya dikerjakan dengan mesin karena beberapa bagian masih dikerjakan dengan tangan (handmade) oleh buruh pabrik.

Inilah yang jadi pembeda rambut palsu Indonesia dan China karena di China semua pengerjaannya menggunakan mesin. Ini menimbulkan beberapa konsekuensi, yaitu China sanggup memproduksi jauh lebih banyak dalam waktu singkat. Sedangkan dari segi jumlah (kuantitas) Indonesia lebih sedikit, sedangkan dari sisi kualitas, kita unggul.

Dua puluh tahun ini, komoditi Indonesia ini menguasai sebagian besar kebutuhan dunia, khususnya Amerika Serikat (AS), Eropa, Afrika dan Asia sendiri. Jika disisir lagi, selama 30 tahun terakhir ini perajin dan dan pabrikan Indonesia telah mengekspor kurang lebih ke 40 negara tujuan.

Untuk Asia, negara penyuka rambut dan bulu mata palsu produk Indonesia adalah Malaysia, Jepang, Arab, Thailand, Bangladesh, China, Singapura, dan Iran. Sedang negara Eropa yang menyukai rambut palsu Indonesia adalah Belanda dan Inggris. Sedangkan negara Afrika adalah Nigeria.

Rambut palsu dan bulu mata asal Indonesia sebagian besar buatan tangan alias manual, karena itu dalam rumpun ekspor, komoditi ini dimasukkan dalam kelompok handycraft. Sejak tahun 2013 kelompok produk ini berhasil membukukan nilai ekspor total sebesar US$ 696 juta (sekitar (Rp 9.7 triliun) dan selalu mengalami peningkatan setiap tahun.

Dari jumlah ini ekspor rambut dan bulu mata mengisi slot 30 % dari nilai ekspor handycraft. Pada tahu 2015 produk ini alami surplus sebesar US$ 3,38 juta (sekitar Rp4.7 miliar) dan menguasai sekitar 7,28% total ekspor dunia. Sehingga bisa dikatakan, komoditi ini penting dan menjadi andalan perdagangan Indonesia ke luar negeri.

Hambatan nyata dalam ekspor rambut dan bulu mata palsu Indonesia dalam dua tahun ini adalah persaingan ketat dengan China. Seperti yang sudah dijelaskan di atas meski Indonesia unggul dalam kualitas, tapi secara kuantitas produk China lebih banyak dan murah. Sejauh ini pemerintah sudah membantu para pengrajin dengan kemudahan perolehan bahan baku (terutama sintetis) dan potongan pajak.


Sumber :
https://www.indonesia.go.id/ragam/seni/ekonomi/rambut-palsu-indonesia-terbukti-jempolan

Friday, October 11, 2019

Kemendag soal Industri Bulu Mata Purbalingga PHK 600 Pekerja: Nanti, Saya Lihat Dulu

Jumat, 11 Oktober 2019 19:05

https://www.merdeka.com/uang/kemendag-soal-industri-bulu-mata-purbalingga-phk-600-pekerja-nanti-saya-lihat-dulu.html


Merdeka.com - Produsen bulu mata palsu asal Korea Selatan (Korsel) di Purbalingga menghadapi persaingan sengit dari China. Ekspor bulu mata palsu Purbalingga kian berkurang. Imbasnya pemutusan hubungan kerja (PHK) telah terjadi, di mana 600 pekerja salah satu pabrik kehilangan pekerjaannya.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Indrasari Wisnu Wardhana mengaku belum dapat berkomentar banyak.

"Nanti dulu. Saya lihat dulu dong. Industrinya apa kayak bagaimana," kata dia saat ditemui di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (11/10).

Dia mengatakan perlu melihat lebih jauh terkait berita tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan apa saja penyebab turunnya kinerja bisnis perusahaan. "Kan nggak bisa lihat kalah karena apa kan kalau saya nggak tahu industrinya bagaimana," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, produsen bulu mata palsu asal Korea Selatan (Korsel) di Purbalingga menghadapi persaingan sengit dari China. Ekspor bulu mata palsu Purbalingga kian berkurang. Imbasnya pemutusan hubungan kerja (PHK) telah terjadi, di mana 600 pekerja salah satu pabrik kehilangan pekerjaannya.

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, mengatakan produksi bulu mata di China lebih banyak. Di mana, produktivitas tenaga kerja China 9 kali lebih tinggi dari Purbalingga.

Dampak tak terelakkan, di tengah situasi pasar yang melemah, perusahaan mau tidak mau harus mengurangi karyawan agar usahanya tetap berjalan. Hal ini disampaikan usai kunjungannya ke PT Indokores Sahabat, PT Hyup Sung, PT Sun Chang Indonesia, ketiganya merupakan perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) dari Korea Selatan. Serta satu perusahaan pabrik rambut Bintang Mas Triyasa (BMT) yang merupakan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri).

