Pages

Showing posts with label Purbalingga. Show all posts
Showing posts with label Purbalingga. Show all posts

Friday, October 25, 2024

PHK Massal di Perusahaan Wig Terbesar di Purbalingga, 814 Karyawan Terdampak

Kamis, 24 Oktober 2024 - 19:04:00 WIB


PT Sung Chang Indonesia (SCI), perusahaan produsen rambut palsu (wig) ternama di Purbalingga, melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap 814 karyawannya. Keputusan ini diambil menyusul penurunan aktivitas produksi yang signifikan akibat lesunya kondisi perekonomian global.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kadisnakertrans) Purbalingga, Bambang Sutrisno ketika dikonfirmasi membenarkan adanya PHK massal di PT SCI. 

Dia mengatakan, sebanyak 814 karyawan yang mengundurkan diri tidak atas kemauan sendiri, sehingga masuk dalam kategori PHK. Jumlah ini, kata dia mencapai lebih dari 50 persen dari total karyawan perusahaan.

"Disnakertrans telah melakukan komunikasi dengan pihak perusahaan untuk memastikan hak-hak setiap pekerja terpenuhi," ujar Bambang.

Berdasarkan hasil komunikasi itu, kata dia para pekerja yang mengundurkan diri sebelum 21 Oktober 2024 akan mendapatkan hak-haknya seperti uang pisah, uang penggantian hak cuti dan ongkos pulang ke rumah. 

Menurutnya, hak-hak tersebut telah diatur dalam perjanjian bersama antara serikat pekerja dan pengusaha. Namun, bagi pekerja yang mengundurkan diri setelah 21 Oktober 2024, hanya akan mendapatkan tali asih dengan besaran yang disesuaikan dengan masa kerja.

"Kami perkirakan gelombang PHK di PT SCI masih akan terus berlanjut karena hingga saat ini masih banyak pekerja yang mengundurkan diri," katanya.

Dia menuturkan, PHK massal ini terjadi karena PT SCI sebagai perusahaan yang berorientasi ekspor, sangat terdampak oleh kondisi perekonomian global yang melambat.

Selain PT SCI, Disnakertrans juga mencatat ada empat perusahaan lain di Purbalingga yang melakukan PHK sepanjang tahun ini, dengan alasan yang serupa.


Editor: Kurnia Illahi

Sumber :

https://jateng.inews.id/berita/phk-massal-di-perusahaan-wig-terbesar-di-purbalingga-814-karyawan-terdampak/all

Thursday, April 8, 2021

Kebakaran Pabrik Rambut Palsu PT Yuro Mustika Purbalingga

Jumat, 9 April 2021 17:39 WIB

Kebakaran terjadi di pabrik pembuat rambut palsu PT Yuro Mustika di Kelurahan Kalikabong, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (9/4/2021) dini hari.

Kebakaran pertama terlihat di salah satu ruang produksi oleh petugas keamanan pabrik.

Kapolsek Kalimanah AKP Setiadi mengatakan peristiwa kebakaran di pabrik tersebut terjadi sekira jam 00.10 WIB. Kebakaran pertama diketahui petugas keamanan pabrik yang melihat kepulan asap dan api di atap salah satu ruangan.

"Petugas keamanan pabrik kemudian menghubungi pemadam kebakaran dan pihak kepolisian," jelas kapolsek.

Kapolsek menjelaskan bahwa kebakaran akhirnya berhasil dipadamkan setelah tiga mobil pemadam kebakaran dibantu dua mobil penampungan air didatangkan. Api berhasil padam sekira jam 02.00 WIB.

"Tidak ada korban jiwa akibat kebakaran tersebut. Namun tiga ruangan mengalami kerusakan hangus terbakar," kata kapolsek.

Disampaikan bahwa penyebab kebakaran diduga akibat korsleting listrik diruangan produksi. Percikan api cepat membesar karena di lokasi tersebut banyak barang yang mudah terbakar.

"Untuk memastikan penyebab pasti kebakaran, akan dilakukan olah TKP pada hari ini bersama tim Inavis Polres Purbalingga," jelasnya.

Kapolsek menambahkan untuk kerugian material akibat kebakaran tersebut belum bisa diketahui secara pasti. Karena masih dalam proses pendataan pihak perusahaan.


Sumber:

https://jateng.tribunnews.com/2021/04/09/kebakaran-pabrik-rambut-palsu-pt-yuro-mustika-purbalingga.

Thursday, August 6, 2020

Purbalingga

Purbalingga: Ditinggal Merantau Ngangenin, Ditinggali Nggak Menghasilkan Apa-apa

FADLIR RAHMAN
6 AGUSTUS 2020

Menjadi bagian penduduk di sebuah kabupaten kecil dan tidak terkenal seperti Purbalingga, terkadang menyusahkan juga. Akibat logat ngapak kami, hal yang paling sering ditanyakan pertama (jika sedang di luar kota) adalah ini: “Njenengan logatnya ngapak, asli mana, Mas?”

Untuk menjawab pertanyaan itu memanglah mudah. Tapi seringkali jika dijawab dengan jujur akan menimbulkan pertanyaan lanjutan. Mau buktinya? Nih, kuberi tahu jika pertanyaan mudah itu saya jawab apa adanya.

“Aku asal Purbalingga, Mas. Lah njenengan, si?”

Harusnya pertanyaan itu selesai dengan, “Oooh, kalau aku asli sini aja.” tapi nyatanya tidak demikian.

“Loh Purbalinggga, kok ngapak? Kan Jawa Timur?”

Saya pun harus menjelaskan jika yang di Jawa Timur itu Probolinggo, kalau Purbalingga itu Jawa Tengah. Probolingo itu dekat laut, Purbalingga dekat gunung. Probolinggo didominasi huruf vokal “o”, Purbalingga dengan huruf vokal “a”. Jelas sekali, toh, perbedaannya?

Meskipun sekarang sudah banyak yang tahu, sih, berkat bupati kami yang korupsi kemudian berpose metal saat dipotret wartawan. Tahu kan?

Itulah mengapa saya malas kalau menjawab pertanyaan itu dengan jujur. Saya mending menjawab berasal dari Purwokerto saja. Orang akan langsung paham dan lanjut ke pertanyaan lainnya dalam basa-basi.

Dan saya yakin banyak orang Purbalingga yang mengalami hal demikian. Padahal orang Purbalingga tapi ngakunya Purwokerto.

Kota tetangga kami, Purwokerto, memang lebih terkenal. Salah satunya karena memiliki beberapa universitas. Dan yang paling ternama tentu Universitas Jenderal Soedirman.

Hal tersebut berakibat pada munculnya pusat perbelanjaan sekelas supermall dan mengundang banyak perhatian investor di berbagai bidang untuk melebarkan sayap waralabanya.

Adanya kampus, berefek juga pada bisnis lebih kecil yang menguntungkan penduduk setempat, seperti indekos, rumah makan, dan UMKM lain. Daya serap pasar dari mahasiswa/pendatang yang berasal dari daerah lain mendatangkan keuntungan sendiri. Apalagi pada produk khas lokal.

Kesulitan lain jadi warga Purbalingga yaitu meskipun sekarang sudah ada kampus juga di sini, namun tidak membawa pengaruh besar seperti di Purwokerto. Khususnya pada sektor ekonomi masyarakat, karena sekarang masih didominasi oleh buruh pabrik. Mulai dari pabrik rambut dan alis palsu hingga pabrik kayu lapis. Yang perusahaannya berjejer dan membuat Purbalingga menjadi salah satu kawasan industri di Jawa Tengah.

Meskipun sebagai kawasan industri yang terus berkembang, bukan berarti juga diikuti dengan perkembangan ekonomi seperti UMKM. Kecenderungan masyarakat yang memilih menjadi karyawan pabrik adalah  penyebabnya, di samping daya serap pasar yang kurang. Ya, daripada bikin usaha yang penghasilan belum jelas, mending di pabrik dapet gajian. Memang, sih, UMR kota ini mendekati dua juta rupiah terbilang cukup besar untuk skala hidup di sini.

Memilih menjadi karyawan pabrik mungkin hanya itulah pilihan paling logis yang bisa diakses. Pasalnya jika mau menjadi bagian dari suatu instansi/dinas daerah, kesempatannya begitu kecil. Hal ini saya kira ada kaitannya dengan privelese sosial.

Di daerah yang kecil ini, power yang besar hanya dimiliki segelintir orang yang biasa kami sebut “Penggede Purbalingga”. Power yang mampu melakukan praktik “masuk pakai orang dalem”.

Dan akses terhadap power tersebut, hanya bisa didapatkan oleh orang terdekat beliau-beliau. Sudah menjadi rahasia umum bahwa “masuk pakai orang dalem” sangat berlaku di sini.

Mungkin istilah yang tepat adalah krisis transparansi–untuk tidak menyebut nepotisme. Maka dari itu, kami ini kaum-kaum penginyongan yang lahir dari kelas sosial biasa, tidak bisa berbuat banyak.

Dari kesulitan identitas, ekonomi, hingga transparansi, bukan berarti kami tidak bisa bertahan hidup. Justru semakin tangguh, alih-alih cuma mengeluh. Daya juang pun semakin besar.

Ada kedamaian tersendiri hidup di sini. Di daerah kecil ini, mendapatkan kenalan atau teman baru begitu mudah, apalagi bagi muda-mudinya. Tanpa terduga, pasti ada saja penghubungnya. Entah karena lingkar pertemanan lain, pekerjaan, bahkan lingkar alumni suatu sekolah mampu menyatukan.

Kami jarang kesepian. Gampangnya, tinggal keluar rumah, pasti nanti di jalan ketemu orang yang kita kenal. Wong di luar kota saja ketemunya orang Purbalingga. Neng ndi bae, maning-maning ketemune wonge dewek. Di mana pun lagi-lagi ketemunya orang sendiri.

Secara geografis, Purbalingga sebenarnya hampir seperti Yogyakarta. Jika di utara Yogya ada Gunung Merapi, di sini ada Gunung Slamet. Hal tersebut menyebabkan Purbalingga memiliki tempat wisata yang banyak dan beragam. Jadinya nggak perlu bingung saat merasa suntuk di rumah. Dengan udara sejuk pegunungan, membuat nongkrong semakin nyaman.

Selain kedamaian seperti itu, ada juga yang lainnya. Beberapa tahun lalu, Cak Nun pernah diundang untuk acara sinau bareng di Purbalingga. Beliau mengatakan yang kira-kira begini, “Kalian beruntung tinggal di sini, soalnya Purbalingga tidak dilalui jalur kapitalis nasional.”

Saya kurang begitu paham dengan jalur kapitalis nasional yang dimaksud beliau. Mungkin karena jika dilihat di peta atau google maps, kota ini memang tidak dilewati oleh jalur yang menghubungkan kota-kota besar. Jakarta-Semarang lewat pantura, Jakarta-Yogya lewat jalur selatan. Ada, sih, jalur provinsi, tapi itu pun jalur alternatif.  Keuntungan dari letak geografis seperti itu yang saya rasakan, paling tidak pernah mengalami macet, lah.

Sebenarnya ada juga keresahan namun sekaligus kemudahan yang dirasakan warga Purbalingga. Yaitu dari bisnis knalpot. Purbalingga memang dikenal dengan kota knalpot, karena banyak produsen knalpot di sini.

