Pages

Thursday, June 12, 2014

Wig Produksi Kota Banjar Incaran Selebritis Dunia

12/06/2014 0 Comments

Pekerja PT. Sung Chang Cabang Kota Banjar, tampak tengah mengerjakan proses awal pembuatan rambut palsu. Pekerjaan tersebut memerlukan ketelitian dan keuletan. Foto: Eva Latifah
Banjar, (harapanrakyat.com)

Siapa sangka rambut palsu/wig yang biasa dipakai oleh selebritis tanah air maupun mancanegara, proses awalnya diproduksi di Kota Banjar.

Industri rambut palsu/wig mulai muncul di Kota Banjar pada tahun 2003. Lokasi industri wig itu tepatnya di Jl. Husen Kartasasmita, No. 212, Dusun Warung Buah, RT. 26, RW. 13, Desa Neglasari, Kecamatan Banjar, di dirikan oleh PT. Sung Chang Indonesia.

Namun, kala itu pekerjanya masih dalam tahap pelatihan. Jumlahnya pun kurang dari 100 orang, dan tempat yang digunakan masih mengontrak di Aula Desa Situbatu, Kecamatan Banjar.
PT Sung Chang Indonesia, dikenal sebagai perusahaan rambut palsu terbesar di Purbalingga, dan mungkin juga di Jawa Tengah dan Indonesia.

Selain mempunyai 2 pabrik di Purbalingga, PMA Korea Selatan ini, membuka cabangnya di Kota Banjar, Jawa Barat, dan Wates, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta.
Pabrik pembuat rambut palsu ini mulai beroperasi dan menempati bangunan pabrik milik PT. Sung Chang sendiri pada bulan Maret 2011.

Menurut Bagian Personalia PT. Sung Chang Indonesia Cabang Kota Banjar, Ugi Suhara, alasan dipilihnya Banjar sebagai lokasi pabrik PT. Sung Chang untuk wilayah Priangan Timur, lantaran Upah Minimum Kota (UMK) di Banjar relatif terjangkau nilai investasi.

“Sebelumnya sudah survey ke Tasik dan Ciamis. Tadinya mau di Ciamis, cuma lebih cocok di Banjar,” ujar Ugi, kepada HR, Senin (09/06/2014).

Saat ini jumlah pekerja telah mencapai 530 orang, dan sebagian besar merupakan kaum perempuan. Mereka berasal dari daerah sekitar, namun banyak pula pekerja yang berasal dari luar Banjar, seperti Cimaragas, Cisaga, dan Pamarican, Kab. Ciamis.

Pembuatan wig di PT. Sung Chang Indonesia Cabang Kota Banjar ini hanya knetting, atau proses paling awal. Sehingga, dalam pengerjaannya membutuhkan keuletan, ketelitian dan ketekunan, karena dikerjakan secara manual dari jam 07.30-15.30 WIB.

Perempuan dianggap lebih teliti dan tekun, agar hasil yang diperoleh bisa sempurna. Sedangkan proses finishing dikerjakan di pabrik pusat, yakni di Purbalingga.

Adapun alat-alat yang digunakan yaitu patung kepala terbuat dari kayu, jaring, jarum dan stik, yaitu alat untuk mengikat rambut. Bahan bakunya menggunakan berupa rambut sintetis diimpor dari Jepang dan Korea.

Dalam satu minggu pengiriman dilakukan dua kali, yaitu setiap hari Rabu dan Sabtu. Saat ini, seluruh pabrik Sung Chang memproduksi sekitar 1,4 juta wig per-tahun, kebanyakan diekspor ke AS, Kanada, dan Prancis. (Eva Latifah/Koran HR)

Monday, June 2, 2014

Bulu Mata Purbalingga Menyihir Dunia

Senin, 2 Juni 2014 | 15:18 WIB

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/06/02/1518008/Bulu.Mata.Purbalingga.Menyihir.Dunia


Proses pembuatan bulu mata di pabrik Best Lady, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Rabu (6/5/2014).

KOMPAS.com - Tak ada yang menyangkal lentik bulu mata bintang pop dunia seperti Madonna dan Katy Perry telah menyihir dunia. Begitu juga mata Olga Lydia dan gadis-gadis Cherrybelle. Kelentikan itu diproduksi di kota kecil Purbalingga, Jawa Tengah.