"Beberapa perusahaan PMA bahkan sudah mulai melirik usaha di luar negeri seperti Kamboja, dengan situasi yang kondusif dan upah serta produktivitas tenaga kerjanya lebih baik," ujarnya saat mengunjungi sejumlah pabrik rambut di Purbalingga, Kamis (10/10).

"Kami berharap semua pihak untuk ikut situasi agar lebih baik, dan permintaan kembali pulih. Jika ada permasalahan, diselesaikan dengan baik dan musyawarah sesuai ketentuan regulasi ketenagakerjaan," tambahnya.

Perusahaan Alami Stagnasi

Pemilik PT Indokores Sahabat, Hyung Don Kim, mengakui perusahaan tengah alami stagnasi kinerja. Jika pasaran lesu, dia memprediksi perusahaan hanya bisa bertahan 5-10 tahun. Kim menambahkan, kompetitor bulu mata palsu yang bersaing ketat dari Purbalingga yakni dari China.

"Dari sisi bahan baku, kami mengandalkan dari India dan China. Bahan baku rambut sintetis dari Indonesia kualitasnya kurang bagus, bahkan banyak dicampur bahan lain. Ada juga bahan baku rambut sintetis yang sambungan," kata Kim.

Sementara, pemilik PT Hyup Sung Indonesia, Song Hyung Keun mengakui, produksi bulu mata palsu di perusahaannya menurun tajam seiring dengan permintaan pasar yang menurun karena bersaing dengan China. Biasanya rata-rata produksi per bulan 1,3 juta buah, namun saat ini menurun hingga 30 persen.

Dari sisi harga, bulu mata palsu China juga lebih murah. Sedang sisi kualitas juga sudah menyerupai produk rambut Purbalingga yang dikerjakan secara manual.

"Mau tidak mau, kami harus mengurangi jumlah karyawan dari 1.900 orang menjadi 1.300 orang. Oleh karenanya, kami mengistilahkan, untuk menyelamatkan perusahaan harus memotong ekornya dulu, daripada badannya ikut termakan. Caranya dengan mengurangi karyawan dan meningkatkan produktivitas pekerja (bulu mata palsu) serta inovasi produk," kata Song.

Thursday, October 10, 2019

Industri Wig Purbalingga Hanya akan Bertahan 10 Tahun Lagi

Kamis 10 Oct 2019 18:53 WIB

https://nasional.republika.co.id/berita/pz5qce368/industri-emwig-empurbalingga-hanya-akan-bertahan-10-tahun-lagi


Rep: Eko Widiyatno/ Red: Dwi Murdaningsih

Pekerja pabrik rambut palsu mengenakan pakaian kebaya, dalam rangka memperingati hari kartini di Purbalingga, Jateng, Kamis (21/4).

Pasar rambut palsu saat ini sedang sepi dan kalah dengan produk Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA -- Sengitnya persiangan industri rambut dan bulu mata palsu di pasar global, berdampak pada ketahanan industri serupa di Purbalingga. Bahkan beberapa pelaku industri yang kebanyakan berasal dari Korea Selatan, mengaku bila kondisinya masih serupa hingga beberapa tahun mendatang, maka industri rambut dan bulu mata palsu di Purbalingga hanya akan bisa bertahan 5-10 tahun lagi.

Investor PT Indokores Sahabat Mr Hyung Don Kim yang berkebangsaan Kores Selatan, menyebutkan kondisi perusahaannya saat ini boleh dikatakan stagnan. ''Jika pasaran lesu seperti saat ini, dan kondisi tidak nyaman, kami memprediksi perusahaan kami hanya akan bisa bertahan 5-10 tahun lagi,'' kata  Mr Kim saat menyambut kunjungan kerja Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, Kamis (10/10).

Mr Kim menambahkan, kompetitor utama  bulu mata palsu dari Purbalingga, saat ini harus bersaing ketat dengan produsen serupa dari Cina. Sedangkan untuk produksi rambut palsu atau wig, kualitas produksi dari Purbalingga masih lebih baik kualitasnya, dibanding produksi serupa dari India dan Cina.

''Namun untuk bahan bakunya, kami mengandalkan pasokan impor dari India dan Cina. Bahan baku rambut sintetis dari Indonesia, kualitasnya kurang bagus karena banyak dicampur bahan lain. Bahkan ada juga bahan baku rambut sintetis yang sambungan,'' katanya.

Investor PT Hyup Sung Indonesia Song Hyung Keun yang juga asal Korea Selatan, bahkan menyebutkan produksi bulu mata palsu di perusahaannya sejak beberapa tahun terakhir mengalami penurunan tajam. Hal ini  seiring dengan permintaan pasar yang anjlok, karena kalah bersaing dengan produksi Cina yang harganya lebih murah.

''Sebelumnya, kami bisa memproduksi 1,3 juta pieces per bulan. Namun saat ini turun hingga sekitar 30 persennya. Dalam kondisi seperti ini, mau tidak mau kami juga harus mengurangi jumlah karyawan dari 1.900 orang menjadi tinggal 1.300 orang,'' katanya.