Keresahan dari hal tersebut adalah banyak kendaraan terutama sepeda motor yang knalpotnya diganti dengan knalpot buatan karena murah harganya. Bunyinya itu, loh, yang nggak ramah di telinga. Jika sedang nongkrong di angkringan  atau tempat lain di pinggir jalan, minimal 15 menit sekali pembicaraan harus terpotong untuk mempersilakan berisik knapot itu lewat dan menghilang.

Tapi hal tersebut sudah menjadi maklum. Pasalnya dari knalpot produk lokal juga, ekonomi masyarakat ikut terangkat. Selain sumber daya manusia teserap untuk pengrajin knalpot, ada juga yang terbantu dengan ikut menjadi reseller online produk ini. Bahkan produknya bukan hanya laku di pasar nasional, melainkan hingga mancanegara.

Hidup di mana pun memang tetap ada kesulitan dan kemudahan. Beberapa ada yang bertahan dengan segala konsekuensinya. Beberapa lagi memilih untuk merantau dengan harapan mendapat kualitas hidup yang lebih baik. Apapun pilihannya, Purbalingga adalah tempat kembali kami yang terbaik.

Kami sering berujar begini: Purbalingga, detinggal ngrantau ngangeni nek ditunggoni ora kasil apa-apa.


Sumber :
https://mojok.co/terminal/purbalingga-ditinggal-merantau-ngangenin-ditinggali-nggak-menghasilkan-apa-apa/

Thursday, July 9, 2020

Orderan Sudah Mulai Masuk, Sektor Industri di Purbalingga Mulai Bangkit

Radar Banyumas
KAMIS, 9 JULI 2020

Pekerja sedang membuat pekerjaan rambut palsu. Aditya/Radar Banyumas Meski tertatih, sektor industri di Kabupaten Purbalingga mulai bangkit setelah dihantam pandemi covid-19. Sejumlah perusahaan mulai menjalankan produksinya kembali.

Meski belum 100 persen. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Purbalingga Rocky Djundjungan mengakui, saat awal masa pandemi Covid-19, sejumlah perusahaan sempat menurun produksinya.

Hal itu, disebabkan oleh mandeknya sejumlah order dari buyer di luar negeri. “Hal itu, disebabkan sejumlah negara memberlakukan lockdown. Sehingga, kami tak bisa mengekspor hasil produksi kami,” katanya, Rabu (8/7).

Namun, hal itu sudah tak lagi terjadi pada saat ini. Sehingga, sejumlah perusahaan sudah mulai kembali normal dalam produksi. “Orderan sudah mulai masuk. Kami juga sudah bisa mengirimkan hasil produksi kami ke luar negeri. Meski, belum kembali seperti semula. Karena masih ada sejumlah negara yang memberlakukan lockdown,” jelasnya.

Mulai pulihnya produksi tersebut, berimbas terhadap karyawan yang sebelumnya dirumahkan maupun harus di-PHK. “Sejumlah perusahaan sudah memanggil kembali karyawan yang dirumahkan.

Meski, ada juga perusahaan yang masih belum, karena ordernya belum pulih seperti semula,” imbuhnya. Bahkan, menurutnya ada satu perusahaah yang saat awal masa pandemi nyaris tutup, karena tak dapat order, sudah kembali beroperasi lagi.

“PT Midas sempat mem-PHK seluruh karyawannya, karena sudah tak bisa produksi akibat tak ada order masuk. Namun, sekarang sudah merekrut karyawan lagi dan kembali beroperasi, karena order dari buyer sudah masuk,” tambahnya.

Pihaknya mengaku senang dengan membaiknya iklim usaha di Kabupaten Purbalingga. “Hal ini, bisa ikut menggerakkan perekonomian di Kabupaten Purbalingga yang sempat tersendat saat awal masa pandemi,” lanjutnya.

Terkait persiapan menyongsong New Normal, pihaknya sudah menyusun sejumlah protokol kesehatan yang harus dilakukan oleh seluruh perusahaan di Purbalingga. “Salah satunya adalah mengecek suhu tubuh karyawan yang masuk. Karyawan juga harus menggunakan masker dan cuci tangan sebelum masuk dan keluar ruangan,” tambahnya.

Dijelaskan olehnya, di perusahaan yang dipimpin olehnya, yakni PT Boyang Industrial juga sudah dilakukan rapid test massal, beberapa waktu lalu. Rapid test massal tersebut difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga.


Sumber: https://radarbanyumas.co.id/orderan-sudah-mulai-masuk-sektor-industri-di-purbalingga-mulai-bangkit/
Copyright © Radarbanyumas.co.id

Wednesday, June 24, 2020

Rencana Tol Tegal-Cilacap Bercabang ke Banyumas hingga Purbalingga Dapat Skor Tertinggi

Radar Banyumas

RABU, 24 JUNI 2020

Pembangunan Tol PURWOKERTO-Banyumas akan mendapat jalan tol sebagai penghubung Pantura Jawa dan Pansela Jawa. Hal itu dikarenakan, dari 4 alternatif tol berdasarkan studi kelayakan untuk pembangunan jalan tol yang menghubungkan Pantura Jawa dan Pansela Jawa, Alternatif tol dari Tegal – Banyumas – Purbalingga – dan Cilacap mendapat skor yang tinggi dibanding alternatif lainnya.

Adapun 3 alternatif lainnya itu yakni, Tegal Purwokerto Cilacap, kemudian Tegal Pemalang Purwokerto Cilacap dan Pemalang Purbalingga Banyumas Cilacap berada di bawahnya.

“Hasil survei waktu itu menyebut ada empat alternatif dari Tegal Cilacap, tetapi langsung ke Cilacap, kemudian Pemalang Cilacap berarti lewat Purbalingga, kemudian ada alternatif Tegal Cilacap tapi di Ajibarang dibelokkan ke Purwokerto, kemudian satu lagi Tegal Cilacap belok ke Purwokerto sampai bandara atau Purbalingga,” kata Purwadi Santoso, Kepala Bappedalitbang Kabupaten Banyumas, Rabu (24/6).

Dimungkinkan dari Pekuncen ke Purwokerto Kemudian dari 4 alternatif itu, Purwadi menjelaskan, yang mendapatkan perhitungan poin paling tinggi ialah Tegal Cilacap yang kemudian bercabang ke Banyumas hingga Purbalingga.

“Itu yang menjadi nilai dari aspek-aspek yang menjadi perhitungan itu yang tertinggi adalah nilai atau poin yang terakhir tadi Tegal Cilacap, jadi di Ajibarang ada pembelokan ke Purwokerto sampai ke Purbalingga, sehingga nanti di Ajibarang itu ada pembelokan atau exit, terus nanti di Purwokerto ada exit lagi, kemudian di Purbalingga atau Bandara itu exit terakhir,” pungkasnya. (win)


Sumber: https://radarbanyumas.co.id/rencana-tol-tegal-cilacap-bercabang-ke-banyumas-hingga-purbalingga-dapat-skor-tertinggi/
Copyright © Radarbanyumas.co.id

Rencana Tol Tegal-Cilacap Bercabang ke Banyumas hingga Purbalingga Dapat Skor Tertinggi

Rencana Tol Tegal-Cilacap Bercabang ke Banyumas hingga Purbalingga Dapat Skor Tertinggi 

Pembangunan Tol PURWOKERTO-Banyumas akan mendapat jalan tol sebagai penghubung Pantura Jawa dan Pansela Jawa. Hal itu dikarenakan, dari 4 alternatif tol berdasarkan studi kelayakan untuk pembangunan jalan tol yang menghubungkan Pantura Jawa dan Pansela Jawa, Alternatif tol dari Tegal – Banyumas – Purbalingga – dan Cilacap mendapat skor yang tinggi dibanding alternatif lainnya.

Adapun 3 alternatif lainnya itu yakni, Tegal Purwokerto Cilacap, kemudian Tegal Pemalang Purwokerto Cilacap dan Pemalang Purbalingga Banyumas Cilacap berada di bawahnya.

“Hasil survei waktu itu menyebut ada empat alternatif dari Tegal Cilacap, tetapi langsung ke Cilacap, kemudian Pemalang Cilacap berarti lewat Purbalingga, kemudian ada alternatif Tegal Cilacap tapi di Ajibarang dibelokkan ke Purwokerto, kemudian satu lagi Tegal Cilacap belok ke Purwokerto sampai bandara atau Purbalingga,” kata Purwadi Santoso, Kepala Bappedalitbang Kabupaten Banyumas, Rabu (24/6).

Jalan di Tol Banyumas Masuk Isu Strategis Percepatan Nasional, Dimungkinkan dari Pekuncen ke Purwokerto Kemudian dari 4 alternatif itu, Purwadi menjelaskan, yang mendapatkan perhitungan poin paling tinggi ialah Tegal Cilacap yang kemudian bercabang ke Banyumas hingga Purbalingga.

“Itu yang menjadi nilai dari aspek-aspek yang menjadi perhitungan itu yang tertinggi adalah nilai atau poin yang terakhir tadi Tegal Cilacap, jadi di Ajibarang ada pembelokan ke Purwokerto sampai ke Purbalingga, sehingga nanti di Ajibarang itu ada pembelokan atau exit, terus nanti di Purwokerto ada exit lagi, kemudian di Purbalingga atau Bandara itu exit terakhir,” pungkasnya.


Sumber:
https://radarbanyumas.co.id/rencana-tol-tegal-cilacap-bercabang-ke-banyumas-hingga-purbalingga-dapat-skor-tertinggi/

Monday, May 11, 2020

Bantuan Sosial Tunai Cair Mulai Hari ini

May 11, 2020

“Kulo nggih seneng banget kalih bapak-kalih ibu, kulo diparingi arto saking ibu-saking bapak, kulo tembe mawon niki tampi bantuan saking bapak-saking ibu,” ungkap Suwarti (55) pedagang peyek warga RT 01/ RW 01 Kelurahan Purbalingga Kulon ketika menerima Bantuan Sosial Tunai di Kantor Pos Purbalingga.

Sementara Tri Marwati (32) penerima Bansos Tunai yang sehari-harinya bekerja di PT Boyang mengatakan sangat bersyukur dengan adanya bantuan yang diterima dari Kementrian Sosial. Pasalnya semenjak pandemi korona PT BOyang Industrial, menerapkan kebijakan libur bergantian. “Masuknya dua hari, terus libur dua hari, tentu akan berpengaruh terhadap gaji. Ini kebetulan sekali bantuan ini bisa untuk meringankan biaya hidup.” tutur perempuan satu anak ini.

Dua perempuan diatas mencairkan Bansos Tunai dari Kementrian Sosial RI sebesar Rp 600 ribu/KK/bulan bersama dengan 93 warga Kelurahan Purbalingga Kulon lainnya. Sesuai jadwal hari ini Kantor Pos Purbalingga mencairkan Bansos Tunai sebanyak 320 kartu / KK. Secara rinci untuk Kelurahan Purbalingga Kulon 93 KK, Purbalingga Wetan 157 KK dan Purbalingga Lor sebanyak 70 KK.