Bulu mata palsu, bagi presenter Olga Lydia, merupakan elemen penting penampilan. Tanpa bulu mata palsu, dia merasa ada sesuatu yang kurang. Olga mengenal bulu mata palsu sejak terjun ke dunia model. Bagi dia, bulu mata palsu membantu meminimalkan kekurangannya. ”Bulu mata saya, kan, kurang banyak, jadi harus dibantu dengan menggunakan bulu mata palsu,” ujarnya.

Meski begitu, tidak mudah menemukan bulu mata palsu yang sesuai dengan keinginannya. Beberapa syarat bulu mata yang pas bagi Olga adalah ringan, nyaman dipakai, dan dapat digunakan dalam setiap kesempatan, baik siang maupun malam.

”Kadang memakai bulu mata palsu bisa membuat mata merah. Apalagi kadang ada yang sampai harus didobel-dobel segala pakainya, jadinya berat. Akibatnya, mata menjadi merah,” kata Olga.

Bulu mata palsu yang seperti itu sangat dihindari oleh Olga. Sebab, meski memakai bulu mata palsu, dia ingin tetap dapat membaca buku dengan durasi yang cukup lama. ”Kalau bulu matanya berat, mau berlama-lama membaca jadi susah,” ujar Olga.

Begitu pula bagi presenter televisi Hilyani Hidranto, bulu mata merupakan elemen penting penampilan, terutama saat dia muncul di layar kaca. ”Bulu mata saya sudah cukup panjang, sih. Namun, jika untuk keperluan shooting, tetap perlu memakai bulu mata palsu. Jadi, kelihatannya lebih ngoook gitu. Maksudnya, lebih kelihatan di kamera,” ujar Pemenang Wajah Femina tahun 2007 ini seraya terkekeh.

Menghidupi rakyat

Bulu mata palsu menghidupi ribuan warga Purbalingga. Salah satunya adalah Khotik (36). Ini adalah pekerjaan yang rumit. Saat ditemui Kompas, Kothik sedang mencabut tiga helai rambut dari kumpulan potongan rambut yang terbungkus kertas. Ia lalu menekuk ketiga helai rambut itu dan memegangnya dengan tangan kiri. Dengan bantuan alat di tangan kanannya, rambut itu dipasang pada seutas benang yang ujung-ujungnya terikat dengan paku. Dengan gerakan sigap, ketiga helai rambut itu sudah terikat dalam satu simpul di benang tersebut.

Gerakan-gerakan ini ia ulangi sambil mengatur jarak antarsimpul. Dalam jarak 1 sentimeter (cm), ia harus memasang 30 simpul rambut di benang. Total ia harus memenuhi jarak 3,3 cm dengan simpul-simpul rambut sebagai cikal bakal bulu mata. Pekerjaan yang terkesan sederhana, tetapi sebenarnya tidak mudah dilakukan, terutama bagi pekerja baru.

Ini baru satu tahap. Ada lebih dari 10 tahapan untuk membuat sepasang bulu mata, mulai dari membersihkan rambut, menyortir, mewarnai, menautkan, memotong, melentikkan, membentuk, hingga mengepak. Sebagian besar dikerjakan oleh perempuan, baik di pabrik maupun rumah-rumah dalam konsep plasma yang tersebar di Purbalingga.

Siti (45), warga Desa Limbangan, Kecamatan Kutasari, kebagian pekerjaan menggunting bakal bulu mata. Simpul-simpul yang telah tersusun kemudian dibentuk dengan cara menggunting satu demi satu helai rambut. Misalnya, jika dalam satu simpul terdiri atas lima helai, Siti akan menggunting helai pertama
dan kelima seperempat helai teratas yang panjangnya 1 cm. Helai kedua dan kelima dipotong
separuhnya. Helai ketiga dibiarkan. Ada ratusan model dan bentuk dalam dunia bulu mata palsu.
Upah

Khotik, yang tinggal di Desa Pengadegan, Kecamatan Pengadegan, mendapat upah Rp 333 untuk setiap bulu mata yang dibuatnya, sementara Siti menerima upah Rp 285 per buah. Ini jika pekerjaan keduanya dianggap sempurna. Jika tidak, bulu mata harus diperbaiki atau mereka tidak dibayar.

Jika tingkat kesulitan lebih tinggi, pekerjaannya dihargai sedikit lebih mahal. Namun, bukan berarti keduanya lalu giat mengejar setoran. ”Kalau dulu bisa kerja sampai pukul 22.00, sekarang mblenger, empat jam juga sudah berhenti,” kata Khotik yang mulai membuat bulu mata sejak 18 tahun lalu.