Mr Song menambahkan, produktivitas tenaga kerja di Cina lebih tinggi dari Purbalingga. Bahkan, mereka cenderung meminta lembur bekerja. Sedangkan di sisi harga,  bulu mata palsu asal Cina juga lebih murah dengan  kualitas yang sudah menyerupai produk rambut Purbalingga.
Baca Juga
Debit Mata Air di Purbalingga Turun 40-50 Persen

Pendapatan Perangkat Desa di Purbalingga Naik

92 Desa Terdampak Kekeringan di Purbalingga
''Dalam kondisi seperti ini, kami juga harus melakukan penyesuaian.  Caranya dengan mengurangi karyawan dan meningkatkan produktivitas pekerja serta inovasi produk,'' kata Mr Song.

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi menyebutkan, di wilayahnya ada beberapa perusahaan yang memproduksi rambut dan bulu mata palsu. Selain PT Indokores Sahabat  PT Hyup Sung dan PT Sun Chang Indonesia yang merupakan perusahaan PMA (Penanaman  Modal Asing) sal Korea Selatan, satu perusahaan pabrik rambut Bintang Mas Triyasa (BMT) yang merupakan perusahaan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri).

Terkait kondisi pasar global yang sedang terjadi saat ini, Bupati minta agar semua pihak yang terkait dengan industri bulu mata palsu Purbalingga, bisa menahan diri. ''Kondisi saat ini memang cukup sulit bagi industri rambut dan bulu mata palsu. Namun kami berharap, semua pihak bisa menahan diri sehingga industri ini bisa tetap bertahan bahkan berkembang lagi,''' katanya.

Saturday, July 13, 2019

Investasi di Jateng, Ibarat Meminang Gadis Seksi

Sat, 13 Jul 2019 - 06:30 WIB 1153

https://www.suaramerdeka.com/news/baca/188825/investasi-di-jateng-ibarat-meminang-gadis-seksi


TAHUN lalu, Presiden Joko Widodo datang ke Purbalingga meresmikan pembangunan Bandara Jenderal Besar (JB) Soedirman. Ini jadi momentum positif untuk pertumbuhan perekonomian di kabupaten itu dan daerah sekitarnya. Dia berharap, investasi di daerah-daerah itu semakin membesar. Tidak hanya industri bulu mata dan rambut palsu saja, tapi industri lain yang berorientasi ekspor.

Ternyata, efek positif dari pembangunan bandara itu langsung terasa. Meskipun belum jadi, namun para investor berbondong-bondong menanamkan modalnya ke Purbalingga, membangun pabrik.  Sebut saja, pembangunan hotel bintang empat Grand Braling Hotel, pabrik boneka John Toys, pabrik obat herbal PT Herba Emas Wahidatama, pabrik rambut PT Cahaya Abadi Cemerlang dan PT Sun Chang Indonesia dan Universitas Perwira Purbalingga.

Wal hasil, pada 2018, nilai investasi di Purbalingga terlampaui Rp 622,8 miliar atau naik 132,5 persen dari target Rp 470 miliar. Jumlah itu naik 10 persen dari tahun sebelumnya yang nilainya Rp 547,46 miliar.

Situasi dan kondisi Purbalingga yang kondusif menjadi poin penting untuk investasi. Kabupaten di kaki Gunung Slamet ini hampir tidak ada demonstrasi buruh. Terbukti, ada 24 perusahaan modal asing yang selama ini eksis tetap kegiatan usaha dengan cukup lancar.  "Tidak pernah ada hal-hal yang sifatnya mengganggu," kata Plt Kepala Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Purbalingga, Mukodam, Jumat (12/7).

Terlebih lagi, lanjutnya, ke depan, Purbalingga bakal punya bandara komersial yang sesuai rencana target sudah operasional di 2020. Ini akan menjadi magnet tersendiri bagi investor yang masuk ke Purbalingga. Belum lagi, infrastruktur pendukung aksesbilitas antarkecamatan sekarang sudah ditingkatkan sedemikian rupa. Jalannya lebar dan halus.

Keberadaan exit tol Pemalang juga menjadi aksesbilitas semakin bagus untuk investasi. Artinya, untuk mobilisasi produk industri semakin mudah menuju Pantura. Pemprov juga sudah meningkatkan aksesbilitas dari Purbalingga ke Pemalang dengan memperlebar jalan. "Selama ini, perusahaan di Purbalingga yang produknya diekspor, ingin akses ke Pantura dipermudah," kata Mukodam.

Para investor yang akan menanamkan modalnya di Purbalingga, juga tidak perlu khawatir akan tanaga kerja. Ketersediaan tenaga kerja di Purbalingga masih sangat memungkinkan terutama kaum Adam. Tidak kalah penting, upah minimum kabupaten (UMK) juga bersaing dengan kabupaten tetangga.