Peluncuran Bansos Tunai dilakukan Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi didampingi Kepala Kantor Pos Purbalingga Suryo Adi Nugroho, Senin pagi (11/5). Secara simbolis Bupati mencairkan Bansos Tunai milik salah satu penerima.

Dikatakan Bupati Tiwi, penyaluran Bansos Tunai dari Kementrian Sosial, dilakukan melalui Bank Himbara dan PT Pos Indonesia. Hari ini dilakukan penyaluran oleh PT Pos Indonesia. Setelah Bansos Tunai cair, akan dicairkan pula bantuan-bantuan dari pemerintah pusat lainnya yang dikeluarkan karena adanya pandemi Covid-19. Termasuk bantuan provinsi, kabupaten, dan  bantuan dari Dana Desa.

Semua bentuk bantuan yang disalurkan dan telah disiapkan diharapkan tepat sasaran dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh penerima.

“Setelah ini akan dicairkan bantuan pusat yang lain, perluasan sembako, termasuk bantuan-bantuan dari provinsi, kabupaten dan Dana Desa. Saya berharap bantuan ini bisa bermanfaat dan tepat sasaran, sehingga benar-benar membantu masyarakat yang terdampak Covid-19.” katanya.

Kepala kantor Pos Purbalingga Suryo Adi Nugroho saat mendampingi bupati mengatakan, PT Pos Indonesia dipercaya lagi menyalurkan Bansos Tunai. Untuk Kabupaten Purbalingga dalam tahap ini sebanyak 22.266. Bansos Tunai akan disalurkan dalam 10 hari kedepan. Sedangkan penyaluran ke desa-desa PT Pos bekerjasama dengan Dinas Sosial Kabupaten yang telah diberi daftar data penerima sesuai dari Kementrian Sosial. Data tersebut akan dibagikan ke desa-desa.

“Kami sudah kirim softcopy ke Dinsos yang akan dibagikan lagi softcopynya ke tiap-tiap desa. Berharap pembayaran ini dapat mengikuti protokol penanganan korona dan tepat sasaran serta bermanfaat.” harapnya. (umg/humaspurbalingga).


Sumber :
https://www.purbalinggakab.go.id/v1/bantuan-sosial-tunai-cair-mulai-hari-ini/

Monday, May 4, 2020

PT Boyang Industrial Tak Perpanjang Kontrak 1.122 Pekerjanya

4 Mei 2020, 14:42 WIB

Dampak dari Pendemi Covid-19, salah satunyanya adalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada para pekerja, hal tersebut tentunya saja menjadi perhatian khusus pemerintah.

Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Purbalingga Tukimin menyebutkan, ada 1.122 pekerja yang tidak diperpanjang kontrak kerjanya di PT Boyang Industrial, sedangkan 52 pekerja sudah dirumahkan oleh perusahaan Jhon Toys Indonesia.

PT Boyang Industrial merupakan perusahaan besar di Indonesia, yang memproduksi rambut palsu atau wig, dan mengekspornya ke berbagai negara, salah satunya Amerika.

Namun pemberlakuan lockdown di Amerika saat ini, telah mempengaruhi kapasitas produksi perusahaan tersebut, dan mengakibatkan adanya pengurangan jumlah karyawan, dengan tidak memperpanjang kontrak sebagian pekerjanya.

Oleh sebab itu, Disnaker Purbalingga memberikan perhatian khusus kepada para pekerja yang mengalami PHK untuk lebih diprioritaskan dalam mendapatkan program kartu Prakerja.

"Ada kebijakan bagi pekerja yang mengalami PHK, mereka mendapatkan prioritas pada program Prakerja. Data-data sudah kami daftarkan ke Menaker,"ujar Tukimin, Senin (4/5).

Baca Juga: Pendaftaran Program Kartu Prakerja Dibuka, Simak Caranya !

Pihak Disnaker Purbalingga, lanjutnya, masih terkadala dalam mendapatkan informasi terkait berapa jumlah pendaftar program Prakerja yang sudah terverifikasi.

"Lewat Disnaker provinsi, kami meminta untuk dapat mengakses berapa yang sudah terverifikasi di pusat," tandasnya.

Menurutnya, jumlah pekerja yang mengalami PHK di Purbalingga masih pada batas wajar, hanya 3 persen dari jumlah tenaga kerja yang ada.


Sumber :
https://lensapurbalingga.pikiran-rakyat.com/info-purbalingga/pr-21376357/pt-boyang-industrial-tak-perpanjang-kontrak-1122-pekerjanya?page=2

Monday, April 20, 2020

Terdampak Corona, 9 Perusahaan di Purbalingga PHK 1.300 Pekerja

Senin, 20 April 2020 - 12:30 WIB

Sembilan perusahaan di Kabupaten Purbalingga melaporkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan pekerjanya akibat pandemi virus corona jenis baru, Covid-19.

Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja Purbalingga, total pekerja yang di-PHK mencapai 1.300 orang. Ribuan pekerja tersebut berasal dari sembilan perusahaan seperti perusahaan mainan dan pabrik kayu. Namun, pekerja yang paling banyak di-PHK yakni dari pabrik rambut palsu dan bulu mata palsu.

Sejak pendemi corona, jumlah ekspor produk bulu mata dan rambut palsu ke luar negeri menurun drastis. Perusahaan menyiasati dengan mengurangi produksi dan mengurangi jumlah pekerja.

Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Purbalingga Tukimin berharap jumlah karyawan yang terimbah Covid-19 tidak bertambah.

"Semoga tidak berimbas lebih banyak. Harapannya yang dirumahkan ini bisa dipekerjakan kembali kalau sudah stabil," ujar Tukimin, Senin (20/4/2020).

Tukimin juga menjelaskan, produksi pabrik produksi bulu mata palsu dan rambut palsu turun karena konsumen mereka di Amerika Serikat menghentikan penjualan. Kondisi AS yang juga terkena wabah Covid-19 menjadikan permintaan produk tersebut turun drastis.

"Ordernya berkurang. Ekonomi Amerika juga banyak yang berhenti, mungkin pelabuhan dan segala macamnya tidak lancar sehingga ekspor pun tidak lancar," ujarnya.

Dinas Tenaga Kerja Purbalingga mencatat saat ini sebanyak 50.000 warga bekerja di 40 perusahaan.


Sumber :
https://jateng.sindonews.com/read/4480/707/terdampak-corona-9-perusahaan-di-purbalingga-phk-1300-pekerja-1587359091

Wednesday, February 12, 2020

Perusahaan Jerman Berminat Borong Ribuan Wig Purbalingga

Rabu 12 Feb 2020 16:06 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA -- Perusahaan Jerman Rieswick und Partner GmbH berminat untuk membeli rambut palsu atau wig dari Purbalingga untuk bisnis jangka panjang. Hal itu disampaikan Senior Executive Business Development Jerman-Indonesian Chamber of Industry and Commerce (EKONID), Wuranto, saat bertemu Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, Rabu (12/2).

''Perusahaan Jerman ini ingin membeli langsung wig Indonesia dari produsennya di Purbalingga. Perusahaan ini membutuhkan sekitar 2500 sampai 10.000 pcs per tahun untuk dijual kembali di pasar Jerman,'' jelasnya.

Selama ini, kata Wuranto, perusahaan tersebut sudah membeli wig dari Indonesia melalui distributor di Jerman. Namun karena kebutuhannya besar, mereka membeli beli langsung dari suplayernya. Peran EKONID, menurut dia, menjembatani hubungan bisnis antara perusahaan Jerman dan Indonesia.

Dalam kunjungan ke Purbalingga, dia didampingi Max Rieswick dan Nils Rieswick selaku Geschaftsfuehrer dari perusahaan Rieswick und Partner GmbH. Max Rieswick dalam kesempatan itu, menyebutkan perusahaannya memilih produk rambut palsu Purbalingga karena rambut palsu produksi daerah ini sudah terkenal berkualitas.

''Sebelumnya kami sudah melakukan riset untuk menentukan produk mana yang akan kami pilih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jerman. Akhirnya, pilihan kami jatuh pada produk rambut palsu dari Purbalingga,'' katanya.

Bahkan mereka sudah membandingkannya dengan produk asal Purbalingga, dengan produk sejenis dari Cina maupun Filipina.

''Di Jerman kami lebih fokus menjualnya kembali di local market untuk membantu konsumen dalam pemulihan penampilan. Kami juga memiliki workshop yang melayani customize/memodifikasi wig sesuai dengan keinginan,'' kata Nils Rieswick.

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi mengatakan rambut palsu produk Purbalingga banyak diproduksi di Purbalingga. ''Selama ini, produk rambut palsu dari Purbalingga sudah banyak diekspor ke luar negeri. Produk rambut palsu Purbalingga sudah dikenal baik berbagai belahan dunia,'' katanya.


Sumber :
https://republika.co.id/berita/q5skfs368/daerah/jawa-tengah-diy/20/02/12/q5kzz8335-perusahaan-jerman-berminat-borong-ribuan-wig-purbalingga

Saturday, January 4, 2020

Bos Pabrik Rambut Palsu Minta Proyek Bandara Wirasaba Dipercepat

4 Januari 2020

Para investor yang ada di Kabupaten Purbalingga meminta kepada pemerintah pusat untuk mempercepat pembangunan Bandara Jenderal Besar Sudirman di Wirasaba. Pasalnya, keberadaan bandara tersebut bisa menopang aktivitas pabrik sekaligus menjadi daya tarik bagi pelanggannya yang datang dari berbagai daerah.

Hal tersebut tampak saat Direktur PT Indokores Sahabat Purbalingga menyambut kunjungan Anggota DPR RI Komisi V dari Dapil Jateng 7 Lasmi Indaryani di pabriknya pada, Jumat (3/1).

1. Bandara Wirasaba bisa membuka akses transportasi udara

Direktur Indokores Sahabat, Hyung Don Kim menyatakan bila keberadaan Bandara Wirasaba nantinya bakal dimanfaatnya untuk membuka akses transportasi udara bagi wilayah Purbalingga dan sekitarnya.

Ia mengaku sejumlah mitra kerjanya sangat antusias dengan adanya pembangunan Bandara Wirasaba. "Bandara Wirasaba yang lokasinya dekat dengan pabrik sangat kami butuhkan, untuk memudahkan klien kami yang ingin melihat langsung proses produksi di pabrik," ungkapnya dalam keterangan yang diterima IDN Times.


2. Para pengusaha menunggu pengoperasian Bandara Wirasaba

Perusahaannya yang bergerak di bidang pembuatan rambut dan bulu mata palsu tersebut merasa terbantu bila Bandara Wirasaba segera dioperasikan. Pengusaha Purbalingga dan Banjarnegara, ujarnya saat ini sangat menantikan beroperasinya Bandara Wirasaba.

Lebih jauh lagi, Kim juga berharap agar akses jalan nasional ditingkatkan. Salah satu upayanya, bisa dengan memperlebar akses ruas jalan raya dari Jakarta menuju Semarang. Sehingga hal itu dapat menopang aktivitas pengiriman barang dari pabriknya dengan lebih mudah dan efisien.

"Saya juga titip kepada Bu Lasmi agar jalan menuju Jakarta dan Semarang lebih dilebarkan, agar kami dalam mengirim hasil produksi bisa lebih mudah dan murah," jelasnya.