Ada ribuan perempuan lain di Purbalingga yang menggerakkan roda usaha bulu mata, baik skala rumahan maupun pabrik. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Purbalingga mencatat, ada 33 industri bulu mata palsu di Purbalingga dengan 18 industri di antaranya adalah usaha penanaman modal asing. Ini ditambah ratusan plasma yang bekerja sama dengan industri besar. Tidak kurang 50.000 tenaga kerja lokal terserap ke sektor ini.

”Bicara bulu mata, hampir semua yang beredar di Amerika Serikat, Eropa, hingga Afrika berasal dari Purbalingga meski kemudian diberi merek oleh perusahaan rekanan di sana,” ujar Audrie Sukoco, Presiden Direktur PT Bintang Mas Triyasa (BMT), pabrik bulu mata di Kelurahan Mewek, Kecamatan Purbalingga.

Tidak heran jika produk bulu mata tiruan dari Purbalingga tidak hanya dipakai selebritas Indonesia, tetapi juga artis-artis Hollywood, mulai dari generasi Madonna hingga Katy Perry. Artis yang terakhir ini menggunakan produk Eyelure, varian produk PT Royal Korindah, perusahaan bulu mata tertua di Purbalingga.

Banyak produsen kecantikan dunia juga menggunakan produk yang dihasilkan tangan-tangan cekatan perempuan Purbalingga, di antaranya L’OrĂ©al, Shu Uemura, MAC, Kiss, Make Up For Ever, dan Maybelline. Industri bulu mata di Purbalingga disebut-sebut hanya kalah besar dari industri sejenis di Guangzhou, Tiongkok.

Namun, untuk bulu mata berbahan baku rambut manusia, menurut sepengetahuan pemilik pabrik bulu mata PT Shinhan Creatindo, Yuni Susanawati, produk jenis itu hanya dihasilkan oleh Indonesia. Tiongkok hanya memproduksi bulu mata tiruan sintetis. Demikian pula produsen lain seperti Vietnam.

Dalam sebulan, rata-rata

10 juta pasang bulu mata tiruan dari Purbalingga dikirim ke seluruh penjuru dunia, seperti tercatat pada 2010. Nilai ekspornya pada tahun itu mencapai Rp 851,01 miliar. Kebutuhan pasar luar negeri sangat besar karena penggunaan bulu mata di sana menjadi kebutuhan sehari-hari.

Sayangnya, di dalam negeri pasar bulu mata belum begitu berkembang. Ini salah satu alasan BMT membangun merek sendiri dan menggandeng sejumlah artis terkemuka sebagai duta produknya, seperti Olga Lidya, Syahrini, dan Cherrybelle. Mereka ingin mengedukasi masyarakat tentang penggunaan bulu mata. Meski demikian, pendapatan utama BMT masih berasal dari ekspor ke sejumlah negara yang mencapai satu juta pasang per bulan. Semuanya dalam kemasan tanpa merek. Hal itu dilakukan hampir semua perusahaan lain.
Industri

Industri bulu mata mulai muncul di Purbalingga dengan kehadiran PT Royal Korindah (dulu Royal Kenny) pada 1967. Sang pemilik usaha, Hyung Sang Lee, memindahkan usaha bulu mata dari negaranya, Korea Selatan (Korsel), karena semakin ketatnya persaingan dan sulitnya mencari tenaga terampil.

Kesuksesan Royal Korindah diikuti berdirinya pabrik-pabrik baru yang dimiliki pengusaha Korsel lainnya. Pendirian itu mengajak mitra yang di kemudian hari membuka usaha sendiri. Pada tahun 2000-an, perusahaan lokal mulai berdiri.

”Pada tahun 1970-an, Purbalingga sudah dikenal dengan kerajinan berbahan baku rambut, seperti rambut sanggul. Selain itu, orang di sini juga dikenal tekun, sabar, teliti, dan terampil,” kata Budi Wibowo (54), pengusaha bulu mata lokal.

Uniknya, meski bulu mata palsu Purbalingga telah mendunia, para perempuan pembuatnya belum tentu ikut memakainya. Bahkan, tidak sedikit yang tidak mengetahui wujud jadi bulu mata tiruan. ”Jangankan pakai bulu mata palsu, lihat jadinya saja belum pernah,” kata Khotik terkikik.