Pemkab Purbalingga, melalui dinasnya, memberikan fasilitas kemudahan bagi calon investor. Perizinan saat ini sudah menerapkan online singgle submission, artinya, untuk mengurus izin, investor tidak harus ke kantor perizinan. Cukup dari kantor perusahaan itu sendiri atau bahkan dari rumah menggunakan ponsel berbasis android. "Komunikasi antara pengusaha dengan stakeholder dipermudah untuk mendukung peningkatan investasi," imbuh Mukodam.

Susun RTRW

Dan perlu diingat, sekarang Pemkab Purbalingga tengah menyusun ulang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dengan meningkatkan lahan peruntukan investasi mencapai 300 persen luasannya dibanding RTRW yang sebelumnya.

Naiknya investasi di Purbalingga seiring dengan naiknya investasi di Jawa Tengah. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Prasetyo Aribowo, baru-baru ini mengatakan, tahun lalu, target investasi sebesar Rp 47 triliun, namun bisa teralisasi hingga Rp 59 triliun.

Nah, tahun ini ditarget Rp 56 triliun. Hal itu bukan beralasan. Adanya Tol Trans-Jawa dan munculnya kawasan industri di sejumlah kabupaten/kota menjadi magnet bagi investor. Dari catatan DPMPTSP, banyak investor yang akan masuk di wilayah pantura. Sebut saja di Pemalang, Demak, Semarang, Kendal, Brebes dan Tegal.

Di berbagai kesempatan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berujar, Jateng itu seperti gadis seksi yang sangat menarik untuk dipinang. Para investor seharusnya tidak perlu berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di Jateng.

"Sangat seksi. Nilai kompetisi kita tinggi. Tidak lagi bersaing dengan provinsi tetangga, tapi sudah dengan Vietnam. Kita sangat menarik, jadi mereka (investor) mau datang. Mereka yang sudah menanamkan modalnya, relatif kerasan dengan kultur dan kinerja di Jateng," katanya di Purbalingga, Jumat (12/7).

Dengan target investasi Rp 56 triliun, Ganjar punya jurus jitu untuk menarik para investor, salah satunya yakni tour investasi. Berkeliling menawarkan seksinya Jateng pada para investor terutama dari asing. "Ada kawasan khusus, kawasan ekonomi, kawasan industri. Beberapa kabupaten membuat itu. Memang yang banyak masih di Pantura. Nah, selatan yang mau membuat Cilacap, Banyumas, Purworejo, ini kita tawarkan ke banyak negara," katanya.

Untuk Purbalingga, mungkin kawasan itu belum, tapi kota ini sudah punya industri besar rambut dan bulu mata. Apa lagi untuk dua mata ini, banyak dari penanaman modal asing (PMA). Hal itu, menurutnya sangat luar biasa.  "Ini nanti kalau bandara (Bandara JB Soedirman) jadi, wuih sudah, sektor lain, seperti pariwisata di sini  juga akan boom. Maka pariwisata ini penting," imbuhnya.

Lebih lanjut, investor butuh fasilitas-fasilitas kemudahan. Antara lain insentif tax holiday dan izin yang gampang. Hal inilah yang terus didorong. Oleh karena itu, dia meminta para bupati, wali kota, camat, kades dan masyarakat wajib mendukung, permudah para investor sesuai dengan koridor aturan yang ada.

"Biar wellcome, jangan dikepruk, jangan diperes, izinnya yang mudah. Itu akan bikin orang (investor) seneng, kan mau menanamkan modal. Toh nanti yang kerja kan orang-orang sekitar juga," katanya.

Menurutnya, di Istana Bogor, Selasa (8/7), Presiden Jokowi meminta Jateng diharapkan jadi penopang ekonomi nasional. Jateng punya potensi besar di bidang industri dengan hasil ekspor dan bidang pariwisata. Pemerintah pusat pun siap memberikan sokongan bantuan untuk percepatan pertumbuhan perekonomian tersebut.

Saturday, January 20, 2018

Ternyata Industri Rambut Palsu Terbesar Kedua di Dunia ada di Purbalingga

Sabtu, 20 Januari 2018 17:38

https://jateng.tribunnews.com/2018/01/20/ternyata-industri-rambut-palsu-terbesar-kedua-di-dunia-ada-di-purbalingga.


Ternyata Industri Rambut Palsu Terbesar Kedua di Dunia ada di Purbalingga. Industri ini menyerap sekitar 60 ribu tenaga kerja di desa-desa dan mayoritas adalan perempuan

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Industri rambut palsu berskala internasional di Kabupaten Purbalingga terus bergeliat. Industri rambut di Purbalingga bahkan disebut terbesar di dunia setelah kota Guangzo di China.

Keberadaan industri itu membawa keuntungan tersendiri bagi daerah karena mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja hingga ke pelosok desa.


Bupati Tasdi pernah menyebut, pekerja yang terserap di industri rambut dan bulu mata palsu di Purbalingga mencapai angka 60 ribu orang. 95 persen di antaranya adalah tenaga kerja wanita.

Mereka bukan hanya bekerja di perusahaan, namun sebagian mengerjakannya di rumah lalu disetor ke pengepul.