3. Anggota DPR RI janji pastikan proyek Bandara Wirasaba berjalan sesuai rencana

Menanggapi hal itu, Lasmi berjanji akan fokus peningkatan jalur transportasi yang ada di Banjarnegara, Purbalingga dan Kebumen bisa segera terealisasi.

Menurutnya jalur yang harus dibenahi yaitu jalur perlintasan KA Wonosobo-Purwokerto dan Jalan Tol Cilacap-Yogyakarta. "Itu diharapkan bisa meningkatkan iklim investasi dan ekonomi Banyumas Raya. Tentunya fokus saya adalah memastikan proyek proyek nasional tersebut berjalan sesuai jadwal," paparnya.


Sumber :
https://jateng.idntimes.com/news/jateng/fariz-fardianto/bos-pabrik-rambut-palsu-minta-proyek-bandara-wirasaba-dipercepat/3

Thursday, December 12, 2019

Kejayaan Rambut Palsu Indonesia di 40 Negara

Danang Nur Ihsan  12 Desember 2019

Banyaknya perminataan kebutuhan rambut palsu dan terbatasnya bahan baku sempat melahirkan pasar rambut di Karangbanjar, Purbalingga pada 1963.

JEDA.ID–Bicara rambut palsu di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran ribuan ibu-ibu yang bekerja di industri rumahan di Purbalingga, Jawa Tengah dan Sidoarjo, Jawa Timur. Dua daerah inilah yang menjadi pusat produksi rambut palsu asal Indonesia yang sudah mendunia.

Tak tanggung-tanggung, rambut atau bulu mata palsu dari Purbalingga dan Sidoarjo ini sudah masuk level premium. Bila kalangan artis Tanah Air atau mancanegara mengenakan rambut atau bulu mata palsu merek Diva’s Wig atau Fair Lady, artinya itu buatan Purbalingga atau Sidoarjo.

Cerita rambut palsu di Purbalingga tak bisa lepas dari sosok Tarmawi yang tinggal di Desa Karangbanjar, Bojongsari. Era 1950-an, Tarmawi mengumpulkan potongan rambut untuk dibuat sanggul. Sanggul buatan Tarmawi ini ternyata laris manis saat hajatan pengantin.

Sanggul buatannya langsung berkibar karena harus memenuhi permintaan konsumen dari Purbalingga dan berbagai kota lain di Jawa Tengah sampai Jakarta. Awalnya dari sanggul Jawa tekuk kemudian berkembang ke sanggul modern sampai sanggul cepol.

Kemudian berkembang lagi membuat rambut sambung, rambut palsu, sampai jenggot palsu. Keterampilan itu kemudian menular ke beberapa orang di Desa Karangbanjar dan para perajin itu mulai membentuk home industry.

Banyaknya perminataan  dan terbatasnya bahan baku sempat melahirkan pasar rambut di Karangbanjar pada 1963. Pasar rambut itu selayaknya pasar tradisional yang menawarkan rambut sisa potong atau sisa sisiran rambut.

Penyedia bahan baku datang dari berbagai daerah di luar Purbalingga dan pengrajin sanggul membelinya. Namun, kini pasar rambut itu kini sudah tidak ada.

Sebagaimana dikutip dari indonesia.go.id, Rabu (11/12/2019), kini bahan baku disediakan pemasok lama dan pengepul rambut asal Karangbanjar.

Para pengepul rambut ini sebagian adalah petani. Jika musim tanam atau panen tiba, mereka tidak bisa mengumpulkan bahan baku rambut. Kini, bahan baku tidak hanya berupa potongan rambut asli namun juga bahan sintetis yang didatangkan dari Korea Selatan, Jepang dan China.


Sempat Meredup

Industri ini sempat meredup pada era 1970-an. Kala itu, beberapa negara seperti India, Bangladesh, Senegal, dan Filipina, mulai memproduksi komoditas sejenis.

Untungnya hal itu tidak terlalu lama. Pasar dunia akhirnya kembali menjatuhkan pilihan ke buatan Indonesia karena buatan negara lain dinilai tidak memuaskan, Misalnya konsumen Inggris menilai kualitas buatan Indonesia sangat baik karena halus.

Pasar dunia pun kembali mencari produk Indonesia karena kualitasnya memang jempolan dan seleranya mengikuti tren dunia. Era 1990-an, ekspor rambut palsu menjadi andalan terutama setelah beberapa pabrik berdiri di Purbalingga dan Sidoarjo.

Pabrik di Sidoarjo dengan cepat memenuhi selera konsumen rambut palsu dan bulu mata palsu di AS dan Afrika dengan merek Diva’s Wig yang digemari dunia itu.

Di Purbalingga, komoditi ini menarik perhatian beberapa investor dan mereka mulai menginvestasikan uangnya dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA).

Kini ada sekitar 28 PMA di Purbalingga (sebagian besar dari Korea Selatan), selain puluhan home industry yang masih beroperasi. Bisnis ini menyerap sekitar 55.000 tenaga kerja.

”Ini adalah produk kebanggaan dari Purbalingga. Ternyata wig-wig ini diekspor dan merupakan produk yang luar biasa bahkan ini juga home industry,” ujar Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beberapa waktu lalu sebagaimana dikutip dari laman Pemprov Jateng.

Salah satu perajin rambut palsu di Purbalingga, Riyanto, menyebutkan usahanya diturunkan orang tua dan kini kian berkembang. Pemasaran rambut sanggul yang diproduksi tidak hanya merambah daerah sekitar seperti Jakarta dan Surabaya, juga menembus pasar luar negeri.

Peraih rekor Muri 2003 sebagai pemrakarsa pembuatan sanggul terbesar dengan diameter 2,8 meter dan panjang 3 meter itu menjelaskan saat ini ada sekitar 1.500 usaha rumahan rambut palsu baik sanggul maupun wig.

Kendala yang mereka hadapi adalah pasokan bahan baku yang terbatas. Bahan baku beragam rambut palsu terdiri dari dua jenis, yaitu rambut asli seharga Rp900.000 per kilogram dan bahan baku sintesis. Bahan sintesis baru seharga Rp60.000 per kilogram sedangkan sintesis limbah Rp30.000 per kilogram.


Pengrajin Plasma

Industri komoditas ini di Purbalingga sedikit berbeda dengan di Sidoarjo. Jika di Sidoarjo semua pengelolaan bahan dan pengerjaan dikerjakan oleh pabrik, di Purbalingga sebagian pengerjaannya diserahkan ke perajin.

Misalnya pengumpulan dan klasifikasi bahan baku, pembersihan, dan pengerjaan awal. Sedangkan pengerjaan lanjutan seperti penentuan model, pembuatan gelombang (ikal atau lurus) dan pewarnaan dikerjakan di pabrik.

Kemudian untuk bulu mata, dimulai oleh perajin seperti menempelkan rambut pada seutas benang. Perajin yang bermitra dengan pabrik dan mengerjakan sebagian pekerjaan awal disebut perajin plasma.

Di pabrik, tidak semuanya dikerjakan dengan mesin karena beberapa bagian masih dikerjakan dengan tangan (handmade) oleh buruh pabrik. Inilah yang jadi pembeda rambut palsu Indonesia dan negara lainnya seperti China.

China yang kini menjadi pesaing utama karena pengerjaannya menggunakan mesin. Dengan mengandalkan mesin, jumlah rambut palsu buatan China jauh lebih banyak. Namun, urusan kualitas, rambut palsu Indonesia lebih unggul.

”Komoditi Indonesia ini menguasai sebagian besar kebutuhan dunia, khususnya Amerika Serikat, Eropa, Afrika dan Asia sendiri. Jika disisir lagi, selama 30 tahun terakhir ini perajin dan dan pabrikan Indonesia telah mengekspor kurang lebih ke 40 negara tujuan.”

Di pasar Asia, negara penyuka rambut dan bulu mata palsu produk Indonesia adalah Malaysia, Jepang, Arab, Thailand, Bangladesh, China, Singapura, dan Iran. Sedang negara Eropa yang menyukai rambut palsu Indonesia adalah Belanda dan Inggris. Sedangkan negara Afrika adalah Nigeria.

Nilai ekspor pun kian melonjak dari tahun ke tahun. Misalnya sejak 2013 rambut palsu menyumbang 30% dari ekspor kelompok handycraft senilai Rp9,7 triliun. Pada 2015 produk ini alami surplus sekitar Rp4,7 miliar dan menguasai sekitar 7,28% total ekspor dunia.


Sumber :
https://jeda.id/stories/kejayaan-rambut-palsu-indonesia-di-40-negara-3311

Wednesday, December 4, 2019

Dinaker Purbalingga Merasa Kecolongan, Masalah PT NVI Makin Banyak

Dinaker Purbalingga Merasa Kecolongan, Masalah PT NVI Makin Banyak, Gunakan Tenaga Kerja Asing Tanpa Izin

4 Desember, 2019

Setelah diberitakan beroperasi tanpa izin yang lengkap, kejanggalan lain yang berkaitan dengan PT Nina Venus Indonusa kembali terkuak. Kali ini setelah Dinas Tenaga Kerja (Dinaker) Kabupaten Purbalingga merasa kecolongan dengan beroperasinya perusahaan tersebut.

Masalah yang dimaksud adalah penggunaan tenaga kerja asing (TKA) yang tidak disertai izin sesuai prosedur. Selain itu, PT NVI juga dinilai tidak menjalankan wajib lapor ke Dinaker.

Pegawai Dinas Tenaga Kerja Jateng, Bidang Pengawas Tenga Kerja, Angkat Lujeng membenarkan hal ini. Menurutnya, pihaknya melakukan klarifikasi, ternyata PT Nina Venus Indonusa ini belum melaksanakan wajib lapor ke Dinas Tenaga Kerja. Padahal hal itu menjadi bagian yang wajib dilakukan oleh perusahaan ketika sudah beroperasi.

“Setelah kita klarifikasi di sana (PT NVI, red), masalah perizinan ranahnya kantor perizinan dan DLH, yang ada keterkaitan dengan kami adalah terkait UU ketenagakerjaan. Ternyata PT Nina belum melaksanakan wajib lapor sebagaimana UU 7 tahuh 81, wajib lapor ke dinas kami, kalau tidak dilaksanakan dalam waktu satu minggu ini kami langsung tindaklanjuti Tipiring,” kata Angkat, Selasa (3/12).

Selain masalah wajib lapor, diketahui juga kesalahan lain yakni terkait dengan Keselamatan kesehatan kerja yang juga belum ada sama sekali. Di antaranya, penangkal petir, jenset, dan hal-hal yang menyangkut instalasi. “Padahal, sebelum dioperasionalkan harus diperiksa, diuji, oleh pengawas spesialis atau pihak ketiga, itu belum dilaksanakan,” ujarnya.

Dia menambahkan, pengakuan dari manajemen, pekerja di PT NVI memang belum didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, ternyata ada TKA yakni Mr Pak. Saat dilihat data dan berkas-berkasnya, diketahui izin kerja Mr Pak itu ada di Sukabumi bukan di Purbalingga.