Saturday, March 8, 2014

Hingga Februari, Rp 32,456 M Investasi Masuk Purbalingga

Sabtu, 08 Maret 2014

http://www.purbalingganews.net/index.php/purbalingga-news/577-hingga-februari,-rp-32,456-m-investasi-masuk-purbalingga


Empat Perusahaan Kantongi Rekomendasi BKPRD

PURBALINGGA, (PurbalinggaNews)  - Hingga akhir Februari lalu, tercacat sudah Rp 32,456 miliar nilai investasi yang masuk ke Kabupaten Purbalingga. Hal itu, diungkapkan oleh Kantor Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu (KPMPT), Mukodam  ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.
"Investasi tersebut berasal dari 73 unit perusahaan. Yang terdiri dari dua industri, 57 perusahanan perdagangan dan 14 perusahaan jasa," jelasnya.

Mukodam  menambahkan, tahun ini, KPMPT memiliki target investasi sebesar Rp 213,119 miliar. Target tersebut didasarkan atas pencapaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diraih KPMPT tahun lalu.

Selain investasi yang masuk tersebut, hingga saat ini, KPMPT juga mencacat sudah ada empat perusahaan yang mendapatkan rekomendasi untuk beroperasi di Kabupaten Purbalingga dari Badan Koordinasi Penataan ruang daerah (BKPRD).

Perusahaan tersebut adalah PT Agrobuana Utama Lestari, yang bergerak di bidang fresh dan froozen chicken food, dengan nilai investasi Rp 7,8 miliar. PT Janu Putra Sejahtera, yang bergerak pada pembibitan ayam di Desa Grantung, Kecamatan karangmoncol, dengan nilai investasi yang belum diketahui.

PT Sentra Sarana Pancing, yang akan dibangun di Desa Jetis, Kecamatan Kemangkon dan perluasan pabrik PT Shopian Indonesia. Kedua perusahaan ini, juga masih belum diketahui berapa nilai investasinya.

Menurut Mukodam, diperkirakan empat perusahaan yang akan berdiri di Purbalingga tersebut bakal menampung lebih dari seribu pekerja. Diharapkan perusahaan tersebut bisa menampung pekerja laki-laki. Sebba, selama ini lapangan kerja untuk laki-laki di Purbalingga masih minim.

Sementara itu, dari data yang ada di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Purbalingga, hingga kemarin, tercatat 1.860 pencari kerja. Hal itu, sesuai dengan data pemohon kartu kuning di kantor Dinsosnakertrans Purbalingga. JUmlah pencari kerja tersebut terdiri dari 688 laki-laki dan 1.172 wanita. (Humas/Hr)

Wednesday, May 1, 2013

Pelajar SMP di Purbalingga jadi buruh demi keluarga

Rabu, 1 Mei 2013

http://www.merdeka.com/peristiwa/pelajar-smp-di-purbalingga-jadi-buruh-demi-keluarga.html


Merdeka.com - Pengorbanan Indah Sari (17), pelajar kelas IX Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, luar biasa. Ia terpaksa bekerja sambilan sebagai buruh plasma perusahaan rambut palsu demi memenuhi kebutuhan keluarga.

"Saya bersekolah sambil bekerja sejak lima tahun lalu karena uang kiriman dari kakak yang bekerja di Kalimantan tidak mencukupi kebutuhan keluarga," kata Indah saat ditemui Antara di rumahnya, Desa Penusupan RT 01 RW 09, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Selasa (30/4).

Menurutnya, kakaknya bernama Tanto Purnomo (23) bekerja di sebuah bengkel di Kalimantan sejak lima tahun lalu. Tiap bulan mengirimkan uang sebesar Rp 300 ribu dan harus dipotong sebesar Rp 100 ribu untuk membayar utang ibunda mereka, Tarmini (45), kepada seseorang.

Padahal, uang sebesar itu harus mencukupi kebutuhan Tarmini bersama Indah dan adik-adiknya, Supriyani Astuti (15) dan Juliah (13) yang masih duduk di bangku kelas VII SMPN 4 Rembang, serta Sayang yang masih berusia lima tahun.

Sementara Tarmini mengalami depresi sejak kelahiran Sayang akibat kondisi ekonomi keluarga sangat terbatas karena suaminya, Warsito, sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal dunia pada akhir 2012. Warsito yang menjadi juru kunci Petilasan Ardi Lawet ini menderita komplikasi berbagai penyakit dalam seperti paru-paru dan jantung.