Aktivitas pengrajin bulu mata di Industri Kecil Menengah (IKM) PT Bilqis Eyelashes di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, Selasa (9/5/2017).
Aktivitas pengrajin bulu mata di Industri Kecil Menengah (IKM) PT Bilqis Eyelashes di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, Selasa (9/5/2017). (HUMAS PEMKAB PURBALINGGA)
Pemandangan di desa-desa di Purbalingga beda dari desa umumnya di daerah lain. Teras-teras rumah diramaikan ibu rumah tangga yang duduk meringkuk menganyam bulu mata atau rambut palsu. Sembari bekerja, mereka sesekali mengumbar canda, meski mata dan tangannya tetap serius.

Sumarti, ibu rumah tangga asal Desa Tlahab Lor bersyukur menjadi pengrajin bulu mata palsu di desanya. Ia bekerja kepada Penanam Modal Asing (PMA) di desanya dan memperoleh uang dari hasil pekerjaannya.

Dari hasilnya bekerja, ia mengaku bisa menyekolahkan anaknya dan memasukkannya ke Pondok Pesantren di Wonosobo. Ia juga bisa meringankan beban finansial suami untuk menghidupi keluarga.

Ia berharap industri ini terus berjalan karena telah menjadi tumpuan hidup masyarakat pedesaan.

“Pekerjaan ini agar terus ada. Karena dengan ini bisa membantu suami,”kata Sumarti, Sabtu (20/1)

Di Desa Tlahab Lor Kecamatan Karangreja, terdapat tiga PMA, yakni PT Midas, PT Royal Korindah dan PT Indokores yang mampu menyerap ratusan pekerja wanita desa.

Kepala Dusun Tlahab Desa Tlahab Lor Teguh Sugiyanto mengatakan, keberadaan PMA di desanya cukup membantu mendongkrak ekonomi rakyat.

Sebelum industri ini masuk, lazimnya desa lain, perekonomian desa Tlahab hanya mengandalkan sektor pertanian. Kondisi itu berubah usai industri rambut dan bulu mata palsu masuk ke desa. (*)

Thursday, April 21, 2016

10.696 "Kartini" Berkebaya Saat Bekerja

Arbi Anugrah - detikNews

Jakarta detikNews - Sebanyak 10.696 buruh pabrik rambut palsu di Purbalingga, Jateng, memperingati Hari Kartini dengan memakai kebaya saat bekerja. Aksi ini pun meraih rekor MURI.
Foto 1 dari 5

Pekerja pabrik rambut palsu di PT. Boyang Industrial, Purbalingga, Jawa Tengah, Kamis (21/4/2016) mengenakan pakaian kebaya dalam rangka memperingati Hari Kartini.

http://news.detik.com/foto-news/3193331/10696-kartini-berkebaya-saat-bekerja/1

Saturday, March 12, 2016

Tuntut Gaji Sesuai UMP, Karyawan PT Sung Chang Ngadu ke DPRD NTT

Kupang, mediantt.com – Sedikitnya 50 karyawan PT Sung Chang, Jumat (11/3), mendatangi DPRD NTT. Mereka mengaku gajinya tidak dibayar sesuai upah minimum provinsi (UMP). Para pekerja yang memproduksi rambut palsu itu diterima dua anggota DPRD NTT, Gabriel Suku Kotan dari Fraksi Partai Demokrat dan Viktor Lerik dari Fraksi Gerindra, di ruang Fraksi Demokrat.
Koordinator karyawan, Adriani Sanu, menjelaskan, sejak September 2015 mereka diterima sebagai karyawan PT Sung Chang yang bergerak di bidang produksi rambut palsu dan bekerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Setelah diterima, jelas Sanu, mereka bekerja membuat rambut palsu untuk dikirim ke luar daerah, bahkan luar negeri, segala kewajiban sebagai karyawan dilaksanakan sesuai ketentuan perusahaan. Hanya saja setiap kali pembayaran gaji, peraturan selalu berubah-ubah sehingga mereka merasa tidak aman dan dirugikan.

Sesuai ketentuan perusahaan, sebut Sanu, semua karyawan Knetting mengikuti training selama tiga bulan dengan gaji Rp 600.000 per bulan. Namun saat pembayaran, uang itu dipotong lagi oleh manajemen sebesar Rp 50.000 dengan alasan sebagai uang pengikat.

“Kami merasa tidak puas sehingga melaporkan kasus ini ke Nakertrans Kota Kupang dan juga ke DPRD Propinsi untuk memperjuangkan hak karyawan. Kami meminta agar segala hak kami dipenuhi. Minimal gaji sesuai UMP dan terdaftar sebagai peserta BPJS,” katanya.

Hal senada disampaikan,Norma Sede, Itha Dionisia Tobi dan Netha. Mereka berkara, selama lima bulan bekerja, hasil atau gaji yang diterima tidak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan, apalagi mereka tidak terdaftar sebagai peserta BPJS.