“Setelah saya minta datanya, memang adanya pelanggaran bahwa Mr Pak izin kerjanya di kabupaten dan Kota Sukabumi, ternyata yang bersangkutan kerja di Purbalingga. Sudah saya tegur, kita tidak mentolelir, saudara Mr Pak harus keluar dari Purbalingga,”katanya.

Saat klarifikasi, Angkat mengaku dibawa ke ruangan oleh Mr Kim. Mr Kim meminta untuk dibantu dalam membereskan kekurangan dan memberikan toleransi. “Mr Kim juga sempat minta tolong, saya dibawa ke ruang, minta dibantu, saya jawab tidak bisa. Sementara Mr Pak tidak bisa kerja di wilayah Purbalingga. Jadi dari aspek tenaga kerja, memang PT Nina sama sekali belum memenuhi aturan,” kata Angkat.

“Kita beri waktu 14 hari (untuk melengkapi persyaratan, red), itu SOP, harus bisa memenuhi. Termasuk TKA, tapi kalau TKA saya jamin waktunya habis, harus keluar dari Purbalingga,” kata Angkat.

Kalau ternyata 14 hari tidak selesai, maka akan dikeluarkan surat teguran kedua, yang batas waktunya 7 hari. Tetapi jika perpanjangan tujuh hari tetap tidak selesai, maka akan meningkat kita pada penyelidikan dan penyidikan. “Kalau tujuh hari belum juga selesi, maka kita tingkatkan lidik dan sidik. Kalau tenaga asing langsung, kita terbitkan surat peringatan. Selama melengkapi ini Mr Pak ini tidka boleh ada di Purbalingga,” katanya.

Sebelumnya dikabarkan, sejumlah personel dari Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Purbalingga mendatangi PT Nina Venus Indonesia (NVI), Kamis lalu. Kedatangan mereka didasari laporan warga terkait beroperasinya pabrik rambut palsu di Desa Kalikabong, Kecamatan Kalimanah meski dokumen perizinannya belum lengkap.

Kasi Dikduk Satpol PP Purbalingga, Sugeng Riyadi membenarkan kabar ini. Menurutnya, saat mendatangi PT NVI, ia ditemui oleh Rina, HRD perusahaan tersebut.  “Ketemu dengan Rina selaku HRD, hasil penjelasannya, 70 persen proses perizinan sudah dilalui,” kata Sugeng.

Meski demikian, perusahaan tersebut belum mengantongi dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL UPL). Padahal dokumen ini menjadi hal sangat penting dimiliki oleh perusahaan, karena terkait dengan dampak lingkungan.(min)


Dikira Milik Perusahaan Lain

Berkaitan dengan persoalan tenaga kerja, Kasi Pengupahan Dinas Tenaga Kerja Purbalingga, Purwanto menjelaskan, gedung PT Nina sebelumnya merupakan gedung PT Yuro. Sedangkan karyawan yang saat ini bekerja di PT Nina juga merupakan pekerja di PT Yuro.

“Itu dulu direkrut oleh PT Yuro, karena Yuro yang merekrut jadi kita pedoman kita itu masih karyawannya Yuro. Terkait dengan statusnya,apakah kontrak atau gimana nanti kita klarifikasi,” katanya.

Terkait dengan masa peralihan, apakah bertepatan dengan habisnya kontrak pekerja atau tidak, pihkanya belum mengkonfirmasikannya. Jika para karyawan PT Nina sudah beralih dari karyawan PT Yuro, maka PT Nina wajib memberikan laporan berupa berita acara. Diketahui, untuk PT Yuro ada sekitar 500 karyawan. Sedangkan yang dipekerjakan di PT Nina sekitar separuhnya.

“Kalau sudah peralihan yang sudah jelas resmi, kita minta juga statusnya, kalau habis kontrak gimana, kalau belum habis kontrak gimana, tapi dilimpahakan itu gimana, jadi nanti kita minta semacam berita acara. Secara regulasi kalau ada peralihan ada berita acara pelimpahan, sementara ini belum ada komunikasi dengan Dinaker,” kata Purwanto.

Dia menambahkan, untuk kondisi bangunan PT Nina memang belum 100 persen siap. Dikabarkan PT Nina akan launching pada bulan Januari 2020. Oleh karena itu, Dinaker meminta dipersiapkan semuanya secara administrasi dan status karyawannnya.

“Rupanya tempatnya belum 100 persen isap artinya belum semuanya. Oleh karena itu kita pesen pada saatnya per kapan PT Nina ini pindah atau berstatus PT kita minta berita acara, stausnya apa kita minta, belum semuanya karyawan pindah, karena ini peralihan,” katan


Sumber :
https://satelitpost.com/beritautama/dinaker-purbalingga-merasa-kecolongan-masalah-pt-nvi-makin-banyak-gunakan-tenaga-kerja-asing-tanpa-izin

Tuesday, December 3, 2019

Belum Kantongi Izin, PT. Nina Venus Indonusa Pekerjakan TKA Dengan Izin Kerja Bermasalah

Desember 3, 2019

Disinyalir belum mengantongi izin PT. Nina Venus Indonusa, salah satu perusahaan yang bergerak dibidang rambut palsu ( Wig ) di Kelurahan Kalikabong, Kecamatan Kalimanah Purbalingga sudah beroperasi.

Satwasker wilayah Banyumas, saat sidak ke perusahaan tersebut ( 2/11 ) mendapatkan beberapa temuan pelanggaran. Lujeng, Satwasker Wilayah Banyumas menyampaikan ” Sesuai dengan aduan masyarakat, yang mengatasnamakan LSM Incident Java Independent (IJI), bahwa ada indikasi pelanggaran pada PT. Nina Venus Indonusa. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak Satpol PP, Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Purbalingga dan DPMPTSP Purbalingga”.

Luneng menerangkan, bahwa ada empat temuan pelanggaran saat sidak tersebut. Pertama, PT. Nina Venus Indonusa memang belum melaksanakan wajib lapor, sebagaimana UU nomor 7 tahun 1981. Kedua, terkait dengan K3 ( keamanan, kesehatan dan keslamatan kerja) juga belum ada sama sekali. Ketiga, informasi dari HRD yang di dampingi Mr. Kim ( owner) dan Mr. Park (TKA), bahwa 560 karyawan, belum diikutsertakan BPJS Ketenagakerjaan. Kemudian yang terakhir masalah adanya TKA ( Tenaga Kerja Asing ) atas nama Mr. Park. Setelah kita meminta datanya, memang ada pelanggaran, bahwa Mr. Park izin kerjanya itu di wilayah Kabupaten Sukabumi bukan Purbalingga. Sudah kita tegur dan kita tidak bisa mentolelir, harus keluar dari Purbalingga.

Terkait karyawan yang diduga adalah peralihan dari PT. Yuro Mustika, Kasi Pengupahan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Purbalingga, Purwanto mengatakan, ” Normatifnya dulu direkrut oleh Yuro, jadi karena Yuro yang merekrut, kita pedomannya itu masih karyawan Yuro. Yang kedua, ini memang ada peralihan, terkait dengan peralihan, apakah ini bertepatan dengan habis kontrak apa engga, pada saatnya nanti kita konfirmasi, karena nanti pada saat peralihan resmi, itu kan nanti kita minta juga statusnya “.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Purbalingga, Ato Susanto, saat di konfirmasi tentang izin PT. Nina Venus Indonusa melalui telepon seluler mengatakan, ” Dia kan mengurus lewat OSS, Tadi itu NIB sudah ada, tinggal beberapa komitmen belum terpenuhi semua. Itu otomatis, kalau komitmen itu terpenuhi, otomatis ijin usaha itu berlaku, jadi DPMPTSP itu tidak mengeluarkan izin, dia ngakses lewat OSS, setelah komitmen terpenuhi semua maka itu berlaku “.

Ketua APINDO Kabupaten Purbalingga, Rocky dalam kesempatannya ikut menanggapi, bahwa dirinya mendukung dengan adanya investor baru yang masuk di Purbalingga, akan tetapi aturan harus tetap di jalani.Dia menekankan pada satu hal, yaitu tentang ketersediaan tenaga kerja, masalahnya untuk area sekitar situ dalam radius 5 km sudah ada 5 Perusahaan dengan produksi sejenis.
Kasi Dikdak Satuan Polisi Pamong Praja ( Satpol PP) Kabupaten Purbalingga, Sugeng Riyadi memberikan konfirmasi melalui pesan singkat, ” pada prinsinya kita mendukung investasi, namun harus juga di penuhi persyaratannya. Hanya saja informasi yang saya dapat sedang dalam proses, sementara pengajuan ijin sekarang sudah memakai sistem OSS, jadi untk bisa mngetahui akses data itu hanya pihak pemohon, dan kami tekankan agar untuk secepatnya di selesaikan dengan ijin lingkungan salah stunya sebagai jembatan untuk permohonan ijin usaha”.

Prinsip, harus ditegakkannya aturan, LSM sebagai kontrol sosial mempunyai kewajiban mengingatkan pihak pihak yang terindikasi melanggar aturan, tentunya dengan ikut serta memberikan masukan pemikiran positif, kata Rasno, Ketua Umum LSM IJI.
Tugas Bangsa News mencoba meminta konfirmasi dari pihak PT. Nina Venus Indonusa, akan tetapi pihak Perusahaan melalui Satpam, Suwito menyampaikan, belum dapat dikonfirmasi karena masih banyak kesibukan.


Sumber :
https://www.tugasbangsanews.com/2019/12/03/belum-kantongi-izin-pt-nina-venus-indonusa-pekerjakan-tka-dengan-izin-kerja-bermasalah/

Wednesday, November 27, 2019

Rambut Palsu Indonesia Terbukti Jempolan

RAMBUT PALSU
27 November 2019, 03:52 WIB

Bagi artis kelas dunia, memakai bulu mata palsu atau rambut palsu (wig) adalah lumrah. Untuk dua hal itu, tak jarang mereka memilih buatan Indonesia karena terbukti bermutu prima. Tak salah jika produksi rambut dan bulu mata palsu jadi komoditi andalan Indonesia untuk ekspor ke mancanegara.

Jika melihat artis tanah air atau mancanegara tampil di televisi, mereka sering berdandan sempurna untuk keperluan hiburan. Bila mereka memakai merek Diva’s Wig atau Fair Lady, artinya mereka memakai rambut atau bulu mata palsu buatan home industri dari Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, atau Sidoarjo, Jawa Timur, yang dikerjakan kaum ibu.

Komoditi penting Indonesia ini diawali pada tahun 1950-1951 saat seseorang bernama Tarmawi yang tinggal di Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga  (Jateng) mulai mengumpulkan potongan rambut untuk dibuat sanggul. Sanggul buatan Tarmawi ini ternyata laris manis saat hajatan pengantin.

Dalam satahun dia tidak saja memenuhi permintaan konsumen dari Purbalingga tapi juga dari kota-kota lain di Jawa Tengah sampai Jakarta. Tarmawi tidak hanya membuat sanggul untuk pengantin tapi juga sanggul Jawa tekuk , sanggul modern sampai sanggul cepol. Juga rambut sambung dan rambut palsu sampai jenggot palsu. Keterampilan itu kemudian menular ke beberapa orang di Desa Karangbanjar dan para perajin itu mulai membentuk home industri.