"Saya harus menyiapkan makan untuk keluarga sebelum bekerja merangkai bulu mata palsu. Penghasilan saya rata-rata sebesar Rp 150 ribu per bulan, lumayan untuk menambah biaya kebutuhan rumah karena biaya sekolah gratis," kata Indah yang bercita-cita menjadi atlet bulu tangkis.

Pekerjaan itu dia kerjakan di rumahnya yang terbuat dari papan dan berlantaikan tanah. Kadang kedua adiknya, Supriyani Astuti dan Juliah, turut membantu menyelesaikan pekerjaan membuat bulu mata palsu itu setelah mereka belajar.

Indah yang ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan mengambil jurusan Akuntansi, mengaku menghadapi dilema karena lokasi SMK terdekat berada di Kecamatan Bobotsari yang berjarak sekitar 25 kilometer. Dengan demikian, dia akan kesulitan mengatur waktu antara belajar dengan bekerja.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kedua adiknya harus bekerja sambil bersekolah guna memenuhi kebutuhan keluarga. "Saya ingin bersekolah lebih tinggi," katanya.

Meski sambil bekerja. Indah tidak lupa belajar tiap harinya. Hal itu terlihat dari prestasinya di sekolah. Menurut salah seorang guru Bimbingan Konseling SMPN 4 Rembang, Sri Supriyatiningsih, Indah dan adik-adiknya merupakan siswi berprestasi. Indah menempati peringkat keenam dan Juliah peringkat kelima di kelasnya, sedangkan Supriyani Astuti memiliki prestasi di bidang olahraga dan pernah mendapat beasiswa karena meraih juara II kejuaraan tenis meja tingkat kabupaten.

"Kehidupan sehari-hari keluarga ini memang memprihatinkan. Kalau masak seringnya malam hari, kadang mereka makan hanya sekali dalam sehari," katanya.

Nasib yang dialami oleh Indah menggugah simpati guru SMPN 4. Terkadang, para guru menyisikan rezekinya untuk membantu keluarga Indah.

Sementara itu, Kepala SMPN 4 Rembang Sumarmo mengatakan bahwa pihaknya berupaya mencarikan informasi SMK yang mau menampung anak-anak berprestasi namun memiliki keterbatasan ekonomi. "Ada tawaran dari salah satu SMK di Bobotsari, anak-anak bisa ditampung di asrama. Bahkan, masalah ekonomi dan pendidikan bisa ditanggung," katanya.

Friday, February 15, 2013

Buruh Pabrik Wig Korea Diperlakukan Tidak Manusiawi

Jumat, 15 Februari 2013

http://regional.kompas.com/read/2013/02/15/10513719/Buruh.Pabrik.Wig.Korea.Diperlakukan.Tidak.Manusiawi


PURBALINGGA, KOMPAS.com — Buruh pabrik rambut palsu PT Sung Chang, Purbalingga, Jawa Tengah, yang mogok kerja pada Jumat (15/2/2013) merasa diperlakukan kasar. Mereka tidak terima perlakuan dari pimpinan perusahaan asal Korea Selatan tersebut yang tidak manusiawi.

Iis (27), salah satu buruh, mengaku sering dimaki dengan kata-kata kasar. "Kami dibentak-bentak dengan kata-kata kasar. Bahkan, ada yang sampai dibilang bahwa orang Indonesia tidak punya otak," ujarnya.

Eko (32), buruh lain, mengaku, jika sakit, buruh selalu dipersulit. Kadang-kadang bahkan ada yang surat keterangan sakitnya ditolak.

Menurut dia, kata-kata yang diucapkan Mr Dae, yang merupakan anak dari Mr Kim Dae Keun, sangat merendahkan. Untuk itu, para buruh menuntut dia untuk minta maaf secara terbuka.

Hingga kini, ribuan buruh pabrik PT Sung Chang masih mogok kerja. Mereka hanya duduk-duduk di halaman pabrik. Aktivitas pabrik pun lumpuh.

Sunday, October 14, 2012

Tinggi, Kebutuhan Tenaga Kerja Rambut Palsu di Purbalingga

PURBALINGGA, suaramerdeka.com - Kebutuhan tenaga kerja, utamanya pada perusahaan rambut palsu di Kabupaten Purbalingga tinggi. Hampir setiap hari perusahaan itu membuka lowongan pekerjaan yang jumlahnya sampai ribuan orang.

Manajer Human Resources Development (HRD) PT. Yuro Mustika Purbalingga, Esti mengatakan, tingginya kebutuhan tenaga kerja di Purbalingga menyusul permintaan rambut palsu bekalangan ini meningkat. Apalagi produksi rambut dan bulu mata palsu sebagian besar dikerjakan dengan tenaga manusia.