Gabriel Suku Kotan mengapresiasi para karyawan PT. Sung Chang yang menyampaikan aspirasinya ke DPRD NTT. ”Kami berterima kasih atas segala aspirasi yang disampaikan. Kami menerima keluhan adik-adik dan akan disampaikan kepada pimpinan DPRD untuk disikapi secara lembaga,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Viktor Lerik, bahwa apa yang disampaikan karyawan PT. Sung Chang itu diterima dan sebagai wakil rakyat tetap menampung dan melaporkan kepada pimpinan DPRD NTT untuk ditindaklanjuti. ”Sebagai wakil rakyat kami menerima aspirasi ini dan siap meperjuangkannya sesuai undang-undang ketenagakerjaan yang berlaku,” tegasnya.

Usai berdialog, Lerik dan Suku Kotan bersama para karyawan berjalan kaki mendatangi kantor PT Sung Chang yang terletak di Jalan El Tari I, tetapnya di depan Gedung DPRD NTT, untuk menemui manajemen sekaligus memantau proses kerja perusahaan itu.

Lerik dan Suku Kotan diterima pimpinan PT Sung Chang cabang Kupang, Agus Bataona dan HRD-nya, Vebby, di halaman depan kantor itu.

Kepada kedua anggota Dewan ini Agus dan Vebby menjelaskan, sejak mengikuti seleksi, para karyawan sudah disampaikan bahwa selama tiga bulan mengikuti training dengan gaji Rp 600.000 di tambah bonus Rp 50.000 dan setiap bulan dipotong Rp 50.000 sebagai pengikat.

” Uang yang dipotong ini tidak akan hilang dan akan dikembalikan pada bulan ketujuh. Demikian juga gaji mereka akan dihitung sesuai UMK setelah bulan ketujuh. Semua ketentuan ini sudah disampaikan saat selekasi,” tegas Vebby.

Kepada manajemen, Viktor Lerik meminta agar persoalan tersebut segera diselesaikan dengan investor yang berasal dari Korea. Bahkan Lerik langsung menghubungi pemiliknya yang sedang berada di Jakarta agar segera ke Kupang untuk menyelesaikannya.

”Kita semua dengar tadi saya telepon dan pemilik perusahaan bersedia datang pada hari Rabu minggu depan untuk menyelesaikan masalah ini, sekaligus bertemu DPRD. Saya berharap setelah ini semua karyawan yang menyampaikan aspirasi tadi tetap kembali bekerja dan jangan diapa-apakan,” tegasnya, mengingatkan.

Menjawab pernyataan itu, Bataona berjanji semua karyawan kembali bekerja seperti biasa dan tidak usah takut. ”Sejak awal saya mengatakan saya selalu berada di belakang semua karyawan,” teganya. (jdz)

Wednesday, May 6, 2015

Puluhan Eks Karyawan PT Yuro Geruduk Dinsosnakertrans

6 May 2015

https://radarbanyumas.co.id/puluhan-eks-karyawan-pt-yuro-geruduk-dinsosnakertrans/


PURBALINGGA- Aksi puluhan eks karyawan PT Yuro Mustika Purbalingga, kembali terjadi, Selasa (5/5). Mereka menggeruduk Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Purbalingga. Eks karyawan yang didominasi perempuan itu meminta dinas untuk memfasilitasi kembali hak pesangon mereka dari PT Yuro yang dinilai belum sesuai aturan.

Mereka ingin mendapatkan pesangon yang layak, karena mereka merasa di-PHK per Januari 2015 lalu oleh perusahaan. Namun yang terjadi, mereka hanya dianggap mengundurkan diri dari perusahaan. Pesangon senilai Rp 6 juta hingga Rp 10 juta  yang sudah diterima sekitar 20 karyawan itu dinilai belum layak.

“Saat ini kami hanya mendapatkan tali asih yang dibayarkan bertahap. Dari 63 eks karyawan, baru 20 yang menerima. Padahal sesuai aturan yang ada, jika di-PHK, pesangon yang diterima berkisar Rp 19 juta atau lebih, tergantung masa kerja dan lainnya.

Perwakilan eks karyawan, Suwarti mengatakan, ada karyawan yang sudah bekerja hingga 22 tahun, namun hanya mendapatkan tali asih Rp 9,4 juta. Padahal sesuai undang-undang jika masa kerja lebih dari 20 tahun mendapatkan pesangon Rp 19 juta.

“Perlu ditegaskan, kami di sini tidak bermaksud menjelekkan nama PT Yuro. Kami hanya meminta agar mendapatkan hak pesangon karena telah diberhentikan kerja (PHK) oleh perusahaan,” katanya.
Rombongan itu diterima Kepala Dinsosnakertrans. Dalam mediasi, mereka tetap meminta pesangon layaknya PHK, bukan bekas karyawan yang mengundurkan diri. Mereka mengaku, surat pernyataan pengunduran diri itu berbeda dengan yang mereka tandatangani ketika itu. Dengan kata lain, ada dugaan pemalsuan surat.