Karena banyak permintaan dan bahan baku terbatas, pada tahun 1963-an di Desa Karangbanjar sempat ada pasar rambut , yaitu semacam pasar tradisional yang  menawarkan rambut sisa potong atau sisa sisiran rambut. Penyedia bahan baku datang dari berbagai daerah di luar Purbalingga dan pengrajin sanggul membelinya. Pasar rambut itu kini sudah tidak ada.

Kini bahan baku sebagian disediakan oleh pemasok lama, sebagian lagi harus dicari oleh para pengepul rambut asal Karangbanjar. Uniknya pengepul rambut ini sebagian berprofesi sebagai petani, sehingga jika musim tanam atau panen tiba, mereka tidak bisa mengumpulkan bahan baku rambut. Kini, bahan baku tidak hanya berupa potongan rambut asli namun juga bahan sintetis yang didatangkan dari Korea Selatan, Jepang dan China.

Bisnis yang berkembang pesat sejak 1950 ini mengalami masa suram pada era 1970-an. Tahun itu memang beberapa negara juga mulai membuat rambut palsu diantaranya India, Bangladesh, Senegal, dan Filipina. Karenanya, produk asal Indonesia harus bersaing ketat.

Tapi kondisi itu tak terlalu lama. Tahun 1980 pasar dunia kembali mencari produk Indonesia karena rambut palsu asal India tidak memuaskan mereka. Inggris misalnya. Konsumen Inggris menilai kualitas rambut palsu Indonesia sangat baik karena halus. Pasar dunia pun kembali mencari produk Indonesia karena kualitasnya memang jempolan dan seleranya mengikuti tren dunia.

Pada era itu, ekspor rambut palsu mulai diandalkan dan dalam belasan tahun, beberapa pabrik berdiri di Purbalingga dan Sidoarjo. Pabrik di Sidoarjo dengan cepat memenuhi selera konsumen rambut palsu dan bulu mata palsu di AS dan Afrika dengan merek Diva’s Wig yang digemari dunia itu.

Di Purbalingga, komoditi ini menarik perhatian beberapa investor dan mereka mulai menginvestasikan uangnya dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA). Kini ada sekitar 28 PMA di Purbalingga (sebagian besar dari Korea Selatan), selain puluhan home industri yang masih beroperasi. Bisnis ini menyerap sekitar 55 ribu tenaga kerja.

Salah Satu Andalan Ekspor

Jika di Sidoarjo semua pengelolaan bahan dan pengerjaan rambut palsu dikerjakan oleh pabrik, maka di Purbalingga sebagian pengerjaannya diserahkan ke perajin seperti pengumpulan dan klasifikasi bahan baku, pembersihan dan pengerjaan awal. Sedangkan pengerjaan lanjutan seperti penentuan model, pembuatan gelombang (ikal atau lurus) dan pewarnaan dikerjakan di pabrik.

Begitu juga pada bulu mata, dimulai oleh perajin seperti menempelkan rambut pada seutas benang. Perajin yang bermitra dengan pabrik dan mengerjakan sebagian pekerjaan awal disebut perajin plasma. Di pabrik, tidak semuanya dikerjakan dengan mesin karena beberapa bagian masih dikerjakan dengan tangan (handmade) oleh buruh pabrik.

Inilah yang jadi pembeda rambut palsu Indonesia dan China karena di China semua pengerjaannya menggunakan mesin. Ini menimbulkan beberapa konsekuensi, yaitu China sanggup memproduksi jauh lebih banyak dalam waktu singkat. Sedangkan dari segi jumlah (kuantitas) Indonesia lebih sedikit, sedangkan dari sisi kualitas, kita unggul.

Dua puluh tahun ini, komoditi Indonesia ini menguasai sebagian besar kebutuhan dunia, khususnya Amerika Serikat (AS), Eropa, Afrika dan Asia sendiri. Jika disisir lagi, selama 30 tahun terakhir ini perajin dan dan pabrikan Indonesia telah mengekspor kurang lebih ke 40 negara tujuan.

Untuk Asia, negara penyuka rambut dan bulu mata palsu produk Indonesia adalah Malaysia, Jepang, Arab, Thailand, Bangladesh, China, Singapura, dan Iran. Sedang negara Eropa yang menyukai rambut palsu Indonesia adalah Belanda dan Inggris. Sedangkan negara Afrika adalah Nigeria.

Rambut palsu dan bulu mata asal Indonesia sebagian besar buatan tangan alias manual, karena itu dalam rumpun ekspor, komoditi ini dimasukkan dalam kelompok handycraft. Sejak tahun 2013 kelompok produk ini berhasil membukukan nilai ekspor total sebesar US$ 696 juta (sekitar (Rp 9.7 triliun) dan selalu mengalami peningkatan setiap tahun.

Dari jumlah ini ekspor rambut dan bulu mata mengisi slot 30 % dari nilai ekspor handycraft. Pada tahu 2015 produk ini alami surplus sebesar US$ 3,38 juta (sekitar Rp4.7 miliar) dan menguasai sekitar 7,28% total ekspor dunia. Sehingga bisa dikatakan, komoditi ini penting dan menjadi andalan perdagangan Indonesia ke luar negeri.

Hambatan nyata dalam ekspor rambut dan bulu mata palsu Indonesia dalam dua tahun ini adalah persaingan ketat dengan China. Seperti yang sudah dijelaskan di atas meski Indonesia unggul dalam kualitas, tapi secara kuantitas produk China lebih banyak dan murah. Sejauh ini pemerintah sudah membantu para pengrajin dengan kemudahan perolehan bahan baku (terutama sintetis) dan potongan pajak.


Sumber :
https://www.indonesia.go.id/ragam/seni/ekonomi/rambut-palsu-indonesia-terbukti-jempolan

Friday, October 11, 2019

Kemendag soal Industri Bulu Mata Purbalingga PHK 600 Pekerja: Nanti, Saya Lihat Dulu

Jumat, 11 Oktober 2019 19:05

https://www.merdeka.com/uang/kemendag-soal-industri-bulu-mata-purbalingga-phk-600-pekerja-nanti-saya-lihat-dulu.html


Merdeka.com - Produsen bulu mata palsu asal Korea Selatan (Korsel) di Purbalingga menghadapi persaingan sengit dari China. Ekspor bulu mata palsu Purbalingga kian berkurang. Imbasnya pemutusan hubungan kerja (PHK) telah terjadi, di mana 600 pekerja salah satu pabrik kehilangan pekerjaannya.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Indrasari Wisnu Wardhana mengaku belum dapat berkomentar banyak.

"Nanti dulu. Saya lihat dulu dong. Industrinya apa kayak bagaimana," kata dia saat ditemui di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (11/10).

Dia mengatakan perlu melihat lebih jauh terkait berita tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan apa saja penyebab turunnya kinerja bisnis perusahaan. "Kan nggak bisa lihat kalah karena apa kan kalau saya nggak tahu industrinya bagaimana," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, produsen bulu mata palsu asal Korea Selatan (Korsel) di Purbalingga menghadapi persaingan sengit dari China. Ekspor bulu mata palsu Purbalingga kian berkurang. Imbasnya pemutusan hubungan kerja (PHK) telah terjadi, di mana 600 pekerja salah satu pabrik kehilangan pekerjaannya.

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, mengatakan produksi bulu mata di China lebih banyak. Di mana, produktivitas tenaga kerja China 9 kali lebih tinggi dari Purbalingga.

Dampak tak terelakkan, di tengah situasi pasar yang melemah, perusahaan mau tidak mau harus mengurangi karyawan agar usahanya tetap berjalan. Hal ini disampaikan usai kunjungannya ke PT Indokores Sahabat, PT Hyup Sung, PT Sun Chang Indonesia, ketiganya merupakan perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) dari Korea Selatan. Serta satu perusahaan pabrik rambut Bintang Mas Triyasa (BMT) yang merupakan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri).

"Beberapa perusahaan PMA bahkan sudah mulai melirik usaha di luar negeri seperti Kamboja, dengan situasi yang kondusif dan upah serta produktivitas tenaga kerjanya lebih baik," ujarnya saat mengunjungi sejumlah pabrik rambut di Purbalingga, Kamis (10/10).

"Kami berharap semua pihak untuk ikut situasi agar lebih baik, dan permintaan kembali pulih. Jika ada permasalahan, diselesaikan dengan baik dan musyawarah sesuai ketentuan regulasi ketenagakerjaan," tambahnya.

Perusahaan Alami Stagnasi

Pemilik PT Indokores Sahabat, Hyung Don Kim, mengakui perusahaan tengah alami stagnasi kinerja. Jika pasaran lesu, dia memprediksi perusahaan hanya bisa bertahan 5-10 tahun. Kim menambahkan, kompetitor bulu mata palsu yang bersaing ketat dari Purbalingga yakni dari China.

"Dari sisi bahan baku, kami mengandalkan dari India dan China. Bahan baku rambut sintetis dari Indonesia kualitasnya kurang bagus, bahkan banyak dicampur bahan lain. Ada juga bahan baku rambut sintetis yang sambungan," kata Kim.

Sementara, pemilik PT Hyup Sung Indonesia, Song Hyung Keun mengakui, produksi bulu mata palsu di perusahaannya menurun tajam seiring dengan permintaan pasar yang menurun karena bersaing dengan China. Biasanya rata-rata produksi per bulan 1,3 juta buah, namun saat ini menurun hingga 30 persen.

Dari sisi harga, bulu mata palsu China juga lebih murah. Sedang sisi kualitas juga sudah menyerupai produk rambut Purbalingga yang dikerjakan secara manual.

"Mau tidak mau, kami harus mengurangi jumlah karyawan dari 1.900 orang menjadi 1.300 orang. Oleh karenanya, kami mengistilahkan, untuk menyelamatkan perusahaan harus memotong ekornya dulu, daripada badannya ikut termakan. Caranya dengan mengurangi karyawan dan meningkatkan produktivitas pekerja (bulu mata palsu) serta inovasi produk," kata Song.

Thursday, October 10, 2019

Industri Wig Purbalingga Hanya akan Bertahan 10 Tahun Lagi

Kamis 10 Oct 2019 18:53 WIB

https://nasional.republika.co.id/berita/pz5qce368/industri-emwig-empurbalingga-hanya-akan-bertahan-10-tahun-lagi


Rep: Eko Widiyatno/ Red: Dwi Murdaningsih

Pekerja pabrik rambut palsu mengenakan pakaian kebaya, dalam rangka memperingati hari kartini di Purbalingga, Jateng, Kamis (21/4).

Pasar rambut palsu saat ini sedang sepi dan kalah dengan produk Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA -- Sengitnya persiangan industri rambut dan bulu mata palsu di pasar global, berdampak pada ketahanan industri serupa di Purbalingga. Bahkan beberapa pelaku industri yang kebanyakan berasal dari Korea Selatan, mengaku bila kondisinya masih serupa hingga beberapa tahun mendatang, maka industri rambut dan bulu mata palsu di Purbalingga hanya akan bisa bertahan 5-10 tahun lagi.

Investor PT Indokores Sahabat Mr Hyung Don Kim yang berkebangsaan Kores Selatan, menyebutkan kondisi perusahaannya saat ini boleh dikatakan stagnan. ''Jika pasaran lesu seperti saat ini, dan kondisi tidak nyaman, kami memprediksi perusahaan kami hanya akan bisa bertahan 5-10 tahun lagi,'' kata  Mr Kim saat menyambut kunjungan kerja Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, Kamis (10/10).