"Sekarang ini hampir semua perusahaan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah banyak untuk mendukung proses produksi," katanya.

Selain itu, sambung dia, tingginya kebutuhan tenaga kerja lantaran jumlah pabrik rambut di Purbalingga semakin banyak. "Saya memang tidak mengetahui jumlah pastinya, tapi kalau lihat di lapangan banyak perusahaan rambut dan bulu mata palsu yang baru berdiri. Perusahaan itu tentu membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit," ujar dia.

Ketua Forum Komunikasi Perusahaan Rambut dan Bulu Mata Palsu Purbalingga, Rocky Djungdjungan juga mengemukakan, besarnya kebutuhan tenaga kerja pada perusahaan rambut dan bulu mata palsu dipengaruhi tingginya tingkat keluar masuk pekerja.

"Di sini hampir setiap hari ada pekerja masuk maupun keluar dari perusahaan. Pekerja merasa tidak takut menganggur karena banyak alternatif perusahaan serupa yang masih membuka lowongan kerja," katanya.

Pekerja yang mendaftar maupun keluar dari perusahaan juga tidak hanya dari Purbalingga saja. Sekarang ini pekerja dari luar kabupaten jumlahnya banyak. Adapun jumlah perusahaan yang tercatat pada forum komunikasi perusahaan rambut dan bulu mata palsu 26 perusahaan. "Kalau dipersentasikan jumlahnya sekarang 60 persen pekerja Purbalingga dan 40 persen dari luar kabupaten," ujar dia.

Dikatakan Rocky, guna meningkatkan proses produksi tidak jarang perusahaan yang menerapkan jam lembur kerja. Sementara berdasarkan data dari profil perkembangan investasi Purbalingga investasi, ada dua hal yang diindikasikan menjadi faktor utama maraknya PMA asal Korea membangun industri rambut dan bulu mata palsu.

Pertama, Purbalingga sejak tahun 1960 sudah menjadi sentra kerajinan rambut. Kedua iklim investasi di Purbalingga dianggap cukup mendukung perkembangan investasi asing.

( Puji Purwanto / CN26 / JBSM )

Tuesday, October 2, 2012

Wig SCI diminati pasar luar negeri

Selasa,  2 Oktober 2012  −  13:45 WIB

http://ekbis.sindonews.com/read/676288/34/wig-sci-diminati-pasar-luar-negeri-1349160312


Sindonews.com - Rambut palsu (wig) produksi PT Sung Chang Indonesia (SCI) Kulonprogo cukup dimiati pasar luar negeri. PT SCI, saat ini kewalahan memenuhi permintaan pasar. Pasca permasalahan internal dengan karyawan, SCI telah berbanah.

Vice President PT SCI, Chou Hyong Choe mengatakan konflik dengan karyawan beberapa waktu lalu, berdampak terhadap produksi rambut palsunya.

Saat itu banyak buruh yang mundur, dan hanya menyisakan sekitar 1.500 orang saja. Padahal wig buatan SCI banyak diminati pasar Eropa, Amerika dan Jepang.

“Permintaan banyak tetapi kita sulit memenuhinya,” jelas Chou di Kulonprogo, Selasa (2/10/2012).

Menurutnya, ketika memiliki buruh 2.500 orang, produksi wig dari SCI bisa mencapai 85 ribu piece per bulannya. Namun karena ada konflik produksi menurun dan hanya 25 ribu piece saja.

Kini perusahaan terus melakukan pendekatan dengan karyawan dan mampu meningkatkan produksinya. “Sekarang produksi kita sudah kembali ke angka 50 ribuan,” tuturnya.

Chou mengakui, permasalahan ketenagakerjaan telah menjadi elemen penting dalam produksi. Untuk itulah dia melakukan perbaikan terhadap managemen karyawan. Termasuk penambahan berbagai sarana, sistem pengupahan hingga komunikasi dengan buruh.

PT SCI sendiri, masih membuka kesempatan kerja bagi calon buruh. Mereka bisa mengikuti masa magang selama tiga bulan. Selebihnya akan dipehritungkan sebagai buruh, dengan melihat kemampuan dalam memproduksi wig.

“Komunikasi bipartite, kita maksimalkan dengan menyediakan ruangan khusus agar masalah buruh bisa kita dengar,” terangnya.

(gpr)