“Kami meminta hak PHK, bukan dianggap mengundurkan diri. Dinas seharusnya bisa memfasilitasi kami dengan perusahaan agar persoalan ini bisa selesai,” kata Sugiarti, perwakilan lainnya.
Saat mediasi, Kepala Dinsosnakertrans Purbalingga, Ngudiarto SH mengaku sudah berkoordiinasi dengan manajemen pabrik. Sebenarnya pabrik siap merampungkan tali asih itu. Sedangkan opsi lainnya yaitu akan mengupayakan agar sisa eks karyawan yang belum menerima tali asih akan diupayakan agar hutang mereka yang rata- rata 400 ribu ke pabrik dianggap lunas tanpa mengurangi tali asih itu.

“Kepada kami, PT Yuro mengaku siap menerima kembali eks karyawan itu. Dalam waktu tunggu atas sengketa sampai Maret kemarin tetap akan dihitung upahnya. Namun karyawan itu kabarnya menolak tawaran itu. Kami tidak bisa memberikan sanksi ke PT Yuro, karena secara administratif pabrik sudah menjalankan prosedur memberikan tali asih itu,” rincinya.

Sedangkan soal dugaan adanya pemalsuan dokumen surat pengunduran diri, ia mempersilakan eks karyawan itu menempuh jalur hukum. “Untuk urusan surat itu palsu tau tidak, itu bukan ranah kami,” tegasnya.

Ketua Komisi III DPRD Purbalingga, Ahmad Sa’bani mengatakan, dewan sudah menyampaikan  rekomendasi kepada bupati. Dewan meminta agar bupati segera menyelesaikan persoalan ini. “Kami meminta pemerintah melalui dinas agar bisa menyelesaikan dan menuntaskan persoalan ini,” tegasnya. (amr/bdg)

Thursday, June 12, 2014

Wig Produksi Kota Banjar Incaran Selebritis Dunia

12/06/2014 0 Comments

Pekerja PT. Sung Chang Cabang Kota Banjar, tampak tengah mengerjakan proses awal pembuatan rambut palsu. Pekerjaan tersebut memerlukan ketelitian dan keuletan. Foto: Eva Latifah
Banjar, (harapanrakyat.com)

Siapa sangka rambut palsu/wig yang biasa dipakai oleh selebritis tanah air maupun mancanegara, proses awalnya diproduksi di Kota Banjar.

Industri rambut palsu/wig mulai muncul di Kota Banjar pada tahun 2003. Lokasi industri wig itu tepatnya di Jl. Husen Kartasasmita, No. 212, Dusun Warung Buah, RT. 26, RW. 13, Desa Neglasari, Kecamatan Banjar, di dirikan oleh PT. Sung Chang Indonesia.

Namun, kala itu pekerjanya masih dalam tahap pelatihan. Jumlahnya pun kurang dari 100 orang, dan tempat yang digunakan masih mengontrak di Aula Desa Situbatu, Kecamatan Banjar.
PT Sung Chang Indonesia, dikenal sebagai perusahaan rambut palsu terbesar di Purbalingga, dan mungkin juga di Jawa Tengah dan Indonesia.

Selain mempunyai 2 pabrik di Purbalingga, PMA Korea Selatan ini, membuka cabangnya di Kota Banjar, Jawa Barat, dan Wates, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta.
Pabrik pembuat rambut palsu ini mulai beroperasi dan menempati bangunan pabrik milik PT. Sung Chang sendiri pada bulan Maret 2011.

Menurut Bagian Personalia PT. Sung Chang Indonesia Cabang Kota Banjar, Ugi Suhara, alasan dipilihnya Banjar sebagai lokasi pabrik PT. Sung Chang untuk wilayah Priangan Timur, lantaran Upah Minimum Kota (UMK) di Banjar relatif terjangkau nilai investasi.

“Sebelumnya sudah survey ke Tasik dan Ciamis. Tadinya mau di Ciamis, cuma lebih cocok di Banjar,” ujar Ugi, kepada HR, Senin (09/06/2014).

Saat ini jumlah pekerja telah mencapai 530 orang, dan sebagian besar merupakan kaum perempuan. Mereka berasal dari daerah sekitar, namun banyak pula pekerja yang berasal dari luar Banjar, seperti Cimaragas, Cisaga, dan Pamarican, Kab. Ciamis.

Pembuatan wig di PT. Sung Chang Indonesia Cabang Kota Banjar ini hanya knetting, atau proses paling awal. Sehingga, dalam pengerjaannya membutuhkan keuletan, ketelitian dan ketekunan, karena dikerjakan secara manual dari jam 07.30-15.30 WIB.

Perempuan dianggap lebih teliti dan tekun, agar hasil yang diperoleh bisa sempurna. Sedangkan proses finishing dikerjakan di pabrik pusat, yakni di Purbalingga.

Adapun alat-alat yang digunakan yaitu patung kepala terbuat dari kayu, jaring, jarum dan stik, yaitu alat untuk mengikat rambut. Bahan bakunya menggunakan berupa rambut sintetis diimpor dari Jepang dan Korea.