Mr Kim menambahkan, kompetitor utama  bulu mata palsu dari Purbalingga, saat ini harus bersaing ketat dengan produsen serupa dari Cina. Sedangkan untuk produksi rambut palsu atau wig, kualitas produksi dari Purbalingga masih lebih baik kualitasnya, dibanding produksi serupa dari India dan Cina.

''Namun untuk bahan bakunya, kami mengandalkan pasokan impor dari India dan Cina. Bahan baku rambut sintetis dari Indonesia, kualitasnya kurang bagus karena banyak dicampur bahan lain. Bahkan ada juga bahan baku rambut sintetis yang sambungan,'' katanya.

Investor PT Hyup Sung Indonesia Song Hyung Keun yang juga asal Korea Selatan, bahkan menyebutkan produksi bulu mata palsu di perusahaannya sejak beberapa tahun terakhir mengalami penurunan tajam. Hal ini  seiring dengan permintaan pasar yang anjlok, karena kalah bersaing dengan produksi Cina yang harganya lebih murah.

''Sebelumnya, kami bisa memproduksi 1,3 juta pieces per bulan. Namun saat ini turun hingga sekitar 30 persennya. Dalam kondisi seperti ini, mau tidak mau kami juga harus mengurangi jumlah karyawan dari 1.900 orang menjadi tinggal 1.300 orang,'' katanya.

Mr Song menambahkan, produktivitas tenaga kerja di Cina lebih tinggi dari Purbalingga. Bahkan, mereka cenderung meminta lembur bekerja. Sedangkan di sisi harga,  bulu mata palsu asal Cina juga lebih murah dengan  kualitas yang sudah menyerupai produk rambut Purbalingga.
Baca Juga
Debit Mata Air di Purbalingga Turun 40-50 Persen

Pendapatan Perangkat Desa di Purbalingga Naik

92 Desa Terdampak Kekeringan di Purbalingga
''Dalam kondisi seperti ini, kami juga harus melakukan penyesuaian.  Caranya dengan mengurangi karyawan dan meningkatkan produktivitas pekerja serta inovasi produk,'' kata Mr Song.

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi menyebutkan, di wilayahnya ada beberapa perusahaan yang memproduksi rambut dan bulu mata palsu. Selain PT Indokores Sahabat  PT Hyup Sung dan PT Sun Chang Indonesia yang merupakan perusahaan PMA (Penanaman  Modal Asing) sal Korea Selatan, satu perusahaan pabrik rambut Bintang Mas Triyasa (BMT) yang merupakan perusahaan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri).

Terkait kondisi pasar global yang sedang terjadi saat ini, Bupati minta agar semua pihak yang terkait dengan industri bulu mata palsu Purbalingga, bisa menahan diri. ''Kondisi saat ini memang cukup sulit bagi industri rambut dan bulu mata palsu. Namun kami berharap, semua pihak bisa menahan diri sehingga industri ini bisa tetap bertahan bahkan berkembang lagi,''' katanya.

Saturday, July 13, 2019

Investasi di Jateng, Ibarat Meminang Gadis Seksi

Sat, 13 Jul 2019 - 06:30 WIB 1153

https://www.suaramerdeka.com/news/baca/188825/investasi-di-jateng-ibarat-meminang-gadis-seksi


TAHUN lalu, Presiden Joko Widodo datang ke Purbalingga meresmikan pembangunan Bandara Jenderal Besar (JB) Soedirman. Ini jadi momentum positif untuk pertumbuhan perekonomian di kabupaten itu dan daerah sekitarnya. Dia berharap, investasi di daerah-daerah itu semakin membesar. Tidak hanya industri bulu mata dan rambut palsu saja, tapi industri lain yang berorientasi ekspor.

Ternyata, efek positif dari pembangunan bandara itu langsung terasa. Meskipun belum jadi, namun para investor berbondong-bondong menanamkan modalnya ke Purbalingga, membangun pabrik.  Sebut saja, pembangunan hotel bintang empat Grand Braling Hotel, pabrik boneka John Toys, pabrik obat herbal PT Herba Emas Wahidatama, pabrik rambut PT Cahaya Abadi Cemerlang dan PT Sun Chang Indonesia dan Universitas Perwira Purbalingga.

Wal hasil, pada 2018, nilai investasi di Purbalingga terlampaui Rp 622,8 miliar atau naik 132,5 persen dari target Rp 470 miliar. Jumlah itu naik 10 persen dari tahun sebelumnya yang nilainya Rp 547,46 miliar.

Situasi dan kondisi Purbalingga yang kondusif menjadi poin penting untuk investasi. Kabupaten di kaki Gunung Slamet ini hampir tidak ada demonstrasi buruh. Terbukti, ada 24 perusahaan modal asing yang selama ini eksis tetap kegiatan usaha dengan cukup lancar.  "Tidak pernah ada hal-hal yang sifatnya mengganggu," kata Plt Kepala Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Purbalingga, Mukodam, Jumat (12/7).

Terlebih lagi, lanjutnya, ke depan, Purbalingga bakal punya bandara komersial yang sesuai rencana target sudah operasional di 2020. Ini akan menjadi magnet tersendiri bagi investor yang masuk ke Purbalingga. Belum lagi, infrastruktur pendukung aksesbilitas antarkecamatan sekarang sudah ditingkatkan sedemikian rupa. Jalannya lebar dan halus.

Keberadaan exit tol Pemalang juga menjadi aksesbilitas semakin bagus untuk investasi. Artinya, untuk mobilisasi produk industri semakin mudah menuju Pantura. Pemprov juga sudah meningkatkan aksesbilitas dari Purbalingga ke Pemalang dengan memperlebar jalan. "Selama ini, perusahaan di Purbalingga yang produknya diekspor, ingin akses ke Pantura dipermudah," kata Mukodam.

Para investor yang akan menanamkan modalnya di Purbalingga, juga tidak perlu khawatir akan tanaga kerja. Ketersediaan tenaga kerja di Purbalingga masih sangat memungkinkan terutama kaum Adam. Tidak kalah penting, upah minimum kabupaten (UMK) juga bersaing dengan kabupaten tetangga.

Pemkab Purbalingga, melalui dinasnya, memberikan fasilitas kemudahan bagi calon investor. Perizinan saat ini sudah menerapkan online singgle submission, artinya, untuk mengurus izin, investor tidak harus ke kantor perizinan. Cukup dari kantor perusahaan itu sendiri atau bahkan dari rumah menggunakan ponsel berbasis android. "Komunikasi antara pengusaha dengan stakeholder dipermudah untuk mendukung peningkatan investasi," imbuh Mukodam.

Susun RTRW

Dan perlu diingat, sekarang Pemkab Purbalingga tengah menyusun ulang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dengan meningkatkan lahan peruntukan investasi mencapai 300 persen luasannya dibanding RTRW yang sebelumnya.

Naiknya investasi di Purbalingga seiring dengan naiknya investasi di Jawa Tengah. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Prasetyo Aribowo, baru-baru ini mengatakan, tahun lalu, target investasi sebesar Rp 47 triliun, namun bisa teralisasi hingga Rp 59 triliun.

Nah, tahun ini ditarget Rp 56 triliun. Hal itu bukan beralasan. Adanya Tol Trans-Jawa dan munculnya kawasan industri di sejumlah kabupaten/kota menjadi magnet bagi investor. Dari catatan DPMPTSP, banyak investor yang akan masuk di wilayah pantura. Sebut saja di Pemalang, Demak, Semarang, Kendal, Brebes dan Tegal.

Di berbagai kesempatan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berujar, Jateng itu seperti gadis seksi yang sangat menarik untuk dipinang. Para investor seharusnya tidak perlu berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di Jateng.

"Sangat seksi. Nilai kompetisi kita tinggi. Tidak lagi bersaing dengan provinsi tetangga, tapi sudah dengan Vietnam. Kita sangat menarik, jadi mereka (investor) mau datang. Mereka yang sudah menanamkan modalnya, relatif kerasan dengan kultur dan kinerja di Jateng," katanya di Purbalingga, Jumat (12/7).

Dengan target investasi Rp 56 triliun, Ganjar punya jurus jitu untuk menarik para investor, salah satunya yakni tour investasi. Berkeliling menawarkan seksinya Jateng pada para investor terutama dari asing. "Ada kawasan khusus, kawasan ekonomi, kawasan industri. Beberapa kabupaten membuat itu. Memang yang banyak masih di Pantura. Nah, selatan yang mau membuat Cilacap, Banyumas, Purworejo, ini kita tawarkan ke banyak negara," katanya.

Untuk Purbalingga, mungkin kawasan itu belum, tapi kota ini sudah punya industri besar rambut dan bulu mata. Apa lagi untuk dua mata ini, banyak dari penanaman modal asing (PMA). Hal itu, menurutnya sangat luar biasa.  "Ini nanti kalau bandara (Bandara JB Soedirman) jadi, wuih sudah, sektor lain, seperti pariwisata di sini  juga akan boom. Maka pariwisata ini penting," imbuhnya.

Lebih lanjut, investor butuh fasilitas-fasilitas kemudahan. Antara lain insentif tax holiday dan izin yang gampang. Hal inilah yang terus didorong. Oleh karena itu, dia meminta para bupati, wali kota, camat, kades dan masyarakat wajib mendukung, permudah para investor sesuai dengan koridor aturan yang ada.

"Biar wellcome, jangan dikepruk, jangan diperes, izinnya yang mudah. Itu akan bikin orang (investor) seneng, kan mau menanamkan modal. Toh nanti yang kerja kan orang-orang sekitar juga," katanya.

Menurutnya, di Istana Bogor, Selasa (8/7), Presiden Jokowi meminta Jateng diharapkan jadi penopang ekonomi nasional. Jateng punya potensi besar di bidang industri dengan hasil ekspor dan bidang pariwisata. Pemerintah pusat pun siap memberikan sokongan bantuan untuk percepatan pertumbuhan perekonomian tersebut.

Sunday, March 25, 2018

Menelusuri Asal Usul Industri Rambut Palsu di Purbalingga

Minggu 25 Maret 2018, 12:09 WIB

https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3935454/menelusuri-asal-usul-industri-rambut-palsu-di-purbalingga


Purbalingga - Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah dikenal dengan industri rambut palsu yang disebut-sebut pertama di Indonesia. Sejarah awal mula adanya rambut sambung atau rambut palsu seperti sanggul, wig dan bulu mata itu dimulai di Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari sekitar tahun 1950-1951.

Orang yang memulai adalah eyang Tarmawi yang dikumpulkan dari potongan rambut itu menjadi sanggul. Rambut sanggul atau rambut tambahan itu kebanyakan digunakan saat hajatan pengantin.

Seiring berkembangnya waktu, semakin banyak pengantin yang meminta sanggul yang dibuat oleh eyang Tarmawi hingga terus berkembang secara turun temurun kepada anak-anaknya. Hingga saat ini semakin berkembang dan menjadi mata pencaharian tersendiri bagi warga Desa Karangbanjar.
Bahan rambut palsuBahan rambut palsu Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Maryoto (77) merupakan generasi ke tiga dari keluarga eyang Tarmawi yang masih meneruskan usaha pembuatan sanggil. Saat ini menjadi sebuah industri besar di Purbalingga hingga bisa mendatangkan investor yang mau membangun pabrik rambut palsu di kabupaten tersebut.