Dalam satu minggu pengiriman dilakukan dua kali, yaitu setiap hari Rabu dan Sabtu. Saat ini, seluruh pabrik Sung Chang memproduksi sekitar 1,4 juta wig per-tahun, kebanyakan diekspor ke AS, Kanada, dan Prancis. (Eva Latifah/Koran HR)

Tuesday, October 2, 2012

Wig SCI diminati pasar luar negeri

Selasa,  2 Oktober 2012  −  13:45 WIB

http://ekbis.sindonews.com/read/676288/34/wig-sci-diminati-pasar-luar-negeri-1349160312


Sindonews.com - Rambut palsu (wig) produksi PT Sung Chang Indonesia (SCI) Kulonprogo cukup dimiati pasar luar negeri. PT SCI, saat ini kewalahan memenuhi permintaan pasar. Pasca permasalahan internal dengan karyawan, SCI telah berbanah.

Vice President PT SCI, Chou Hyong Choe mengatakan konflik dengan karyawan beberapa waktu lalu, berdampak terhadap produksi rambut palsunya.

Saat itu banyak buruh yang mundur, dan hanya menyisakan sekitar 1.500 orang saja. Padahal wig buatan SCI banyak diminati pasar Eropa, Amerika dan Jepang.

“Permintaan banyak tetapi kita sulit memenuhinya,” jelas Chou di Kulonprogo, Selasa (2/10/2012).

Menurutnya, ketika memiliki buruh 2.500 orang, produksi wig dari SCI bisa mencapai 85 ribu piece per bulannya. Namun karena ada konflik produksi menurun dan hanya 25 ribu piece saja.

Kini perusahaan terus melakukan pendekatan dengan karyawan dan mampu meningkatkan produksinya. “Sekarang produksi kita sudah kembali ke angka 50 ribuan,” tuturnya.

Chou mengakui, permasalahan ketenagakerjaan telah menjadi elemen penting dalam produksi. Untuk itulah dia melakukan perbaikan terhadap managemen karyawan. Termasuk penambahan berbagai sarana, sistem pengupahan hingga komunikasi dengan buruh.

PT SCI sendiri, masih membuka kesempatan kerja bagi calon buruh. Mereka bisa mengikuti masa magang selama tiga bulan. Selebihnya akan dipehritungkan sebagai buruh, dengan melihat kemampuan dalam memproduksi wig.

“Komunikasi bipartite, kita maksimalkan dengan menyediakan ruangan khusus agar masalah buruh bisa kita dengar,” terangnya.

(gpr)

Pabrik Wig di Kulon Progo Kebanjiran Pesanan

Sel, 2 Okt 2012

https://id.berita.yahoo.com/pabrik-wig-di-kulon-progo-kebanjiran-pesanan-090006555--finance.html


TEMPO.CO, Kulon Progo - Produsen rambut palsu atau yang biasa disebut wig di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kewalahan melayani pesanan yang juga datang dari luar negeri. Pesanan yang cukup banyak ini tidak seimbang dengan jumlah karyawan sehingga pengerjaan pesanan agak tersendat.

Menurut Vice President PT Sung Chang Indonesia (SCI) Kulonprogo, Chou Hying Choe, wig buatan pabriknya banyak diminati oleh konsumen, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Wig produksi Kulon Progo ini banyak dipesan oleh negara negara besar, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa. Namun, dengan jumlah karyawan sebanyak 1.500 orang, perusahaan masih merasa kekurangan tenaga untuk mengerjakan pesanan.

"Permintaan wig sangat tinggi. Kami sampai kewalahan melayani. Idealnya ada 2.500 pekerja," kata Chou Hyong Choe pada Tempo, Selasa, 2 Oktober 2012.

Dia memperkirakan, dengan jumlah karyawan 2.500 orang, produksi wig setiap bulan bisa mencapai 85.000 buah. Saat ini dengan 1.500 pegawai, produksi wig per bulan baru 25.000 wig saja. »Saat ini sedang berbenah untuk menaikkan jumlah produksi,” kata Choe.

Untuk menaikkan jumlah produksi itu, perusahaan juga menambah fasilitas buat para pegawai, seperti sistem pengupahan, kesejahteraan, dan penambahan sarana lainnya. "Kami masih membutuhkan banyak tenaga kerja," kata dia.

Peluang kerja itu sebenarnya sangat tinggi bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain banyak dibutuhkan untuk membantu produksi, juga akan ada masa magang selama tiga bulan untuk menjadi tenaga yang terampil.

Menurut Kepala Desa Triharjo, Kecamatan Wates, Kulon Progo, Wadiyo, perusahaan-perusahaan wig di desanya itu turut membantu menyerap tenaga kerja. Dampaknya juga sangat positif. Ada banyak warung makan, rumah kos, dan lain-lain. "Masyarakat di sekitar pabrik sangat terbantu secara ekonomi," kata dia.