"Dulu khusus untuk pengantin yang rambutnya tidak ada namannya bundis, untuk orang-orang yang jadi pengantin itu dikasih dan tidak diminta bayaran, lama-lama konsumen banyak," katanya.

Menurutnya dari eyang Tarmawi lalu turun ke Bu Mur anaknya eyang Tarmawi. Hanya berawal untuk pengantin, terus berkembang. "Bukan hanya untuk pengantin kemudian mulai sanggul Jawa tekuk dan berkembang jadi sanggul modern, sanggul cepol," kata Maryoto.

Karena semakin banyak orang yang mencari rambut untuk sanggul saat itu eyang Tarmawi kemudian mulai mencari bahan baku rambut mulai dari para tetangga sekitar hingga melebar hingga daerah lain. Bahkan pada tahun 1963-1964 di Purbalingga sempat ada pasar rambut yang khusus hanya menjual rambut sisa hasil pemotongan ataupun rambut yang terputus saat sisiran.
Baca juga: Keren! Bulu Mata Palsu dari Purbalingga Jadi Favorit di Italia

"Tahun 1963-1964 itu ada pasar rambut, sama seperti pasar ayam, tapi ini yang dijual hanya rambut. Sekarang sudah tidak ada, itu yang jualan orang dari berbagai daerah datang hanya untuk menjual rambut," ujarnya.

Peminat rambut untuk dibuat sanggul terus meningkat saat itu, hingga kerajinan membuat sanggul menurun ke anak-anak eyang Tarmawi. Kemudian para tetangga sekitar mulai melirik usaha itu dan mulai ikut membuat rambut palsu. Hingga kini sudah ada ratusan pengrajin di Desa Karangbanjar dan menjadi sentra kerajinan rambut di Purbalingga.

"Sampai sekarang semakin banyak orang Desa Karangbanjar yang membuat rambut, sekarang sudah ratusan pengusaha rambut," ungkapnya.

Sekitar tahun 1980, kata Maryoto mulai dilakukan ke Inggris yang melihat kualitas rambut dari Indonesia sangat baik. Hingga kini, Desa Karangbanjar menjadi sentra rambut untuk dipasok ke pabrik-pabrik pembuat wig dan bulu mata dari Korea yang masuk Purbalingga sekitar tahun 2000-an.

"Orang luar negeri tahu kalau rambut dari Indonesia itu bagus jadi kualitasnya tidak sama dengan India. Kemudian setelah ada pabrik wig, kami stok bahan baku rambut semi dan itu masih bahan baku belum jadi wig, pabrik yang ada disini bahan bakunya dari kami, jadi sini hanya kasih yang rambut semi, nanti yang memporses itu pabrik untuk jadi wig, jadi saat dikirim ke pabrik itu sudah bersih termasuk diwarnai, pabrik tinggal mengerjakan," jelasnya.
Warga membuat rambut palsuWarga membuat rambut palsu Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Menurutnya kehadiran industri ditengah pengrajin rambut tradisonal sangat membantu karena semakin meningkat. {engrajin juga bisa meniru desain dari pabrik modern. Banyak karyawan yang keluar dari pabrik terus kerja di tempatnya dan mulai menerapkan model-model yang baru-baru.

"Jadi dia bawa ilmu, misalnya bulu mata, nganyam saja susah dari prsoses sampai finising," ungkapnya.

Ia menambahkan dalam 1 bulan, kebutuhan rambut untuk memenuhi pabrik bisa mencapai 5 kuintal. Rambut tersebut didapatkan dari kota di seluruh Indonesia. Untuk bisa mendapatkan rambut tersebut, ada dua sumber yakni dari tempat pemotongan rambut atau salon dan dari sisa rambut usai disisir yang dikumpulkan oleh pemilinya dengan panjang mulai 7 inci hingga terpanjang mencapai 52 inci.

Maryoto sendiri tetap bertahan dengan usaha keluarganya secara turun temurun yakni membuat sanggul. Saat ini dirinya dan sang istri dengan dibantu tiga karyawannya masih membuat produk sanggul seperti sanggul cepol, sanggul kecil, sanggul modern, sanggul tekuk, sanggul Jawa, wig, bulu mata dan lain-lain.

"Yang diproduksi sekarang bukan hanya untuk memenuhi bahan baku industri saja, tapi sudah ada yang bisa membuat wig, itu paling hanya 3-5 orang yang bisa membuat wig di desa ini. Sekarang penjualan lewat online juga banyak sekali dan sangat membantu sekali penjualan online," katanya.

Untuk harga produk yang dia buat sendiri, lanjut dia mulai jual dari wig sintetis seharga Rp 150 ribu. Sedangkan untuk wig dari rambut asli Rp 600 ribu-Rp 700 ribu, bulu mata dengan harga Rp 3.000 sepasang. Sedang sanggul biasa antara Rp 15-50 ribu untuk pasar Indonesia.
Baca juga: Akhirnya Sampah di Purbalingga Bisa Dibuang ke TPA

Salah satu pengrajin rambut tingkat home industri, Agus Santoso (50) yang sudah menggeluti usaha rambut sejak tahun 1999 ini menceritakan dirinya memasok lima buyer industri wig dan di kirim ke Turki.

"Untuk luar negeri dikirim ke Turki, biasanya minta barangnya yang sudah yang diproses semi dan diwarnai. Sebulan habis 2 kuintal rambut," katanya.

Kesulitan bahan baku rambut kadang sering dialaminya, biasanya bahan baku rambut sulit didapatkan ketika musim panen raya padi. Sebab kebanyakan para pencari rambut adalah para petani. Mereka akan bekerja di sawah dulu.

"Sulitnya saat masa panen raya padi, saya harus sampai ke Surabaya, Bali, Madura. Karena umumnya orang yang cari bahan baku itu petani," kata Agus.
ayap, cari lahan baru, makanya se Indonesia sudah saya datangi," ucapnya.

Dia mengungkapkan, usai mendapatkan rambut dari para pengepul rambut di berbagai kota baik rambut basah maupun kering, biasanya rambut tersebut harus dijemur dahulu karena dianggap rambut itu sangat riskan dan mudah rusak. Setelah kering proses selanjutnya rambut harus dikirab-kirab atau di jewer dalam bahasa mereka. Setelah itu baru direndam dalam minyak tanah selama satu malam dengan tujuan agar lebih mudah saat proses pelurusan karena rambut akan mengembang.

"Kalau tidak dikasih minyak tanah, ya
Proses pembuatan tambut palsuProses pembuatan tambut palsu Foto: Arbi Anugrah/detikcom
ng panjang bisa jadi pendek karena ikatannya sangat kencang, setelah direndam minyak tanah rambut yang panjang akan tetap panjang dan yang pendek akan tetap pendek. Setelah itu kita proses dicutat, digulung lalu kita kasih pelembab supaya prosesnya halus sedikit berat, karena rambut masih sehat jadi bisa menyerap vitamin seperti pelembab," ucapnya.

Kemudian proses selanjutnya masuk di proses pelurusan yang namanya digebug atau bahasa disasak. Setelah lurus rambut dapat dibuat lus atau setelah itu kita mau buat lus dari pendek hingga panjang dijadikan satu atau ritul dengan ukuran tertentu tergantung permintaan pasar.

"Untuk permintaan ritul itu bisanya dari permintaan 7, 8, 10 inci sampai 30 inci, paling pendek itu 7 inci, itu saja masih yang sampah-sampah masih laku kisaran Rp 25 ribu per kilogram untuk dibuat bulu mata. Sedangkan harga bervariasi ikuti ukuran paling pendek 7 inci itu harganya Rp 200 ribu per kilogram, paling panjang 30 inci itu Rp 8-10 juta per kilogram," pungkas dia.

Saturday, January 20, 2018

Ternyata Industri Rambut Palsu Terbesar Kedua di Dunia ada di Purbalingga

Sabtu, 20 Januari 2018 17:38

https://jateng.tribunnews.com/2018/01/20/ternyata-industri-rambut-palsu-terbesar-kedua-di-dunia-ada-di-purbalingga.


Ternyata Industri Rambut Palsu Terbesar Kedua di Dunia ada di Purbalingga. Industri ini menyerap sekitar 60 ribu tenaga kerja di desa-desa dan mayoritas adalan perempuan

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Industri rambut palsu berskala internasional di Kabupaten Purbalingga terus bergeliat. Industri rambut di Purbalingga bahkan disebut terbesar di dunia setelah kota Guangzo di China.

Keberadaan industri itu membawa keuntungan tersendiri bagi daerah karena mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja hingga ke pelosok desa.


Bupati Tasdi pernah menyebut, pekerja yang terserap di industri rambut dan bulu mata palsu di Purbalingga mencapai angka 60 ribu orang. 95 persen di antaranya adalah tenaga kerja wanita.

Mereka bukan hanya bekerja di perusahaan, namun sebagian mengerjakannya di rumah lalu disetor ke pengepul.

Aktivitas pengrajin bulu mata di Industri Kecil Menengah (IKM) PT Bilqis Eyelashes di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, Selasa (9/5/2017).
Aktivitas pengrajin bulu mata di Industri Kecil Menengah (IKM) PT Bilqis Eyelashes di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, Selasa (9/5/2017). (HUMAS PEMKAB PURBALINGGA)
Pemandangan di desa-desa di Purbalingga beda dari desa umumnya di daerah lain. Teras-teras rumah diramaikan ibu rumah tangga yang duduk meringkuk menganyam bulu mata atau rambut palsu. Sembari bekerja, mereka sesekali mengumbar canda, meski mata dan tangannya tetap serius.

Sumarti, ibu rumah tangga asal Desa Tlahab Lor bersyukur menjadi pengrajin bulu mata palsu di desanya. Ia bekerja kepada Penanam Modal Asing (PMA) di desanya dan memperoleh uang dari hasil pekerjaannya.

Dari hasilnya bekerja, ia mengaku bisa menyekolahkan anaknya dan memasukkannya ke Pondok Pesantren di Wonosobo. Ia juga bisa meringankan beban finansial suami untuk menghidupi keluarga.

Ia berharap industri ini terus berjalan karena telah menjadi tumpuan hidup masyarakat pedesaan.

“Pekerjaan ini agar terus ada. Karena dengan ini bisa membantu suami,”kata Sumarti, Sabtu (20/1)

Di Desa Tlahab Lor Kecamatan Karangreja, terdapat tiga PMA, yakni PT Midas, PT Royal Korindah dan PT Indokores yang mampu menyerap ratusan pekerja wanita desa.

Kepala Dusun Tlahab Desa Tlahab Lor Teguh Sugiyanto mengatakan, keberadaan PMA di desanya cukup membantu mendongkrak ekonomi rakyat.

Sebelum industri ini masuk, lazimnya desa lain, perekonomian desa Tlahab hanya mengandalkan sektor pertanian. Kondisi itu berubah usai industri rambut dan bulu mata palsu masuk ke desa. (*)